Lomba Blog

Memesona Itu: Rumah Tangga Harmonis, Bisnis Laris Manis

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” – QS. An Nur: 32

 

“Ya udah, Aa memang banyak kekurangannya, banyak bikin kecewa..” suara napasnya menderu, pertanda emosi sudah nyaris mencapai puncak dan sulit dikendalikan, “Gitu kan maksudnya?” Nada suaranya meninggi.

Tak disangka, percakapan menegangkan semacam ini akhirnya terjadi juga di antara kami.

Saya menatap matanya dalam-dalam dengan penuh harapan ia akan mengerti bahwa sama sekali bukan itu maksudnya. Satu detik, dua detik, lelaki itu mulai membenamkan wajah ke dalam dua telapak tangannya. Bahunya berguncang.

Saya mengulurkan tangan, menyentuh salah satu sisi bahu tersebut.

“A.. nggak gitu kok maksud Neng.”

Pelan sekali, saya mencoba menyingkirkan kedua tangannya sebagai tempat ia membenamkan wajah, “Maksudnya.. gimana kalau kita buka bisnis bareng, A? Berdua. Kita mulai lagi semuanya dari nol, sama-sama. Gimana?” Saya mengelus lembut pipinya.

Deru napasnya beranjak stabil. Namun keningnya masih saja berkerut. “Aa kan nggak punya pengalaman bisnis, Neng..” Nada suaranya melemah.

Saya merapatkan posisi duduk, lantas menggenggam kuat-kuat kedua tangannya. Kini tangan kami sempurna menyatu, membentuk sebuah kepalan besar. “A.. kita punya banyak bekal. Kita punya bekal tekad, tanggung jawab, keyakinan, tujuan yang jelas, dan…” Saya menatap tepat ke matanya “.. kekompakkan sebagai sepasang suami istri. Ini bekal yang mahal, ya kan A?” Mata saya mendadak basah, tak kuasa lagi menahan.

Hening sejenak menjeda percakapan kami.

Tiba-tiba ia merentangkan kedua tangannya lebar. Dan tanpa instruksi, saya pun menghambur lembut ke dalam rengkuhannya. Malam itu, empat dinding kamar kami menjadi saksi bisu atas momentum luar biasa dahsyat antara saya dan suami yang kala itu, baru memasuki usia pernikahan 6 bulan. Kami menangis bersama, saling meminta maaf atas segala khilaf baik dalam bentuk kata maupun perbuatan, kemudian sama-sama berkomitmen untuk mengambil langkah yang belum pernah kami tempuh sebelumnya, yaitu: berbisnis bersama.

***

 

Saya percaya, segala sesuatu hal di dunia ini saling terhubung satu sama lain. Termasuk antara kualitas relationship suami istri, dengan nilai keberkahan dan keberlimpahan rezeki atas mereka. Ya setidaknya.. itulah yang sering saya baca dari buku-buku dan seminar motivasi bisnis favorit saya.

Oh iya, perkenalkan.. nama saya Febrianti, titik. Namun sejak terjun ke dunia menulis di tahun 2012 sebagai seorang blogger dan penulis buku, saya lebih dikenal dengan nama pena: Febrianti Almeera. Kata ‘Almeera’ sendiri sebetulnya saya temukan secara tidak sengaja dikala masih jadi ABG-galau, dimana kata tersebut saya sematkan di belakang nama asli sebagai sebuah doa, semoga saya bisa betul-betul memiliki karakter sesuai nama Almeera, yaitu: perempuan tangguh (yang jika ia jatuh.. selalu berani bangkit lagi). Kegalauan masa itu pun berangsur hilang, karena malu sama nama, hehehe.

Waktu berlalu begitu cepat. Tepat saat pergantian usia saya menuju 25 tahun di tanggal 26 Februari 2016 lalu, seorang pemuda sederhana mantap mengikrarkan janji setianya dalam momentum sakral akad nikah, dan sempurna mengambil alih tanggung jawab atas diri saya sebagai istrinya. Mengambil alih kepatuhan utama saya pada kedua orangtua, menjadi kepatuhan pada dirinya. Tentu setelah kepatuhan pada Sang Pencipta.

