Belajar Jadi Istri · Nice Home Work

#NiceHomeWork 3: Surat Cinta untuk Suamiku

Setelah sempat menjalani proses off gadget handphone selama kurang lebih dua pekan, akhirnya saya memutuskan untuk kembali meluncur ke jagat dunia maya berbekal sebuah komitmen, yaitu: akan menggunakan hp (dan media sosial), HANYA untuk hal-hal yang selaras dengan tujuan saja. Salah satunya: nggak ada lagi scrolling-scrolling timeline media sosial sampai lupa waktu. Sebab kalau nggak begitu, saya pasti akan kena syndrome pusing-pusing bahkan mual lagi akibat over radiasi dari gadget.

Maka ketika hp dinyalakan kembali, lalu tombol connect to internet ditekan, bismillahirrahmanirrahim.. saya langsung meluncur ke aplikasi WhatsApp, dan membuka forum grup Matrikulasi Batch 2 yang dihuni ratusan ibu-ibu dan calon ibu, peserta program.

Scroll-scroll.. mata saya terbelalak.

Walah..  ada hampir 1.000 chat di dalam grup tersebut *tepokjidat. Itu tandanya saya harus manjat untuk benar-benar mendapatkan informasi mengenai perkembangan kelas beserta tugas-tugasnya. Rasanya ingin nangis guling-guling saat itu.

Singkat kisah, akhirnya saya mendapatkan jalan pintas untuk mengetahui apa Nice Home Work ketiga yang harus saya kerjakan pekan tersebut. Baca baca baca.. ternyata eh ternyata, tugasnya adalah: Membuat Surat Cinta Untuk Suami. Kyaaaa.. so excited! 

Mendapatkan tugas membuat surat cinta untuk suami dari program “Matrikulasi Batch 2” yang diselenggarakan oleh Institut Ibu Profesional, sejujurnya, membuat saya happy banget! Maklum.. salah satu profesi saya dan suami yaitu sama-sama penulis. Kami sama-sama menikmati proses menumpah ruahkan perasaan ke dalam bentuk rangkaian literasi. Termasuk ketika hendak mengomunikasikan sesuatu yang romantis terhadap satu sama lain, entah kenapa jadi merasa lebih so sweet aja kalau lewat tulisan. Hihihi.

So, here it is.. a lovely letter for my lovely husband. Bismillahirrahmanirrahim..

 

 

BAGAIMANAPUN, KAU TETAP PANGERAN SURGAKU

Tepat di hari ulangtahunku ke 25 tahun, tepat di saat itu pula kau genapkan separuh agamaku.
Coba.. hadiah mana yang lebih indah dari dihalalkan di hari ulangtahunnya? Begitu katamu menggoda.
Aku, saat itu hanya bisa tertawa kecil. Lantas mendorong bahumu dengan lembut. Manja.
Membenarkan seluruh gurauanmu, bahwa hari itu.. memang akulah wanita paling bahagia yang pernah ada.
Dipinang oleh lelaki mulia, dengan cara yang mulia.
Dan aku menyebutmu: Pangeran Surga.

Kejadian manis itu tak terasa sudah tertinggal 8 bulan lebih di belakang.
Menyisakan amat banyak pengalaman dan pembelajaran berharga yang nyaman untuk dikenang.
Mulai dari bulan madu yang ternyata amat manis rasanya.
Hingga berganti ke bulan bawang (begitu istilah darimu) yang berisi argumentasi, juga air mata penyesuaian diri.
Tapi bagaimanapun, kau tetap Pangeran Surgaku.

Masa-masa awal pernikahan kita pun tak mudah memang.
Masih lekat dalam ingatan, aku dan kamu menghadapi fitnah besar yang bahkan berasal dari orang-orang dekat.
Entah apa pasal.. berita tanpa tabayyun itu menggoncang banyak hal.
Nama baik terancam, kepercayaan nyaris hilang, sampai ranah penghasilan pun terkena imbasnya.
Sungguh, sampai kapanpun.. aku tak akan pernah melupakan saat-saat itu.
Bukan karena pahitnya fitnah yang menerpa, namun lebih kepada pelajaran yang Dia berikan dibalik semuanya.
Masa-masa itu adalah masa yang berat.
Tapi bagaimanapun, kau tetap Pangeran Surgaku.

Aku dan kamu adalah pasangan baru, sama-sama sedang belajar saling mengenal.
Maka kejadian itu membuat aku semakin mengenal karakter aslimu, begitupun sebaliknya.
Betapa bersyukurnya aku diizinkan untuk melihat suamiku begitu tenang menghadapi semuanya.
Tak ada gurat sedih, bahkan tak ada kesan khawatir.
Segala yang sudah terjadi, itu pasti yang terbaik. Allah punya maksud. Kalimatmu itu menguatkanku.

Hingga di suatu magrib, tanpa sengaja aku melihatmu duduk lebih lama di atas sajadah.
Saat kukira engkau sedang tertidur usai berdzikir, samar aku mendengar isak tertahan.
Tak kusangka saat kuhampiri dirimu, kudapati bulir-bulir air mata sedang meleleh di wajahmu.
Bahumu berguncang kecil.
Magrib itu aku akhirnya tahu bahwa kejadian itu pun sebetulnya tak mudah untukmu.
Namun engkau enggan menunjukkannya padaku.
Engkau lebih memilih untuk tampil sebagai lelaki kuat, guna menguatkan istrimu yang sedikit cengeng ini.
Engkau tahu betul aku membutuhkan sosok tegar untuk membuatku merasa semua baik-baik saja.
Dan engkau memainkan peranmu di panggung sandiwara dengan amat terampil kala itu.
Tapi Allah Maha Baik.. istrimu ini diperkenankan untuk menyaksikan perangai asli di balik peran itu.
Aku menemui sisi sensitifmu, sisi dimana engkau bisa tak kuat juga.
Lantas aku menghambur di pelukanmu. Memegang pipimu lembut.
Segala yang sudah terjadi, itu pasti yang terbaik. Allah punya maksud. Aku mengulang kalimatmu.
Kau tersenyum, mengelus lembut kepalaku. Mari kita hadapi berdua, mengandalkan kuasa-Nya.
Aku mengangguk. Airmata, sempurna meleleh di wajah kita berdua.
Malam itu kita sama-sama yakin, Allah tak mungkin tak menyaksikannya.

