Belajar Jadi Istri

I Officially Married

“Menjadi istri shalihah adalah sebuah proses, bukan sebuah hasil akhir. Menjadi shalihah itu memerlukan usaha, kesungguhan, pengorbanan, sekaligus bantuan serta serta dukungan dari suami. Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah selalu berusaha untuk menjadi yang dan selalu memperbaiki diri sepanjang waktu.”

Kutipan di atas berasal dari sebuah buku ber-cover merah muda dengan judul “Wonderful Wife – Menjadi Istri Disayang Suami” karya pak Cahyadi Takariawan. Buku tersebut menghiasi hari-hari saya ketika berproses menikah dengan calon suami, yang kini telah menjadi suami.

Menikah Karena Allah 5

Oh ya sampai lupa! Alhamdulillah, saya sudah menikah *malu-malu* Usia pernikahannya masih sangat muda, belum genap 3 bulan. Tepatnya di hari Jum’at 26 Februari 2016 lalu, sebuah pernikahan sederhana nan khidmat dilangsungkan di Kota Bandung. Adalah Masjid Pusdai (Pusat Dakwah Islam) yang menjadi saksi atas ikrar janji setia yang diberikan oleh Papa saya, dan diterima oleh seorang laki-laki yang usai ia mengucapkannya, menjadi sah lah saya berada di bawah kepemimpinannya, menjadi tanggung jawabnya.

Menikah Karena Allah

Haru berwujud tawa dan tangis menjadi warna yang datang silih berganti, menaungi langit-langit hati yang kian merona merah muda. Akhirnya, tabir masa depan yang sekian lama Allah sembunyikan sebagai ujian: apakah saya mengisi hari-hari penantian dengan ratapan atas kesendirian atau justru diisi dengan prestasi dan karya terhadap-Nya, kini telah dibuka. Adalah Asep Saeful Ulum, sebuah nama yang tertulis dibalik tabir itu. Tabir mengenai siapakah seorang laki-laki yang akan menggenapi separuh agamanya bersama saya.

Kang Ulum, begitu ia akrab disapa, merupakan sosok pemuda sederhana yang santun dan cerdas, yang di tengah gempuran bisikan ketidakmungkinan, tetap melangkah maju menanyakan kesediaan saya berproses dengannya kala itu, bahkan di pertemuan pertama kami. “Berani-beraninya,” gumam saya. Tapi ah, bisa apa manusia. Apabila Dia sudah berkehendak, tak ada yang bisa menolak. Dan apabila Dia sudah mengizinkan, tak ada yang bisa menahan.

Beruntungnya, kecenderungan hati ini muncul tidak dalam wujud yang menggebu-gebu ataupun tergesa-gesa. Biasa-biasa saja. “Kalau jodoh ya pasti dimudahkan, kalau belum jodoh ya sudah nggak apa-apa..” Tenang sekali rasanya. Disitulah saya baru menyadari, betapa indahnya skenario Allah yang telah mengizinkan saya batal menikah hingga 2 kali sebelum akhirnya dipertemukan dengan pilihan-Nya yang sejati. Ada pendewasaan yang hendak Allah tanamkan kuat-kuat di dalam diri saya melalui serangkaian kegagalan di masa lalu, agar pada akhirnya, ketika pemuda yang sebenarnya tiba, saya sudah berada dalam kondisi yang siap dengan sebenar-benarnya kesiapan, yaitu: matang secara mental.

Disitulah saya merasa malu ketika dulu pernah mengutuk skenario-Nya yang berbuah tangis dan air mata, padahal.. semua yang Dia takdirkan pasti baik. Adapaun takdir-Nya terasa tidak baik, itu hanya karena kita belum sampai pada maksud sejatinya kenapa takdir itu diberikan. Kurang sabar dan sok tahu lah yang membuat kita menyengsarakan diri kita sendiri.

Maka bersyukur luar biasa atas kuasa dan kehendak-Nya yang baik dan membaikkan, kini saya telah resmi menikah, resmi memasuki babak kehidupan yang baru berbekal takwa dan pemahaman soal pernikahan yang meski belum teruji, namun siap dipelajari. Bismillahirrahmanirrahim..

 

I (ALSO) OFFICIALY WIFE

Setelah menikah, semua yang dulu saya baca sebagai teori semata, kini telah menjelma menjadi panduan untuk langkah-langkah nyata yang bisa dipraktikkan setiap harinya. Mulai dari buku resep masakkan yang dulu hanya sekedar bacaan, kini mau nggak mau jadi terpakai untuk memandu seorang pemula yang membedakan jahe, kunyit, dan kencur aja masih sering salah *ngek.

Dulu, sebelum menikah, saya sama sekali nggak bisa masak. Atau lebih tepatnya, nggak mau belajar masak. Hehe. Selalu adaaa aja alasannya untuk menghindar dari aktivitas satu ini, meski sebetulnya Mama – yang rasa dan kreasi masakannya duahsyat luar biasa – sudah berbaik hati menawarkan diri untuk mengajari: Learning by Doing. 

