Uncategorized

#NiceHomeWork 6: Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Kali ini rasa-rasanya sayang kalau saya hanya mengisi postingan ini dengan jawaban dari PR kelas online “Matrikulasi Institut Ibu Profesional” saja. Kenapa? Karena materinya baguuuus banget menurut saya. Kebutuhan saya banget. Dan saya juga yakin, materi sebelum PR ini diberikan adalah materi yang juga dibutuhkan oleh setiap perempuan baik yang masih mempersiapkan diri (belum menikah), sudah menikah dan sedang menanti buah hati, atau pun bagi yang sudah menjadi ibu sekalipun.

Gereget beneran deh saya sama materi ini. Banyak jlebnya! Banyak manfaatnya.

Jadi.. spesial untuk postingan kali ini, saya akan menyalin ulang materi tertulis dari kelas online tersebut dengan judul “Ibu Manajer Keluarga Handal”, baru kemudian akan saya tuliskan isi tugas saya. Gimana? Ah, pasti setuju lah saya yakin, hehehe.

Oke kalau begitu, mari kita mulai.
Bismillahirrahmanirrahim..

 

IBU MANAJER KELUARGA HANDAL
Matrikulasi Ibu Profesional sesi #6

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan ibu bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja  yang wajib profesional dalam menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, ternyata memerlukan syarat yang sama, yaitu: kita harus ‘SELESAI’ dengan manajemen rumah tangga kita.

Kita harus merasakan bahwa segala aktivitas di rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga kita yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Pun jika kita memilih bekerja di ranah publik, hal ini tidak lantas menjadikan pekerjaan di publik sebagai pelarian atas ketidakmampuan kerja kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri:
Apakah sebetulnya motivasi kita bekerja?

  • Apakah masih asal kerja demi menggugurkan kewajiban saja?
  • Apakah didasari sebuah kompetisi sehingga selalu ingin bersaing dengan ibu lain atau keluarga lain?
  • Ataulah karena panggilan hati sehingga kita merasa ini adalah bagian dari peran diri sebagai khlaifah Allah di muka bumi?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita. Buktinya akan tampak pada hal-hal berikut ini:

  • Jika kita masih asal kerja, maka yang terjadi adalah kita akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi. Kita kakan menganggap pekerjaan-pekerjaan tersebut sebagai beban, bahkan bisa jadi mencari segala cara untuk lari dari kenyataan.
  • Jika didasari oleh rasa berkompetisi, maka yang terjadi kurang lebih sama. Kita akan merasa stress setiap kali melihat ibu lain atau keluarga lain lebih sukses.
  • Sedangkan jika kita bekerja karena panggilan hati, maka yang terjadi adalah kita akan merasa sangat bergairah dalam menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, kita akan mencari tugas berikutnya dengan rasa bahagia, tanpa mengeluh.

 

Ibu Manajer Keluarga
Peran ibu sejatinya adalah seorang manajer keluarga. Masukkan dulu prinsip ini ke dalam mindset kita.


Saya Manajer Keluarga
Kemudian berpikir dan bersikaplah selayaknya seorang manajer.

  • Hargai diri kita sebagai seorang manajer keluarga. Misal yang paling sederhana: pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas kita sebagai seorang manajer keluarga. Jangan berpenampilan asal-asalan, karena seorang manajer tidak mungkin demikian.
  • Rencanakan segala aktivitas yang akan kita kerjakan baik di ranah domestik (rumah) maupun di ranah publik. Kemudian patuhi rencana yang sudah dibuat tersebut.
  • Buat skala prioritas.
  • Bangun komitmen dan konsistensi dalam menjalankannya.


Menangani Kompleksitas Tantangan
Semua ibu pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di ranah domestik (rumah) maupun di ranah publik (organisasi, tempat kerja). Maka, ada beberapa hal yang perlu kita praktikkan, yaitu:

a. Put First Things First
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Bagi kita, yang utama tentu saja suami dan anak-anak. Maka buatlah perencanaan sesuai dengan skala prioritas tersebut setiap harinya. Jika perlu, aktifkan fitur gadget kita sebagai alat bantu organizer dan reminder kegiatan kita.

b. One Bit At a Time
Apakah itu one bit at a time? Maksudnya adalah:
– Lakukan setahap demi setahap
– Lakukan sekarang
Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. Delegating
Delegasikan tugas yang bisa didelegasikan. Entah itu kepada anak-anak yang sudah lebih besar, atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat, kita adalah manajer. Jadi bukan menyerahkan begitu saja tugas kita kepada orang lain, melainkan kita buat terlebih dahulu panduannya, kemudian kita latih orang lain tersebut, dan biarkan orang lain patuh pada aturan kita.

