Nice Home Work

#NiceHomeWork 1: Jurusan Universitas Kehidupan

Lama rasanya sejak terakhir kali jemari ini menari-nari di atas tuts keyboard lappy putih kesayangan, hingga akhirnya hari ini tiba juga. Hari dimana hasrat menuangkan ide keseharian saya menemukan wadahnya kembali. Ya, ide keseharian. Ide-ide yang lebih apa adanya, lebih liar, lebih gue-banget, dan bisa jadi jauh lebih blak-blakan dibandingkan dengan setumpukkan naskah buku yang menemani hari-hari saya selama ini.

Begitulah, sejak menjadi blogger di tahun 2012 silam, tulisan-tulisan saya menemukan  penikmatnya. Siapa sangka? Alhamdulillah.. Tak hanya itu, sudah bukan rahasia lagi bahwa blogger dengan pembaca setia akan mengundang lirikan mata dari para editor penerbitan. Mari kita sebut saja mereka dengan nama Writer Hunter yang hobinya blog walking. Beruntungnya saya, seorang editor senior berpengalaman bernama mas Yadi Saeful Hidayat yang berasal dari sebuah penerbitan besar dan ternama, menemui saya dan mengajukan sebuah penawaran yang bahkan belum pernah masuk list impian saya sama sekali, yaitu: menulis sebuah buku.

Oh, betapa menantangnya tawaran itu! Urusan tulis menulis artikel, itu sudah menjadi makanan sehari-hari saya sebagai seorang blogger. Tapi menulis sebuah buku? Itu berarti menulis puluhan atau bahkan ratusan artikel yang saling kait mengait dalam satu benang merah yang sama. Itu berarti konsistensi saya (yang sangat mudah bosan) diuji. Amat menantang, bukan?

Maka hari dimana sejak saya menganggukkan kepala menyetujui tawaran editor senior itu seketika berubah menjadi hari-hari yang berbeda. Hari-hari dimana saya menjadi sangat bersemangat sekaligus beberapa kali kelelahan dan kurang tidur. Penghujung waktu, saya pun mengalami hal yang semula hanya saya baca di celotehan para penulis, yaitu: deadline. Telepon, sms, e-mail, sampai akun sosial media yang saya miliki terasa seperti penuh teror. Dihantui oleh peringatan yang sama dalam bentuk pertanyaan, “Naskahnya sudah, teh?” Oh help me, please! Mata kuyu, badan ringsek, terakhir mandi 3 hari lalu, kamar acak-acakan, ah.. itu sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa seorang junior penulis seperti saya ini amat kewalahan di awal-awal karir kepenulisan.

Singkat kisah, awal tahun 2013, lahirlah buku pertama saya berjudul Be a Great Muslimah yang dibidani oleh mas Yadi Saeful Hidayat dari Penerbit Mizania. Sebuah pencapaian yang amat membahagiakan. Selalu saja sebanding sebuah nikmat dengan kerja keras yang dilakukan sebelum meraihnya. Tak pernah ia khianat.

Bahkan saat ini, saya sudah tidak hanya menuliskan buku-buku atas nama saya sendiri lagi. Saya beberapa kali menjadi seorang Ghost Writer. Oleh sebuah agensi penulis berpengalaman belasan tahun, saya dibayar cukup tinggi untuk menekuni profesi tersebut. Bertemu dengan beberapa klien yang biasanya merupakan para tokoh penting dengan segudang kisah menarik kehidupannya, meminta agensi untuk mengutus penulis pilihan mereka, dan menuliskan kisah luarbiasa tersebut. Saya, yang baru bergabung beberapa bulan saja, setidaknya sudah menuliskan buku 3 orang klien. Satu, seorang wanita paruh baya, pengusaha busana muslim dengan jejaring pemasaran besar di seluruh Indonesia, meminta agensi untuk menuliskan buku tentang perjalanan bisnisnya dari nol hingga seperti saat ini. Dua, seorang polisi dengan jabatan tinggi, pernah tersandung kasus perselingkuhan dengan seorang artis besar dan ramai menjadi perbincangan media beberapa waktu, namun sudah membersihkan nama dan kini, meminta agensi untuk menuliskan buku tentang jurus jitu masuk akpol tanpa suap. Tiga, dan yang masih dalam penulisan, seorang wanita paruh baya juga, asli Pontianak, dengan masa lalu kelam mengerikan, pernah jadi anak malam, pernah percobaan bunuh diri sampai 3 kali, pernah jadi narapidana, dan segudang kisah nyata lainnya yang kini bertransformasi seratus delapan puluh derajat menyuarakan tentang hijrah, hijrah, hijrah! Ia, meminta agensi menuliskan buku tentang rangkaian perjalanannya itu.