Ya begitulah manusia (bernama Febrianti Almeera), kadang untuk bisa, masih harus dipaksa. Terutama jika dipaksa oleh keadaan. Time flies, everything’s change. 

Sesaat sebelum menikah, ternyata perkara satu ini menjadi hal yang cukup merisaukan. “Aduduh.. gimana nanti suami kalau mau makan?” Kerisauan ini bersumber dari:
(1) Pengetahuan bahwa masakan buatan istri menjadi salah satu pengikat cinta dalam rumah tangga, sedangkan saya belum bisa.
(2) Saya sadar, saya telah melewatkan banyak sekali tawaran jam terbang belajar masak yang menghampiri. Hiks, nyesel banget.

Time flies, everything’s change (again). Sekarang saya sudah menjadi istri. Dan ternyata, ada banyak hal yang meski dulunya belum terbiasa – bahkan berat untuk dilakukan – eh malah dengan senang hati saya ubah dan saya biasakan. Termasuk perkara masak, tiba-tiba bisa aja. Hal ini bikin saya agak percaya mitos yang seorang teman pernah bilang, “Perempuan berjari buntet (dan jari saya memang buntet), bawaan dari lahirnya jago masak lho, Pew. Bahkan meski belum latihan sekali pun. Percaya nggak percaya sih, tapi percayain aja, biar betul-betul bisa. The Power of YAKIN.

Jujur, kehadiran suami yang super penyayang, perhatian, dan pengertian, menjadi daya dorong yang sangat kuat untuk membuat saya belajar banyak hal meski belum terbiasa, berat, atau bahkan dalam kondisi lelah sekalipun. Alhamdulillah, bersyukur lagi dan lagi.

Eits, tapi faktor utama yang menjadikan daya dorong itu langgeng adalah kesadaran bahwa sekecil apapun yang dilakukan oleh seorang istri untuk suaminya itu bernilai IBADAH. Ini yang bikin saya semangat masak. Bayangin, satu bulir beras yang dimasak jadi nasi aja itungannya ibadah. Apalagi nasinya banyak, ditambah ada yamnya, ada tahu tempenya, ada sayur mayurnya, ada jus buahnya, ya kaaan? Hehe, Allah Maha Baik. Nuhun pisan.

Anyway, kalimat tanpa bukti kan katanya hoax ya. So, ini bukti foto masakan-masakan saya yang meski bagi banyak perempuan kemungkinan biasa banget, tapi bagi saya: segini juga udah uyuhan😀

 

 

Menikah Karena Allah 3
Masakan perdana setelah menikah: Capcay, tempe (agak gosong), rujak tomat
Menikah Karena Allah 8
Sop Kaki Sapi
Menikah Karena Allah 7
Pecel Sayur Enyak
Menikah Karena Allah 6
Tumis Waluh, Bala-Bala, dan Lemon Tea
Menikah Karena Allah 4
Edisi Spesial, hadiah habis ngajar ngaji Papa: Kentang, Telur Wortel, dan Bunci semua direbus. Plus rujak tomat.

 

NEVER ENDING LEARN

Saya sadar betul bahwa menjadi seorang istri yang terikat oleh janji suci terhadap seorang lelaki yang kini telah menjadi suami, bukanlah perkara yang mudah. Akan ada rintangan dan hambatan yang menguji kami. Terutama atas posisi saya sebagai seorang istri yang penuh dengan kekurangan, mudah-mudahan ini akan menjadi ladang amal bagi suami untuk menyempurnakannya. Saya pun bertekad untuk tidak pernah berhenti belajar menjadi perempuan untuk pasangan hidup saya, yang tentu saja diharapkan juga dapat menjadi pasangan Surga kelak.

Mohon doa bagi saya yang sedang belajar berrumah tangga, sedang belajar menjadi istri yang tak sekedar baik tapi juga shalihah. Pun saya mendoakan Anda yang sedang membaca postingan ini, bagi yang masih sendiri semoga bisa menikmati kesendiriannya sebagai bentuk kasih sayang Allah dalam mendewasakan mentalmu terlebih dahulu, dan untuk yang sudah menikah, semoga Allah karuniakan rahmat terhadap rumah tangga yang sedang dibangun, mudah-mudahan bisa menjadi jalan ibadah menuju ridho-Nya, aamiin. Terakhir, teruntuk suami tercinta, maafkanlah kesalahan-kesalahan istrimu yang masih belajar ini.

 

Menikah Karena Allah 2

Setiap jejak langkah yang kau hentak, tahukah, sepotong hatiku bersamamu. Tidak, ia tidak sekedar singgah. Ia menetap disana, bersama ribuan doa yang menyirami. Menumbuh suburkannya setiap hari.

Salam,
Febrianti Almeera

6 thoughts on “I Officially Married

  1. barakallah mbaa,,

    tulisannya keren mba..menginspirasi saya juga untuk menulis tentang pernikahan saya yang 1 bulan lebih muda dari mba..hihi
    makasih mbaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s