Latih – percayakan – tingkatkan – latih lagi – percayakan lagi – tingkatkan lagi – dan begitu seterusnya.

Khusus untuk urusan pendidikan anak, karena hal tersebut adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka jika kita memilih untuk mendelegasikan urusan pendidikan anak ini kepada pihak lain, usahakan jadi pilihan yang terakhir. Maksudnya, upayakan dulu segala cara supaya urusan pendidikan anak sebisa mungkin tetap dipegang oleh kita sebagai ibu. Kalaupun ada pihak lain, bisa jadi bentuknya bukanlah delegasi melainkan kolaborasi, dimana kita masih tetap terlibat dalam mendidik anak, karena memang itu tanggung jawab utama kita. Misal dengan cara pihak lain tersebut diberikan training dulu, diajarkan, sehingga sesuai dengan standar dan arahan kita, demi menuju tujuan yang sudah kita bangun bersama suami.

 

Perkembangan Peran
Kadang ada pertanyaan,
“Mengapa saya belum mahir menjadi seorang manajer keluarga padahal rasanya sudah lama menjadi seorang ibu?”

Nah ini menarik. Sebetulnya, jika kita sudah melewati 10.000 jam terbang, seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumah tanggaan. Tapi mengapa masih belum terasa ahli? Tentu bisa jadi.. karena selama ini KITA MASIH SEKADAR MENJADI IBU.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas diri agar tidak sekadar menjadi ibu lagi, antara lain:

  • Jika saat ini kita masih menjadi kasir keluarga, yang setiap suami gajian, kita terima uangnya, kita catat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis sementara gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka apa yang harus kita lakukan untuk mengembangkan diri? TINGKATKAN ILMU KITA DI BIDANG PERENCANAAN KEUANGANsehingga kita tidak hanya menjadi kasir keluarga, melainkan menjadi manajer keuangan keluarga.
  • Jika saat ini kita masih menjadi tukang masak keluarga yang tugasnya memasak keperluan makan keluarga, dan masih sekadar menggugurkan kewajiban saja bahwa ibu itu ya memang sudah seharusnya masak. Tentu hal itu cepat atau lambat akan membuat kita merasa jenuh di dapur. Maka apa yang harus kita lakukan untuk mengembangkan diri? TINGKATKAN ILMU KITA MENGENAI MANAJEMEN GIZI. Sehingga terjadilah perkembangan peran. Misal menu makanan untuk 10 hari ke depan sudah kita rencanakan, bahkan bahan masakannya pun sudah tertata rapi di kulkas sehingga ketika datang waktu masak, semua proses penyediaan makanan berjalan lebih efektif, bahkan seluruh anggota keluarga bisa mewakilkan kita untuk melakukan tugas sebagai tukang masaknya. Apakah peran kita berkembang? Tentu, di saat itu tiba, kita tengah berubah peran dari tukang masak keluarga menjadi manajer gizi keluarga.
  • Jika saat ini kita masih menjadi tukang antar jemput anak ke dan dari sekolahnya, yang nyatanya tidak membuat kita semakin pintar dalam urusan pendidikan anak karena justru aktivitas rutin yang terselip dari agenda antar jemput anak tersebut adalah banyaknya ngobrol tidak jelas arah antar sesama ibu-ibu yang sama-sama sedang jadi tukang antar jemput anak sekolah. Maka apa yang harus kita lakukan untuk mengembangkan diri? TINGKATKAN ILMU KITA MENGENAI PENDIDIKAN ANAK. Sehingga peran kita pun berkembang lagi menjadi manajer pendidikan anak. Anak-anakpun pasti semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan, tidak harus selalu di jalur formal.
  • Lalu cari peran lagi yang saat ini sedang dilakukan, kemudian tingkatkan, tingkatkan, sehingga berkembanglah peran tersebut menjadi peran baru yang lebih profesional.

