Lomba Blog

Gadai Emas Jelang Nikah

Ada sebuah kalimat bijak yang berbunyi, “Menikah itu yang penting sah, bukan yang penting mewah.” Sebuah kalimat yang baru benar-benar termaknai, terjiwai, bahkan meresap hingga ke pori-pori hati (tsaaah), justru setelah saya melewati episode pernikahan itu sendiri.  Maka di postingan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang persiapan menjelang pernikahan, dengan segala rangkaian dinamikanya.

Based on true story..

Dulu, setiap saya mendengar kisah-kisah orang tentang betapa hectic-nya mempersiapkan pernikahan, betapa memusingkannya, betapa penuh dengan dinamika, bahkan ada yang sampai pengantin atau keluarganya nyaris stress, saya hanya bisa geleng-geleng kepala nggak paham. Kok bisa hectic? Kok bisa pusing? Kenapa sampai harus stress? Nggak ngerti sama sekali. Karena bagi saya saat itu, kata “pernikahan” selalu erat kaitannya dengan keindahan, sukacita, kebahagiaan, dan yang semacam itu. Termasuk ketika proses mempersiapkan. Jadi nggak masuk akal tuh yang pusing-pusing di masa persiapan menjelang pernikahan.

Hingga akhirnya, episode itu hadir dalam kehidupan saya sendiri. Episode yang merupakan bagian dari garisan takdir-Nya, dan menyingkap banyak makna yang sebelumnya tidak saya pahami. Karena tentu saja, menjadi pengamat, amat jauh berbeda pengalamannya dengan menjadi pelaku.

Masih lekat dalam ingatan. Bulan November 2015, sosok pemuda sederhana nan cerdas asal kota Subang hadir dalam kehidupan. Kedatangannya yang tanpa permisi itu membuyarkan seluruh rutinitas keseharian saya, dan menghadirkan warna baru. Menariknya, pemuda pemalu ini ternyata memiliki sisi keberaniannya yang sangat tak terduga. Di pertemuan pertama kami, ajakan untuk menikah meluncur mulus dari lisannya tanpa tedeng aling-aling. Meski wajahnya memerah, namun matanya tetap menyala menyiratkan kesungguhan.

Ah, jika Sang Maha sudah berkehendak, siapa sih yang bisa nolak? Maka tak perlu lama-lama, satu bulan kemudian sejak hari itu, tepatnya tanggal 26 Desember 2015, ruang tengah rumah orang tua saya disulap *cling! menjadi tempat penyambutan keluarga besar pemuda tersebut, untuk sebuah prosesi bernama: lamaran.

Lamaran 3

Lamaran

 

Usai lamaran, kedua belah pihak keluarga, ternyata, punya prinsip yang sama, yaitu jarak antara lamaran dengan akad nikah tidak boleh terlalu lama. Bukan ngebet atau nggak tahan, namun lebih kepada menjaga yang memang harus dijaga. Maklum, sebelum lamaran.. putra putrinya mereka ini kan sama sekali blank siapa jodohnya. Tapi setelah lamaran, setidaknya sudah ada 50% kemungkinan dia yang lamarannya diterima oleh orang tua itulah jodohnya. Jadi andai jarak waktu lamaran menuju akad berlama-lama, khawatir ini anak-anak berdua terbayang-bayang satu sama lain, bahkan bisa berujung pada terjadinya hal-hal yang belum waktunya. Masa iya mau membangun rumah tangga yang berkah diawali dari proses yang terkotori? Hiii.. ngeri kan. Jadilah hari itu, keluarga besar menyepakati bahwa akad nikah akan dilaksanakan cukup dua bulan saja dari proses lamaran, tepatnya hari Jum’at tanggal 26 Februari 2016.

Saya tersenyum sekaligus menelan ludah. Wow, my episode will come so fast. Only a couple months ago.

Lamaran 2

 

PERSIAPAN JELANG NIKAH

Dalam perjalanannya, orang tua saya baru ngeuh, “Cepet banget ya Neng, dua bulan..” Saya tepok jidat. Beruntung, calon suami saya saat itu berjiwa kooperatif. Enak banget untuk diajak kerjasama. Kami, sebagai calon pengantin yang sama-sama sadar bahwa ada banyak sekali hal yang harus disiapkan menjelang pernikahan, memulai langkah dari tahap perencanaan terlebih dahulu.

