Uncategorized

Kembali Jadi Blogger

Assalamu’alaikum.. long long looong time no see, rite? Tepatnya long long looong time no post in this blog, rite?  Hehehe. Tanpa menyangkal, saya mengakui dengan sadar, memang sudah lama sekali saya nggak blogging atau nulis blog. Sebetulnya, hal begini tuh penyakit lama para blogger. Dan semuanya sama, berawal dari kata: malas.

Sayangnya, ketika malas dilakukan satu kali, kemudian diulang menjadi malas dua kali, lalu diulang lagi jadi malas tiga kali, dan seterusnya, maka pengulangan atas suatu aktivitas itu akan berujung pada terbentuknya habits atau kebiasaan.

Kebiasaan itu, jika pelakunya berada dalam kondisi sadar, ia dapat dikendalikan. Apa maksud dikendalikan?  Ya berarti bisa diatur. Misalnya kebiasaan positif bisa dengan sengaja dibentuk melalui cara melakukan satu aktivitas positif secara berulang-ulang. Pun kebiasaan negatif bisa dihindari dengan sengaja pula, melalui cara menghentikan satu kegiatan negatif yang disadari ternyata sedang dilakukan secara berulang-berulang.

Memang begitulah kebiasaan terbentuk. Suatu aktivitas, dilakukan secara berulang-ulang. Apabila diformulakan: HABITS = ACTION + REPETITION

Mengerikannya, jika pelakunya berada dalam kondisi tidak sadar, ia pasti tidak dapat pula mengendalikan terbentuknya suatu kebiasaan, entah itu kebiasaan positif atau pun negatif. Ya gimana mau mengendalikan, wong sadar aja nggak. Ini ibarat orang nggak tau mana madu mana racun, semuanya kelihatan seperti cairan aja. Ya kalau haus, pasti ditenggak dua-duanya. Kan ngeri. Maka kesadaran itu penting. Penting banget. Dan kesadaran selalu bermula dari pengetahuan terlebih dahulu. Maka mencari tahu, itu juga nggak kalah penting.

Apa akibatnya kalau suatu kebiasaan nggak dikendalikan oleh pelakunya?
Akibatnya.. suatu kebiasaan, pasti tetap akan terbentuk. Dan ujung dari kebiasaan yang telah terbentuk adalah kebiasaan tersebut akan mulai MENGENDALIKAN PELAKUNYA untuk terus mengulangi suatu aktivitas. Mending jika yang terbentuk adalah kebiasaan positif. Lah kalau kebiasaan yang terbentuknya negatif, piye? 

Oke saya cerita based on true story ya.
Nggak usah jauh-jauh, tentang dunia blogger aja, khususnya saya dan blog ini.

Terhitung sejak tahun 2012, saya memutuskan untuk menjadi seorang blogger. Setiap hari, saya berkomitmen untuk menulis setiap usai shalat subuh, lalu saya melakukannya. Ini tahapan dimana saya sebagai pelaku, sedang membentuk sutau kebiasaan. Action and repetition. Di tahap ini, saya perlu bekerja keras untuk konsisten. Karena sekali saja saya lalai dalam melakukan pengulangan, maka pola tersebut bisa ter-distract.

Seiring berjalannya waktu, konsistensi menulis postingan membuat myelin atau otot-otot saya menyimpan ingatan untuk bergerak menulis setiap usai shalat subuh. Alhasil, setiap hari, usai shalat subuh, saya selalu tergerak untuk membuka laptop, me-review aktivitas hari sebelumnya, menangkap hikmah dan pelajaran yang bisa saya bagikan kepada pembaca blog, kemudian mulai menuangkan semuanya di atas keyboard. Yang awal-awalnya kesulitan menentukan tema, membuat judul, lama-kelamaan jadi luwes aja gitu. Pun dengan gaya bahasa yang dipakai saat menulis, ketika awal-awal mungkin masih mirip-mirip dengan gaya bahasa penulis atau blogger yang dijadikan role model, tapi lama kelamaan, saya ketemu juga gaya bahasa sendiri yang original dan “so me” (baca: gue banget). Menulis pun ngalir aja. Mengikuti hentakan ide yang datang bertubi-tubi memenuhi pikiran, layaknya ngobrol. Inilah tahapan dimana kebiasaan sudah mengendalikan saya. Tentu kebiasaan yang positif, karena saya dengan sadar membentuknya di awal.

Nah, untuk membentuk kebiasaan positif, diperlukan effort yang besar untuk menjaga konsistensi pengulangan dari suatu aktivitas. Misal dalam kasus saya ini: aktivitas menulis blog. Ini effort-nya lumayan di awal-awal. Belum males, stuck, not in the good mood. Ah, so many excuse deh pokoknya. Satu-satunya yang menjaga supaya konsisten meski sulit adalah tujuan. Seberapa penting kita punya kebiasaan positif melakukan aktivitas tersebut harus ketemu dulu di awal banget.