Dengan gambaran singkat ketiga profil klien tadi saja sudah cukup membuat adrenalin berpacu, bukan? Saya mensyukurinya saja, meski saat dalam proses pengerjaan, sejujurnya.. saya lebih sering menyumpah serapahi proses penulisan karena sungguh.. tidak mudah sama sekali. Prosesnya panjang. Ada wawancara, ada pendalaman karakter, proses mendengar rekaman wawancara, proses menuliskan ulang hasil rekaman wawancara, memetakannya berdasarkan bab dan sub bab, baru menulis dengan bumbu dramatisasi, lalu finishing. Ah panjang sekali. Siapapun yang tak berhasrat, pasti sudah stress dibuatnya. Beruntunglah saya menyukai bayarannya yang tinggi. Sehingga cukuplah membungkam kelelahan tersebut, dan menjadi bahan bakar untuk kembali bergerak. Hehehe.

Itulah kenapa menarinya jemari di atas tuts keyboard ini bukan sudah lama. Saya bahkan baru mengetik naskah buku beberapa menit lalu. Hanya saja, menulis naskah buku (apalagi buku orang lain) tak seleluasa menulis di blog sendiri. Sungguh saya rindu sekali bicara blak-blakan seperti yang saya tuliskan di atas. Menyenangkan sekali saat kita bisa apa adanya tanpa tertawan oleh penilaian orang lain, bukan? Dan inilah blog saya, isinya curahan hati pribadi semua, hihi. Ya syukurlah kalau ada satu dua yang bermanfaat. Selebihnya, blog inilah media healing saya.

 

GABUNG KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Sejak menikah di Februari 2016 lalu, saya resmi menjadi istri. Dan sejak 2 bulan lalu, saya resmi menjadi calon ibu. Alhamdulillaaah. Semoga amanah ini bisa selalu saya jaga bersama suami terkasih. Maka begitu ada kesempatan untuk bergabung dengan komunitas ibu-ibu, saya memilih untuk gercep alias gerak cepat. Adalah Institut Ibu Profesional atau IIP yang akhirnya menjadi pelabuhan hati saya dari sekian banyaknya komunitas ibu-ibu yang ada. Alasannya agak subjektif sih sebetulnya. Karena.. saya kenal baik dengan pendirinya: Ibu Septi Peni Wulandani. Ibu Septi di tahun 2014 silam pernah berdiri bersisian dengan saya di ajang penganugerahan bergengsi dengan tajuk Kartini Next Generation Award yang diselenggarakan oleh KOMINFO Republik Indonesia. Saya yang saat itu berdiri mewakili Komunitas Great Muslimah, menatap takzim pada bu Septi yang begitu besar semangatnya untuk memberdayakan ibu-ibu supaya menjadi seorang ibu profesional layaknya profesi-profesi lain. Betapa mulianya, decak saya kala itu. Ah siapa sangka akhirnya berkenalan kala pernah satu panggung mengisi seminar. Apalah saya ini disatu panelkan dengan beliau. Butiran kerupuk rasanya.