Di tahap ini, kami menuliskan hal apa saja yang harus ada, kemudian hal-hal tersebut dimasukkan ke dalam timeline waktu. Supaya efektif, waktu dua bulan ini kami turunkan menjadi pekan dan hari. Alhasil kami jadi punya to do list per pekan selama 8 pekan, dan to do list per hari selama kurang lebih 60 hari. Skema begini sangat membantu kami saat mengeksekusi berbagai hal di waktu yang sempit.

Setelah itu, kami pun memasuki tahap eksekusi yang mengacu pada to do list, produk dari tahap perencanaan.

Dari sekian to do list, ada satu hari dimana saya dan calon suami berencana membicarakan khusus hanya perihal keuangan saja. Ini penting dan porsinya pas, bicara keuangan setelah jelas tujuannya: nikah. Melalui seorang teman yang berprofesi sebagai seorang Financial Planner, saya mendapatkan wejangan bahwa dalam proses menuju pernikahan, setidaknya calon pengantin harus membagi pos-pos keuangannya ke dalam tiga pos, yaitu:
(1) Pos pra nikah
(2) Pos saat penyelenggaraan nikah
(3) Pos pasca nikah

Berbekal wejangan teman yang expert di bidangnya tersebut, saya dan calon pun bertemu dalam agenda khusus: bicara keuangan. Oh ya, proses bicara keuangan ini harus dilakukan dengan prinsip: jujur, terbuka, dan apa-adanya ya. Ini penting dilakukan sebelum menikah untuk meminimalisir kekagetan saat ada perbedaan, khususnya perihal pola pengaturan keuangan masing-masing. Detail tentang obrolan keuangan pra nikah, bisa dibaca disini.

Bersyukurnya, dari obrolan saya dan calon suami itu akhirnya kami berdua sadar bahwa penghasilan kami sama-sama terbilang tinggi di antara orang-orang seusia kami alhamdulillah. Tapi, dari obrolan itu pula kami berdua sadar bahwa kami pun punya pola buruk yang kami sungguh menyesalinya, yaitu: tidak pandai mengelola uang tersebut. Seluruh penghasilan kami selalu habis-habis saja setiap bulannya, tanpa jadi aset, tanpa jadi tabungan. Meski kami pun tahu alokasi keuangan kami tidak ada yang sia-sia, semisal untuk memberi kepada keluarga. Hanya saja, dampaknya, di persiapan pernikahan kami yang tinggal satu bulan lebih sedikit itu, mata kami akhirnya terbuka bahwa: Kami tidak punya cukup tabungan untuk memenuhi kebutuhan nikah yang sudah direncanakan! *jengjengjeeeng

Tarik napas, buang. Tarik napas, buang.

Wajah kami menegang sesaat, kemudian entah kenapa.. kami tertawa bersama. Menertawai tingkah laku lalai kami di masa single. Betapa nggak well prepare-nya. Betapa menggelikannya kami sibuk persiapan nikah tapi baru sadar uangnya kurang. Entah apa jadinya kalau nggak ada proses pernikahan ini, bisa-bisa kami nggak sadar-sadar kalau nggak pandai mengelola keuangan. Oh anak muda, bagian yang lalai ini please.. jangan ditiru. Persiapkan yang harus dipersiapkan sedari masih leluasa. Jangan nunggu deadline kehidupan. Pasti ketar ketir.

Saya dan calon suami saat itu langsung menyusun strategi. Kami menganalisa kembali bagian-bagian pokok dalam pernikahan, dan bagian-bagian yang bisa ditunda atau bahkan tidak perlu dilaksanakan. Hingga akhirnya, setelah melalui proses diskusi yang penuh dengan pertimbangan terutama pertimbangan atas aturan agama dan nasihat keempat orang tua, kami pun memutuskan untuk memusatkan perhatian pada prosesi sakralnya, yaitu: akad nikah.

Mengenai walimah atau pesta pernikahan, tetap akan diadakan karena disunnahkan. Namun tujuannya dikembalikan pada hakikatnya, yaitu: untuk memberi kabar dan menghindari fitnah. Sehingga skala walimahnya sederhana. Berlokasi di rumah, dan cukup mengundang keluarga besar dari kedua belah pihak serta sahabat dekat saja.