Kang Ulum, begitu panggilan akrabnya. Kami bertemu di sebuah komunitas bernama Akademi Trainer chapter Bandung, karena kami sama-sama seorang trainer yang berdomisili di kota Bandung. Beliau biasa membawakan materi-materi di bidang Pengambilan Keputusan, sedangkan saya di bidang Pengembangan Diri Muslimah Hijrah.

Jadi begitulah, kami berdua memang sudah kenal sebelumnya, berteman, lantas memutuskan untuk menikah dalam proses yang sederhana dan relatif singkat. Alhamdulillah.. Allah mudahkan dan lancarkan.

Perjalanan pernikahan di alam nyata tak seindah kisah cinta para Princess di alam Disney rupanya benar. Tak ada tuh yang namanya proses berrumah tangga otomatis  Happily Ever After. Sebab ini bukanlah negeri dongeng. Ini kehidupan nyata yang butuh tujuan sebagai arah melaju, dan komitmen untuk terus bergerak mengikuti arah tujuan tersebut. Dan semua itu bukanlah sebuah perjuangan yang mudah.

Seperti yang terjadi pada saya dan suami. Usai menjalani masa bulan madu yang manis, datanglah masa bulan bawang yang mengiris. Masa-masa awal bergenggaman tangan yang romantis, berganti dengan masa-masa bergenggaman tangan yang dramatis, “A.. bayar listrik gimana? Beli beras gimana? Ngasih ke orang tua gimana?”

Jadi ceritanya.. sesaat sebelum menikah, suami memutuskan untuk resign dari sebuah lembaga penyedia jasa training tempatnya bekerja karena faktor ketidaknyamanan yang bersifat sangat personal. Berbekal keyakinan bahwa jalan rezeki tidak hanya berasal dari satu pintu, maka saya memutuskan untuk percaya pada keputusannya dan terus menyemangati. Hanya saja.. semua tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Itulah ujian fase awal pernikahan kami, ujian ekonomi.

Tentu ujian yang berskala duniawi seperti ini rasa-rasanya malu kalau harus dikhawatirkan. Namun ujian ini jadi terasa sangat urgent untuk dihadapi dan dicarikan jalan keluar karena rupanya.. memiliki potensi untuk menggoyahkan keimanan. Tentu kalau sudah demikian, pantaslah sudah untuk dikhawatirkan.

***

 

Melalui perjalanan panjang mencoba peruntungan di dunia perniagaan, maka tepat di tanggal 22 Agustus 2016 (usia pernikahan 6 bulan), kami mulai membangun brand premium moslem wear bernama: ALMEERA®. Nama yang lagi-lagi terpilih dengan harapan supaya menjadi doa. Sebuah langkah sederhana nan berani, yang sangat kami yakini bahwa jika dijalani berdua (oleh suami dan istri), dan dengan niat yang baik, insyaAllah akan jadi bukti keseriusan kami di hadapan-Nya.

Terlepas dari apapun hasilnya nanti, yang penting kami mulai bergerak. Karena HASIL adalah wilayah Allah, sedangkan wilayah kami adalah wilayah IKHTIAR. Bahasa kami: bisnis modal tawakkal.

Setidaknya.. saya sendiri pernah punya pengalaman bisnis di masa mahasiswi dulu. Meski gulung tikar semua, tapi pengalaman tetaplah pengalaman, ia tetap GURU TERBAIK yang amat mahal harganya. Salah satu pelajaran dari kegagalan tersebut adalah: jangan sampai saya mengulanginya lagi di bisnis kali ini. Bukan apa-apa, soalnya kebutuhan hidup sudah melambai-lambai (baca: siap menerkam).

Alhasil sebelum produk dan brand di-launching, kami menempuh proses menimba ilmu terlebih dahulu melalui beberapa cara, diantaranya: membaca buku-buku, konsultasi ke rekan trainer yang expert di bidang pemasaran online, uji produk, tes market, baru lah persiapan tanggal untuk release.

Alhamdulillaaah.. menurut salah seorang expert bisnis, saat launching-nya, brand ALMEERA® memenuhi kriteria sebagai bisnis yang BuLaLa alias Buka Langsung Laris karena produk tepat sasaran, mengenai market yang membutuhkan.