Dasar jodoh, tepat di pekan lalu, saya resmi bergabung dengan Grup Matrikulasi IIP via Whatsapp yang diasuh oleh para fasilitator regional kota, asuhan ibu Septi. Funginya matrikulasi adalah untuk menyamakan standar seorang ibu profesional harus seperti apa sekaligus sebuah media untuk memahami kultur dari komunitas IIP itu sendiri. Keren sekali. Jujur, meski di grup WA saya lebih memilih menjadi seorang silent reader, saya begitu menikmati program ini. Saya lebih dari sekedar yakin bahwa tidak ada yang sia-sia. Termasuk ketika saya diizinkan bergabung ke grup matrikulasi IIP, saya yakin, Allah sedang mempersiapkan saya menjadi seseorang yang jauh lebih berkualitas. Tebakan saya, tentu menjadi istri dan ibu yang profesional bagi suami dan anak-anak saya.

 

NICE HOME WORK

Siapa tak akrab dengan kata homework? Tentulah kalau kita sekolah di Indonesia, ini sudah tak asing lagi. Setiap pembelajaran, berujung homework. Bedanya, kali ini, saya mendapat homework bukan dari sekolah formal melainkan dari grup belajar di IIP. Bahkan katanya disejajarkan dengan kata “Nice”. Okelah, ini akan jadi pekerjaan rumah yang menyenangkan.

Nice Home Work pertama mengawali proses belajar saya bersama ratusan calon ibu profesional lainnya. Anyway, saya sungguh salut pada ibu-ibu yang saya temui di grup WA Matrikulasi IIP. Tak sedikit dari mereka ternyata – mohon maaf – mengaku gagap teknologi alias gaptek. Dengan jujur ibu-ibu tersebut menyampaikan bahwa mereka butuh bimbingan teman grup yang lain yang jauh lebih melek teknologi untuk mengajari mereka bagaimana caranya membuat dokumen via Google Docs, membuat blog, membuat postingan, bahkan ada yang meminta diajari cara copy-paste link dari chrome browser ke kolom komentar di salah satu thread di facebook. Luar biasa sekali! Pembelajar. Itulah kata yang paling pantas untuk para ibu tadi. Gagap teknologi menjadikan mereka terbatas, tapi keterbatasan tak memberhentikan mereka belajar. Salut, amat salut! Seandainya para putra dan putrinya tahu betapa seorang ibu mereka berjuang keras untuk menjadi seorang ibu yang profesional bagi mereka, niscaya.. Malin Kundang pun akan terisak dibuatnya. Malu.

Oke, back to Nice Home Work.

Hari ini adalah deadline pengumpulan link Nice Home Work pertama. Dan saya baru menuliskannya. Hehe maafkan. Yang penting tidak telat dan mudah-mudahan tetap berkualitas yaa *kedipkedip. Setidaknya ada 4 point yang harus peserta matrikulasi jawab dengan jawaban yang tidak ada nilai benar salahnya, sebab keempat point tersebut berfungsi untuk membuat peserta – yang salah satunya adalah saya – lebih mengenal dirinya sendiri dan jaug lebih tau arah tujuannya belajar. Lets answer!

1. Tentukan satu jurusan apa yang hendak ditekuni di universitas kehidupan ini?

Setelah menimbang-nimbang dan berdiskusi dengan suami, hasrat saya bermuara pada jurusan entrepreneurship.

 

2. Apa alasan terkuat memilih jurusan entrepreneurship?

Sebetulnya saya sempat tergiur melihat postingan teman-teman peserta yang lain untuk memilih jurusan pendidikan anak, jurusan ibu solehah, dan yang semacamnya, tapi saya diminta suami untuk tidak mengkhianati suara hati. Maka sampailah saya pada pilihan jurusan entrepreneurship ini. Menurut orang tua dan tentu saja suami, mata saya akan sangat menyala-nyala ketika berbicara tentang bisnis dan jualan. Terlebih orangtua saya menambahkan bahwa saya seakan dianugerahi Midas Touch, yaitu kemampuan menyulap segala hal di sekeliling saya menjadi uang. Dengan cara halal tentunya, trasaksi, jual beli. Lalu saya ingat-ingat kembali.. sejak kecil, tepatnya sejak berusia TK, otak saya sudah tidak kuasa diam melihat para pedagang jajanan yang bisa menukar benda bermanfaat semacam makanan atau mainan dengan uang yang diberikan teman-teman sebaya saya. Jadilah di TK, saya meminta Mama untuk membekali saya tidak dengan uang, melainkan dengan jajanan ringan dengan jumlah yang cukup untuk saya bawa dalam jinjingan. Sesampainya di TK, saya akan menjajakan jajanan itu di jam istirahat. Dan bukan hanya kepada teman, saya berani masuk ruang guru bahkan menembus kerumunan ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya untuk menawarkan dagangan saya. Malu? Ah bahkan saya tak kenal kata itu. Hehehe.