Nah bagi saya, membentuk kebiasaan menulis itu jadi penting banget karena:
(1) Menulis sudah jadi suatu media untuk menjaga stabilitas emosi saya yang tidak tertuangkan dalam bentuk lisan dan perbuatan;
(2) Menulis bagi saya merupakan alat rekam jejak kehidupan yang efektif, karena selain mampu mengikat rasa dalam pengalaman, ia juga bisa mengikat ilmu-ilmu yang telah saya peroleh dari kehidupan;
(3) saya sudah sejak kecil ingin berkarir di dunia menulis, sehingga dengan sadar telah memilih penulis, sebagai profesi yang akan ditekuni. See, membentuk kebiasaan menulis jadi super penting bagi saya karena tujuannya jelas.

Maka alasan paling make sense atas pertanyaan: Kenapa seseorang kesulitan membentuk suatu kebiasaan yang positif? Ya barangkali memang belum ketemu tujuannya. Kalau sedari awal tujuannya belum jelas, maka wajar mau kebentuk atau nggak suatu kebiasaan, kita akan merasa nothing to lose.

Menariknya, berbeda dengan kebiasaan positif, untuk membentuk kebiasaan negatif justru effortless, nggak perlu kerja keras. Memang sih, segala yang buruk itu gampang dilakukan. Ya ibarat ke Surga itu menanjak sehingga perlu mendaki dan ini effort banget, sedangkan ke Neraka itu menurun, tinggal glundung aja ke bawah. Effortless, nanti juga sampai. Hehe, analogi yang mengerikan tapi bikin ngangguk-ngangguk, kan?

Mula dari semua kebiasaan negatif biasanya adalah malas. Dari malas inilah bisa kemana-mana. Dalam hal menulis pun demikian. Lamanya saya tidak menulis blog berawal dari sekali malas, kemudian dua kali malas, lalu tiga kali malas, hingga malas itu akhirnya mengendalikan saya. Sampai akhirnya ada hentakan perubahan yang terjadi. Di bulan Desember 2015 lalu, tepatnya ketika saya sedang berproses menuju pernikahan (ehem, nostlagia), saya mendadak kepikiran untuk melakukan sesuatu yang nyeleneh tapi menantang untuk dilakukan, yaitu: nge-blog bersama calon suami di H-30 sampai hari H pernikahan. Project tersebut sepakat kami namakan “Pangeran Surga Project – 30 Hari Menuju Pernikahan”.

Ide awalnya, yaitu:
(1) Saya dan calon suami tidak mau kehilangan momentum proses pernikahan yang sedang kami jalani karena tentu saja, tidak akan terulang dua kali. Dan kami berdua sepakat, menuliskannya adalah cara yang baik untuk mengikat rasa dalam pengalaman;
(2) project ini bisa menjadi jalan kami untuk berbagi kepada orang-orang yang sedang atau akan menjalani proses menuju pernikahan, khususnya anak-anak muda, yang sedikitnya bisa memberi gambaran dan mudah-mudahan inspirasi;
(3) Saya, sebagai perempuan yang diperbolehkan meminta mahar apapun, ingin sekali mahar yang penuh kenangan. Maka terinspirasi dari Habibburahman El Shirazi atau Kang Abik yang menuliskan novel Ayat-Ayat Cinta nya sebagai mahar untuk sang istri, jadilah saya meminta calon suami menjadikan hasil dari project menulis ini, yaitu buku, sebagai mahar untuk saya.

Singkat cerita, Pangeran Surga Project ini berjalan dan berbonus plus plus. Bonusnya, blog baru yang kami buat berdua khusus untuk tulisan-tulisan kami di H-30 menuju pernikahan, ternyata mendapat tanggapan luar biasa, sampai 35.000-an lebih pembaca. Traffic-nya kenceng banget, padahal blog Pangeran Surga tersebut terbilang newbie. Alhamdulillah. Disitulah semangat saya terpancing, karena selama 30 hari konsisten nge-blog bersama calon suami, myelin menulis pun terbentuk kembali.

Mau ngintip blog Pangeran Surga? Mau banget? Hehe.. boleh boleh, klik disini ya.

Jadi, dengan bangga saya mengucapkan Welcome Back to Blogger World, dear myself!
Saya akan kembali nge-blog, dan sememntara ini akan tetap dalam koridornya yaitu menulis segala hal yang berhubungan dengan kehidupan beserta hikmah dan pelajaran yang saya dapat based on true story, baik itu kisah sendiri maupun hasil pengamatan terhadap orang lain dan sekitar. Intinya, tetap sama, blog ini bermuatan Islamic Self Development, yang nuansanya nge-pop, khas anak muda dan yang berjiwa muda. Tsaaah.

Melalui postingan perdana ini, saya mengajak Anda semua untuk masuk ke dalam level kesadaran diri bahwa: hakikat kebiasaan, jika ia tidak dikendalikan, ia akan mengendalikan. So, take your own responsibility. Mari membentuk kebiasaan positif, mulai dari.. sekarang! Say no to “malas”😀

Salam,
Febrianti Almeera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s