Hikmahnya, “Tidak perlu mewah, yang penting sah” menjadi prinsip kami sejak hari keputusan itu. Ini membuat proses nikah kami insyaAllah akan kembali pada nilai sejatinya, yaitu memudahkan bukan mempersulit. Deal? Deal!

 

GADAI EMAS JELANG NIKAH

Karena saya dan calon suami sama-sama tipe anak yang mandiri sedari single, maka usai bicara keuangan, kami berdua pun sepakat untuk tidak merepotkan orang tua, terutama perihal keuangan jelang nikah. Apa yang bisa kami siapkan berdua, kami akan siapkan berdua saja, sambil tetap mengkomunikasikan setiap progress-nya kepada orangtua kami.

Satu waktu, kami sadar hari H pernikahan semakin dekat, sedangkan beberapa kebutuhan belum juga terpenuhi. Kami berpacu dengan waktu. Dalam kondisi mendesak itu, tiba-tiba saya teringat akan liontin dan cincin emas pemberian nenek sebelum beliau meninggal. Dua benda yang sudah tiga kali membantu di saat saya sedang terdesak.

Ya, sudah tiga kali dua benda tersebut saya ‘inapkan’ di Pegadaian, sebuah BUMN di Indonesia yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa peminjaman uang (pemberian kredit) kepada masyarakat atas dasar hukum gadai. Kalau belum familiar dengan lembaganya, setidaknya pasti familiar dengan tagline-nya: “Mengatasi masalah tanpa masalah”.

Pegadaian Emas

Sejujurnya, dulu saya merasa asing dengan lembaga gadai beserta proses gadai emas semacam ini. Lebih tepatnya, saya ragu dan khawatir atas keamanannya. Belum lagi bagi anak muda, kok rasa-rasanya gengsi aja gitu menggadaikan emas di Pegadaian. Tapi ah, hidup pakai gengsi itu nggak enak. Sibuk bangun topeng, capek. Sudah.. apa adanya aja. Lagi ada ya ada, lagi nggak ada ya nggak ada. Kebayang.. kalau lagi butuh dan terdesak, lalu mengandalkan gengsi, habislah.

Awalnya di tahun 2014, saat saya sedang membangun sebuah ruang pelatihan kecil berkapasitas 10 orang di daerah tempat tinggal saya guna memfasilitasi teman-teman yang ingin belajar softskill, saya mengalami kekurangan dana di tengah proses. Tanggung kalau harus mengumpulkan uang dulu, jadilah saya mencoba menggadaikan liontin dan cincin emas di Pegadaian demi mendapatkan dana. Jujur, perasaan ragu dan khawatir itu ada. Maklum, itu merupakan kali pertama saya menggadaikan emas, warisan pula.

Eh ternyata, keraguan dan kekhawatiran itu lenyap seketika. Ketika menunggu giliran bertransaksi, saya berkesempatan melihat-lihat alur proses yang ada. Saat melihat pelayanan yang profesional dari para customer service di setiap loketnya, penjagaan ketat dari para security yang sedang bertugas, ragu itu pun luruh.

Hingga tiba giliran saya melakukan transaksi proses gadai emas. Seriously, prosesnya mudah dan cepat, nggak pakai ribet. Saya cukup menyampaikan bahwa saya mau menggadaikan emas, kemudian customer service meminta emas yang saya bawa untuk ditimbang dan ditaksir nilai gadainya. Oh ya, syarat untuk bisa menggadaikan emas di Pegadaian pun mudah, cukup punya KTP dan mengisi form yang disediakan di kantor Pegadaian. Sudah itu saja.

Usai penaksiran, saya dipanggil kembali untuk diberitahu nilai taksiran emasnya kemudian ditanya, “Apakah mau diambil semua uang yang sesuai taksirannya?” Lalu keputusan tetap ada di tangan kita sang pemilik.

Usai uang diterima dan emas ditinggalkan di Pegadaian dengan status tergadaikan, saya berkewajiban untuk menebusnya, baik secara langsung jika kelak ada uang sejumlah kredit yang dicairkan pegadaian ditambah biaya sewa modal, ataupun bisa dengan cara mencicil. Yang penting tetap harus ada upaya untuk menebus jika saya tidak mau emas saya masuk ke pelelangan dan terjual. Itu konsekuensinya.