 

Jangan sampai kita, seorang ibu, yang seharusnya menjadi manajer keluarga handal, justru terbelenggu dengan rutinitas, baik di ranah domestik maupun di ranah publik, sehingga kita lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Jika terjadi demikian, akhirnya yang muncul adalah kita bukannya meningkatkan jam terbang melainkan sebuah pengulangan aktivitas dari hari ke hari. Sehingga kita tertipu, seakan-akan sudah puluhan ratusan atau bahkan ribuan jam, padahal hanya segitu segitu saja, karena satu aktivitas diulang-ulang tanpa adanya peningkatan yang berarti.

Ingatkan pada diri kita, hanya ada 2 pilihan, yaitu: BERUBAH atau KALAH!

Salam Ibu Profesional.
Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional.

 

Nah.. itu tadi materi luar biasa yang saya sebutkan di awal. Materi yang sangat menampar sekaligus sangat bermanfaat, setidaknya bagi saya yang masih sangat sangat junior dalam hal ilmu manajemen kerumah tanggaan. Ssekarang giliran saya mengerjakan PR-nya ya, atau yang biasa disebut juga sebagai NiceHomeWork.

NiceHomeWork #6:
BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL

Sekarang saatnya kita masuk ke dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga handal”. Yang namanya belajar, itu merupakan proses, jadi wajar jika kita tidak langsung berhasil menjadi ibu profesional manajer keluarga handal dalam waktu singkat. Namun tentu saja, hal ini pun jangan dijadikan pembenaran untuk terlampau lama berproses.

Mengapa belajar menjadi manajer keluarga handal ini penting?
Karena hal ini akan mempermudah kita untuk menemukan peran hidup diri kita sendiri, dan semoga bisa jadi bekal untuk juga mendampingi anak-anak dalam menemukan peran hidupnya.

Dari materi yang sudah disampaikan, kita sama-sama tahu bahwa ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita dalam menemukan peran hidup, yaitu RUTINITAS. 

Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai membuat kita merasa sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk berproses menemukan peran diri dan meningkatkan kompetensi.

Maka yuk ikutilah tahapan-tahapan berikut ini:

1. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting dan 3 aktivitas yang paling tidak penting.
Aktivitas paling penting: belajar dan mengajarkan Al Qur’an, melayani suami, menjadi manajer marketing bisnis.
Aktivitas paling tidak penting: leyeh-leyeh, main sosmed tanpa tujuan, tidur lama.

2. Waktu Anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Sejujurnya, peran sebagai manajer marketing bisnis adalah yang paling banyak mengambil porsi waktu sehari-hari, karena bisnis ini adalah bisnis milik saya dan suami, juga saat ini masih dalam fase merintis. Sedang banyak proses tes dan ukurnya. Sambil di sela-sela peran tersebut, saya selalu berusaha menyempatkan diri melayani suami dan mengatur rumah tangga, meski belum terjadwal dengan baik.

3. Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup Anda. Tengok NHW sebelumnya agar selaras.
Siap, bismillah. Ini benar-benar sangat membantu sekaligus menantang saya. Sambil saya menyamakan makna bahwa aktivitas dinamis adalah bukan aktivitas rutinitas, seperti misalnya: beres-beres rumah. Aktivitas dinamis adalah aktivitas-aktivitas yang menunjang perkembangan peran menuju 10.000 jam terbang.

4. Kemudian kumpulkan aktivitas rutinitas menjadi satu waktu, berikan ‘kandang waktu’, dan patuhi cut off time (misal Anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari pk 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut tanpa excuse).
Siap insyaAllah, bismillah.

5. Jangan izinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal harian Anda.
Naaaah.. ini saya banget nih *garukgaruktembok. Berarti selama ini saya suka tanpa sadar, bahkan sering memasukkan agenda yang tidak terencana ke dalam aktivitas keseharian saya, itu karena tidak adanya point no.4 yaitu perencanaan dan kandang waktu. Hiks. Alhamdulillah bersyukur dapat nikmat sadar disini.

6. Setelah tahap di atas selesai Anda tentukan, sekarang buatlah jadwal harian yang paling mudah Anda kerjakan. Contoh: membuat jadwal rutinitas di subuh sampai pk 07.00, lalu jadwal dinamis pk 07.00-19.00, dan setelah waktu tersebut, kembali ke jadwal rutinitas yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7).
Baik, saya butuh waktu untuk merumuskan agenda ini. Penting bangeeet!

7. Amati selama satu pekan pertama, apakah terlaksana dengan baik? Jika tidak, segera revisi! Jika baik, silakan lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Bismillahirrahmanirrahim.. hap hap hap!

Bandung, 5 Maret 2017
Febrianti Almeera

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s