Media pemasaran secara online melalui instagram dan website yang kami gunakan pun, selain sangat membantu para pemula seperti kami untuk meminimalisir biaya, juga efektif dalam menjangkau pasar yang luas, yang tidak terjangkau jika hanya mengandalkan sistem pemasaran offline saja. Alhamdulillah segala langkah yang tepat ini bagaikan danau penuh air di gurun pasir yang gersang. Karunia dari-Nya.

Hingga saat ini, bisnis inilah yang menjadi salah satu pembuka pintu rezeki saya dan suami. Bermula dari hanya berdua saja, kini alhamdulillah sudah ada 5 orang tim internal dan 3 orang penjahit khusus yang bekerja di bawah naungan brand ALMEERA®. Bismillah.. semoga senantiasa terjaga untuk terus tumbuh dan membesar, supaya bisa semakin luas menebar manfaat.

Di bulan ke-7 pernikahan, tepat setelah 1 bulan brand ALMEERA® di-release, saya dan suami lagi-lagi mendapatkan kejutan dari-Nya. Bedanya, kejutan kali ini berupa dua buah garis merah seperti ini.

Agak lucu sebetulnya. Munculnya dua garis merah itu terjadi sesaat setelah kami agak berkonflik. Belum juga sempat berdamai, tiba-tiba saya merasa ingin buang air kecil. Dan entah kenapa, kok rasanya ingin sambil bawa testpack untuk cek iseng-iseng. Padahal saat itu, saya sedang tidak berharap hamil juga. Biasa-biasa saja. Eh ternyata.. yang tak diduga justru muncul. Hasilnya memperlihatkan dua buah garis merah, pertanda saya positif hamil! Duuuh bingungnya. Lagi marahan, tapi harus memberi tahu berita bahagia. Awkward pokoknya, hehehe.

Tapi akhirnya.. dua garis merah itulah yang mendamaikan kami dan spontan membuat kami menangis bersama, sekaligus bertekad untuk tidak saling marahan lagi. Malu.. sudah mau jadi ayah ibu. Hehehe. InsyaAllah hari perkiraan lahir janin mungil di perut saya ini jatuh di awal bulan Juni 2017. Mohon doanya yaa.

***

 

Sampai saat ini, saya masih tetap meyakini bahwa segala sesuatu hal di dunia ini saling terhubung satu sama lain. Termasuk keterhubungan antara kualitas relationship suami istri, dengan nilai keberkahan dan keberlimpahan rizki atas mereka. Bedanya, jika dulu saya yakin hanya sekadar yakin. Kini, saya yakin karena telah mengalaminya di rumah tangga sendiri dan merasakan bukti nyata keterhubungan itu.

Semakin bertambah-tambahlah keyakinan saya bahwa amat mustahil mengharapkan keberkahan dan keberlimpahan rezeki TANPA memperbaiki kualitas hubungan diri dengan pasangan. Sering bertengkar, saling menyalahkan, hingga kehilangan rasa peduli pada pasangan, sedikit banyaknya PASTI memberikan dampak pada tersumbatnya rezeki atas kehidupan rumah tangga yang sedang dijalani. Begitu pula sebaliknya. Saling mendukung, saling ridho berbagi peran, dan senantiasa melangkah beriringan menuju satu tujuan, PASTI memberikan ketenangan juga rasa cukup atas rezeki yang dikaruniakan kepada pasangan suami istri yang demikian.

Tepatnya ada korelasi positif antara relationship suami istri, dengan keberkahan dan keberlimpahan rezeki. Berbanding lurus. Sehingga.. jika sepasang suami istri memutuskan untuk berbisnis bersama, terlepas dari kejadian apapun yang melatarbelakanginya, amatlah logis ketika rumah tangganya harmonis, bisnisnya sudah pasti laris manis.

Ya, inilah arti memesona bagi saya: kompak dengan pasangan dalam segala keadaan, berjalan beriringan demi mencapai satu tujuan. Sederhananya, #MemesonaItu: rumah tangga harmonis, bisnis laris manis.

 

Febrianti Almeera

Iklan

2 thoughts on “Memesona Itu: Rumah Tangga Harmonis, Bisnis Laris Manis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s