Pegadaian Emas 3

Overall, proses gadai emas di Pegadaian itu mudah dan memudahkan. Betul-betul sesuai dengan tagline-nya: mengatasi masalah, tanpa masalah. Alhasil, saat itu bukan kali pertama dan terakhir saya kesana. Pengalaman pertama yang sangat membantu proses pembangunan ruang pelatihan yang terancam ditunda itu membuat saya menjadikan Pegadaian sebagai alternatif solusi apabila saya sedang terdesak membutuhkan sejumlah uang dengan skema menggadaikan emas. Total sudah tiga kali saya menggadaikan liontin dan cincin emas yang sama, untuk tiga keperluan mendesak yang berbeda. Dan itu juga berarti.. emasnya sudah berhasil ditebus sampai tiga kali. Betul-betul nasabah yang baik, kan? Hehehe.

Menjelang pernikahan, saya pun terpikir kembali untuk menggadaikan liontin dan cincin emas itu. Maka usai melakukan hitung-hitungan kasar dengan calon suami, kami pun berangkat ke Pegadaian. Saat itu hari kerja dan sudah menjelang sore. Seingat saya, jam operasional Pegadaian hanya sampai pk 15.00 WIB. Duh deg-degan betul, khawatir Pegadaian keburu tutup. Beruntungnya, kami sempat searching dulu melalui google, dan taraaa! Ternyata ada kantor Pegadaian baru yang berlokasi sangat dekat dengan rumah saya, yaitu di Jl. Surapati Bandung. Cukup 5 menit sampai ahamdulillah. Kami pun ngebut *wusssh.

Itu menjadi kali keempat saya menggadaikan emas (yang sama), sekaligus kali pertama calon suami saya menginjakkan kaki di Pegadaian. New experience for him. Sepanjang proses gadai, calon suami saya banyak sekali ber-ooooh hmmm.. Takjub akan adanya lembaga Pegadaian beserta proses gadai menggadainya.

Pegadaian Emas

Pelayanan customer service yang ramah ditambah kecepatan dan ketepatan penaksiran membuat kami sangat terbantu saat itu. Apalagi ketika kami bertanya ini dan itu, customer service Pegadaian dengan telaten membantu kami memperoleh informasi yang selengkap-lengkapnya. Sangat profesional. Recommended. Selengkapnya tentang Pegadaian bisa diakses melalui www.sahabatpegadaian.com atau www.pegadaian.co.id

Usai proses gadai selesai, pihak Pegadaian memberikan saya lembaran hijau yang sangat familiar bernama Surat Bukti Kredit atau disingkat SBK. Nah, SBK ini jangan sampai hilang, karena berfungsi sebagai bukti bahwa saya menaruh barang gadai di Pegadaian, dan akan selalu digunakan setiap saya hendak mencicil atau bahkan menebus emas yang sedang digadaikan.

Surat Bukti Kredit Febrianti
Surat Bukti Kredit dengan Nomor CIF: 1006861082

Singkat kisah, dana yang dicairkan oleh Pegadaian pun kami terima dan segera kami alokasikan untuk beberapa kebutuhan mendesak jelang pernikahan. Meski tidak seluruhnya terpenuhi oleh hasil gadai emas di Pegadaian, tapi dana cair dari Pegadaian saat itu sangat membantu memenuhi kebutuhan yang terdesak.

Oh ya, di kali ke empat saya menggadaikan emas di Pegadaian, saya jadi kepikiran untuk berinvestasi emas dan ternyata, Pegadaian punya programnya. Hanya saat itu nggak langsung saya eksekusi karena waktunya sangat mepet dan pintu geser kantor Pegadaian sudah ditutup oleh bapak-bapak security sebagai pertanda sudah lewat dari jam operasional pk 15.00 WIB. Ya sudah, saya bawa brosur-brosur yang ada disana dulu aja untuk dipelajari di rumah.

Pegadaian Emas 2
Nyelip satu brosur program Kemilau Emas Pegadaian

 

Time flies..
Pekan berganti pekan, semua mendoakan semakin kencang: semoga dimudahkan, semoga dilancarkan.

Hari H pun tiba.