Kejadian pahit itulah yang justru menghantarkan kita berdua menuju pendewasaan sebagai suami istri.
Semakin kuat, semakin erat, semakin saling menyayangi, dan menghargai.
Kuasa-Nya pun mewujud nyata.
Semua berita keliru itu menemui takdirnya. Perlahan terbuktikan, apa kebenaran sesungguhnya.
Di saat itulah kita berdua jadi benar-benar menggantungkan harap hanya kepada Dzat yang ahad. Allah saja.

Kini kita tak hanya berdua saja.
Sosok janin berusia 10 minggu telah diamanahkan-Nya ke dalam rahimku.
Kau begitu bahagia ketika mendapatkan beritanya untuk pertama kali. Sama sepertiku.
Lagi-lagi siang itu, kau meneteskan air mata. Tak lama lagi akan menjadi orangtua. Haru.

Izinkan kusampaikan padamu pengalaman selama 10 minggu mengandung ini.
Tahukah, aku benar-benar bersyukur pada Allah bersuamikan dirimu.
Kehamilan pertama ini membuatku serba kaget. Kok pusing, kok lemes, kok jerawatan.
Berulang kali kau kuhujani pertanyaan, aku kucel ya, aku makin jelek ya, aku gendutan ya?
Dirimu memilih menanggapiku dengan tawa yang disertai gelengan kepala.
Cantik kok, sayang. Makin cantik malah. Aku tersipu, meski tahu.. sebenarnya kau berbohong saat itu.
Tapi bagaimanapun, lagi-lagi kau tetap Pangeran Surgaku.

Perubahan hormon kehamilan ini membuatmu lemas minta ampun.
Bahkan untuk mandi pun aku tak kuat berdiri. Atau mungkin malas lebih tepatnya.
Lalu jerawat yang sudah kukendalikan sejak perawatan sebelum pernikahan, entah kenapa kembali lagi.
Aku merasa tertelan balik ke masa-masa pubertas lagi.
Jadilah aku menjelma seperti itik buruk rupa rasanya.
Belum ditambah pusing kepala, nggak enak tidur, makanan pilih-pilih.
Ah, aku yakin betul, aku pasti menyusahkanmu di 10 minggu ini. Manja dan menyebalkan.
Aku tahu sayang, kamu jadi lebih sibuk mengurusi bisnis kita tanpaku. Wajahmu menyiratkannya.
Bagaimana tidak, bisnis kita adalah fashion muslimah. Lalu dirimu mendadak harus terjun sendirian di dalamnya.
Istri macam apa aku ini? Hiksss.
Lagi-lagi ketika aku meminta maaf atas keterbatasan kondisi fisikku, kau tersenyum teduh.
Doain aja, semoga Aa bisa. Begitu ucapmu menenangkan.
Sungguh sayang, aku bertanya-tanya pada-Nya, amalku yang manakah yang membuatku dikaruniai suami sepertimu?
Nyatanya bukan amal yang memberiku kebaikan, melainkan kasih sayang-Nya semata.
Kau benar-benar anugerah dari-Nya bagiku.
Membuatku merasa Surga menjadi teramat dekat saat menatap wajahmu, mendengar lisanmu.

Bahkan meski kau pencemburu berat, aku kini sudah mulai memahaminya.
Betapa dirimu begitu memuliakanku.
Tak mau ada celah sedikit pun untukku berbuat keliru. Meski itu hanya sekadar tersentuh tak sengaja.
Kau menunaikan amanah sebagai pemimpinku, bertanggungjawab atas segala perbuatanku.
Kau amat tahu bahwa salah benarnya seorang istri, amat sangat terkait dengan pola didiknya seorang suami.
Aku tahu kau ingin meraih kedudukan tertinggi di hadapan-Nya. Maka dari itu kau mencemburuiku.
Ya begitulah. Bagaimanapun, kau tetap Pangeran Surgaku.

Sampai hari ini aku sudah mendapatkan jawaban dari-Nya atas suatu pertanyaan:
Kenapa seorang muslimah diharuskan menerima pinangan dari lelaki yang baik agamanya terlebih dahulu?
Tanpa kata, Allah menjawabnya melalui kehadiranmu. Nyata.
Membuatku semakin yakin bahwa sungguh.. mapan dan rupawan merupakan urutan kesekian.
Sebab jika kedua insan dipersatukan atas dasar standar-standar yang benar, maka mapan akan menghampiri.
Juga jika sudah saling sayang, maka otomatis sang pasangan akan menjadi sosok paling rupawan tak tertandingi.
Setidaknya, kita berdua sudah membuktikannya.

Sekali lagi terimakasih sayangku, A Ulum.
Bagaimanapun, kau tetap Pangeran Surgaku.
Yang kuharapkan bisa mengendarai bahtera rumah tangga kita, bersama-sama menuju Surga-Nya.

Dari istrimu tercinta,
Febrianti Almeera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s