Di bangku sekolah dasar pun sama. Saya akan menyulap apa saja benda di rumah untuk saya berikan nilai tambah atau bahasa kerennya added value, lalu saya jual di sekolah. Mulai dari kertas origami warna-warni yang saya lipat-lipat menjadi serupa dengan hewan-hewan lalu saya jual. Siapa coba yang berpikir menjual miniatur hewan-hewanan dari kertas? Entahlah ide itu jatuh darimana kala itu. Selepas itu, saya konsisten menjual ketan putih bertabur serundeng ke ruang guru yang beberapa diantaranya menjadi pelanggan saya. Saya begitu menikmati transaksi jual beli. Bahkan jauh sebelum saya mengenal istilah jual beli adalah transaksi tukar manfaat, saya sudah memegang teguh-teguh prinsip bahwa saya hanya akan menjual sesuatu yang berguna bagi pembeli. Prinsip anak berseragam putih merah. Di bangku SMP, SMA, kuliah? Sudah jangan ditanya. Produk dan jasa yang jauh lebih besar dan jauh lebih rumit sudah mewarnai langkah hidup saya, seiring dengan bertambah dewasanya seorang Febrianti Almeera.

Lebih dari itu, saya tau bahwa berdaya secara ekonomi memiliki dampak manfaat yang luas, selama keberdayaan tersebut diraih di atas prinsip-prinsip ketauhidan.

 

3. Apa strategi yang akan diterapkan untuk mempelajari ilmu jurusan tersebut?

Strategi yang saya yakin betul adalah Superman is dead, superteam is alive! Saya tidak akan lagi belajar sendirian. Setelah sekian puluh tahun saya belajar apa-apa sendirian, dan akhirnya sukses – juga bangkrut – sendirian, kali ini saya tidak mau mengulanginya. Adalah benar bahwa pengalaman adalah guru terbaik, maka saya memutuskan untuk belajar bersama tim. Siapa tim saya? Ya, tim saya adalah partner hidup saya, yaitu: suami terkasih. Asep Saeful Ulum, namanya. Akrab disapa Kang Ulum. Beliau akan menjadi learning partner saya. Kami siap menjadi guru sekaligus murid secara bersamaan. Saya akan belajar sekaligus mempraktikan ilmu-ilmu entrepreneurship bersama suami saya ini.

 

4. Perubahan sikap yang akan dilakukan dalam menuntut ilmu?

Penyakit lama saya yang harus dilenyapkan adalah penyakit “I know that!” alias ya ya ya.. saya sudah tahu soal itu. Penyakit ini ampuh membunuh ruang belajar siapapun yang mengidapnya. Saya pernah terjangkiti penyakit ini dan menyesalinya. Meskipun benar sudah tahu atau bahkan sudah lebih dari sekedar ekspert dalam mengamalkan ilmu yang sedang disampaikan oleh seseorang, penyakit I know that akan menghentikan kemungkinan bertumbuh seseorang. Dan ini mengerikan. Maka membuang jauh-jauh penyakit ini akan menjadi perubahan sikap pertama yang akan saya lakukan dalam menuntut ilmu entrepreneurship di Universitas Kehidupan, terhitung sejak saat ini.

 

Terimakasih, salam sayang, keep writing!

2 thoughts on “#NiceHomeWork 1: Jurusan Universitas Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s