Jum’at 26 Februari 2016, tepat di saat hari ulangtahun saya yang ke-25, saya dan suami berjodoh untuk melangsungkan akad nikah di Masjid Pusdai (Pusat Dakwah Islam) kota Bandung, dengan sangat khidmat, syahdu, dan semoga dinaungi keberkahan, aamiin.

Gadai Emas Jelang Nikah 4

Usai prosesi ijab qabul di Masjid Pusdai, saya dan suami pun meluncur menuju lokasi walimah yaitu rumah orang tua saya, yang berjarak tempuh kurang dari 5 menit dari masjid. Disitu saya merasakan sensasi berjalan kaki di jalan raya pakai baju pengantin lengkap dengan wedding flower bouquet, full make up, dan menggandeng sang pangeran yang juga nggak kalah kece dandanannya. Hehehe, malu malu happy diliatin orang-orang. Pengalaman yang nggak akan terulang.

Gadai Emas Jelang Nikah 5

Sesampainya di gang menuju rumah, kami berdua dikejutkan oleh surprise berbentuk rangkaian adat. Kaget! Bagian ini, sejujurnya, kami nggak merancang. Kan niatnya sederhana aja. Ya.. ternyata ada saudara dari pihak keluarga Papa saya yang profesinya mengurusi rangakaian adat nikah, memberikan kami hadiah berupa rangakaian adat Sunda gratis. Hehe, rezeki.

Gadai Emas Jelang Nikah 2

Gadai Emas Jelang Nikah

Gadai Emas Jelang Nikah 3

Rangkaian adat ini memancing gelak tawa kami sebagai kedua mempelai, sekaligus juga pihak keluarga besar dan tamu yang sudah hadir menyaksikan. Saya dan suami merasa dikerjai oleh pihak penyelenggara adat karena kami berdua betul-betul polos ketika dibercandai. Dasar, hehehe.

Tak lama, kami pun diminta untuk berganti pakaian, menyambut tamu undangan yang merupakan kelurga besar dan sahabat dekat. Nuansa pernikahan kami pun menjadi begitu akrab dan hangat.

Masih ingat ruangan tengah di rumah orang tua saya yang dijadikan tempat penerimaan lamaran calon suami Desember lalu? Nah, di 26 Februari 2016, ruangan tengah itu kembali digunakan untuk peristiwa bersejarah selanjutnya yaitu sebagai pelaminan untuk prosesi penerimaan tamu walimah. Amat sederhana, tanpa mengurangi nilai kebaikannya insyaAllah.

Gadai Emas Jelang Nikah 6

Sebuah kalimat bijak yang berbunyi, “Menikah itu yang penting sah, bukan yang penting mewah” kini benar-benar termaknai, terjiwai, bahkan meresap hingga ke pori-pori hati. Allah yang Maha Perencana pasti sudah menggariskan takdir terbaik bagi setiap hamba-Nya. Saya meyakini itu. Alhasil, terhadap pernikahan yang saya jalani pun, pada akhirnya saya memaknai bahwa Allah hendak mengajarkan saya dan suami sebuah nilai hakikat dari pernikahan, tidak terperdaya dengan tambahan-tambahan versi manusia yang tidak jarang memperrumit dan memberatkan. Alhamdulillah.

Pengalaman mempersiapkan pernikahan berbekal jiwa mandiri yang sangat kuat pun, mendewasakan saya dan suami. Kami jadi lebih betul-betul menghargai suatu proses bernama persiapan, khususnya perihal keuangan yang kami lalai mempersiapkannya sedari masa single, padahal kami punya sumber dayanya. Beruntunglah ada lembaga Pegadaian yang sangat membantu kami di masa-masa terdesak. Thankyou Pegadaian, telah membersamai proses jelang nikah kami. Betul-betul mengatasi masalah, tanpa masalah.

Oh ya, dalam proses menuju pernikahan, persiapan yang terpenting dan utama adalah kesiapan mental dan ilmu kedua calon pengantin berlandaskan prinsip ketaatan pada Allah. Coba bayangkan andai ada orang yang mapan dalam hal keuangan tapi lemah secara mental, galauan dalam menjalani kehidupan, nggak punya prinsip, dan juga labil, ini jelas lebih parah. Gimana mau menjalani rumah tangga yang dinamikanya pasti lebih kompleks daripada saat masih sendiri kalau mentalnya ecek ecek begitu?

So, melalui postingan ini, semoga ada manfaat yang bisa dipetik oleh Anda yang entah dengan cara apa bisa mampir kemari dan membacanya hingga tuntas. Yang jelas, sekeyakinan saya, tidak ada satu pun hal yang kebetulan. Termasuk kenapa Anda membaca postingan saya ini. Pasti sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur, maka pasti ada maksud baik dibaliknya.

Bagi yang masih sendiri, selamat mempersiapkan mental, ilmu, dan tentu saja keuangan meski hilal calon pendampingnya belum nampak. Sedangkan bagi yang sudah menikah, selamat bernostalgia melalui tulisan saya. Kali-kali di antara Anda, ada juga yang pernah punya pengalaman serupa: gadai emas jelang nikah. Hehehe, saya tau rasanya: asyik-asyik aja!

Salam,
Febrianti Almeera

6 thoughts on “Gadai Emas Jelang Nikah

  1. saya empat bulan sesudah lamaran, lebih lama saya ternyata hehehe

    btw, cerita tentang nikahnya terlalu panjang, sebenarnya bisa dibikin post terpisah, nanti diarahkan ke post tersebut di awal paragraf, itu sih kata aku

  2. “Semoga ada manfaat yang bisa dipetik oleh Anda yang entah dengan cara apa bisa mampir kemari dan membacanya hingga tuntas. Yang jelas, sekeyakinan saya, tidak ada satu pun hal yang kebetulan. Termasuk kenapa Anda membaca postingan saya ini. Pasti sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur, maka pasti ada maksud baik dibaliknya.”

    awalnya hanya ingin melanjutkan membaca kisah teh pepew di blog pangeransurga. siapa sangka tangan mengarah juga ke blog ini. dan masya Allah, mungkin ini maksud Allah menggerakkan tangan saya ke postingan ini. mungkin hikmahnya disuruh cepet2 invest emas, dari kemaren udah sering buka web pegadaian buat beli emas di sana tapi masih maju-mundur. ngeliat postingan ini jadi mantep mau coba. terima kasih teh. hehe..

    btw, kita pernah bertemu beberapa tahun lalu ketika teh pepew mengisi seminar kemuslimahan di UI. oh ya, barakallah teh untuk pernikahannya semoga sakinah, mawaddah, warahmah.

    Salam,
    Galuh

  3. Subhanalloh…sepertinya Allah SWT,,benar-benar menggiring saya untuk membaca blog ini, awalnya buka-buka email untuk cek email dari WO perihal harga riasan dll, karena Insya Allah klo tidak halangan saya akan melangsungkan akad plus walimah 1,5 bulan lagi.. tapi dari awal ditetapkan tanggal sampai dengan sekarang pusingggggggg nyari ini-itu dan beda pendapat terus dengan orang tua, belum lagi soal biaya,,ya Allah..rasanya ga kuat…stresss…
    Alhamdulillah baca tulisan Teteh Pewski, sangat menyadarkan saya sekali…bahwa apa yang saya mau belum tentu baik buat saya.. terutama soal Impian Pernikahan..
    Terima Kasih Teh dah sharring..mohon doanya ya Teh..smoga hajat saya lancar..

    Elni

  4. “Semoga ada manfaat yang bisa dipetik oleh Anda yang entah dengan cara apa bisa mampir kemari dan membacanya hingga tuntas. Yang jelas, sekeyakinan saya, tidak ada satu pun hal yang kebetulan. Termasuk kenapa Anda membaca postingan saya ini. Pasti sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur, maka pasti ada maksud baik dibaliknya.”

    Teteh pas bgt knp bisa ada paragraf itu. Bener bgt awalnya liat ig teteh kemudian kalo ga salah pernah ikut acara yg teteh jadi MC nya di UPI gatau jd pengisi pokonya trs baca pangeran surga dan enak banget baca nya sampe dari pagi sampe sore ini sambil istirahat dr revisian skripsi bukain trs blog nya tteh, hikmahnya adalah awalnya tkt buat nama nya nikah krn uang darimana hihi ternyata betul nikah itu ga harus mewah. Terimakasih tteh selalu menginspirasi selamat juga sudah diberi buah hati sehat2 ya teh doakan aku yg sedang skripsian.

    Salam,
    Mahasiswa UPI yang satu fakultas dengan tteh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s