Uncategorized

Suara Dalam Pikiranku

Pagi ini, dalam kondisi masih setengah sadar sesaat setelah bangun dari tidur, sebuah kata terngiang-ngiang sangat keras di pikiran. Entahlah, padahal malam itu saya nggak merasa mimpi apa-apa. “Habits! Habits! Habits!” Kurang lebih begitu bunyinya. Terus mendenging, berulang-ulang, hingga kemudian berhenti tepat ketika saya telah seutuhnya sadar bangun dari tidur.

Sepemahaman saya, hal seperti itu bisa saja terjadi akibat pengaruh pikiran bawah sadar kita. Ya, pikiran bawah sadar, kamu tahu? Pikiran bawah sadar itu melatarbelakangi hampir 80% tindakan kita. Seperti spontanitas, kebiasaan, nah itu semua terjadi dari pikiran bawah sadar. Semisal saat tangan kita tak sengaja menyentuh panci panas, otomatis kita akan menarik tangan dan mengaduh. Tak mungkin tertawa senang, kan? Itu contoh sederhananya.

Pikiran bawah sadar juga, seringkali, terbentuk dalam waktu yang tidak sebentar. Ia melewati serangkaian proses berulang, dimana otak kita merekam stimulus dan respon yang sama. Sehingga pikiran bawah sadar, jelas tanpa kita sadari, seringkali menghubungkan satu kejadian dengan kejadian yang lain, meski secara logika mungkin tak relevan.  Misal ketika seseorang mencium wangi suatu parfum, kemudian tiba-tiba perasaannya jadi bahagia. Apa hubungannya wangi dan perasaan? Ya, wangi parfum itu stimulus. Dan stimulus tersebut memicu lahirnya respon otomatis, yang dalam kasus ini adalah kebahagiaan. Coba bongkar kisah apa yang terjadi berulang pada orang tersebut. Bisa jadi di masa-masa yang lalu, seseorang yang spesial baginya sering menggunakan parfum tersebut saat bertemu dengannya. Dan pertemuan-pertemuan tersebut berisikan kegembiraan. Sehingga otak merekam hubungan yaitu wangi parfum menstimulasi kebahagiaan. Tentu akan lain ceritanya jika kisah orang tersebut pelik dan menyakitkan. Maka bisa jadi saat ia mencium wangi parfum tersebut, yang ada justru kesedihan dan sakit hati.

Begitulah. Maka setelah bangun dari tidur, saya tidak langsung beranjak ke kamar mandi. Saya merangkak dan duduk dulu sebentar di tepi kasur. Merenung. Kenapa terngiang kata “Habits” berkali-kali dalam kondisi setengah sadar tadi. Suatu spontanitas yang sebenarnya pasti ada pemicunya. Apakah itu?

Saya paham Anda penasaran. Pagi tadi, saya juga demikian. Mari ambil hikmahnya, based on my experiences.

***

Semenjak lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia bulan Desember 2014 lalu, kehidupan saya berubah, meski tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Satu hal yang paling terasa adalah perasaan lega. Lega rasanya telah berhasil menuntaskan proses panjang pencarian masalah, pengumpulan data, pengambilan keputusan judul, observasi lapangan, dan lain-lain. Legaaaa! Para fresh graduate pasti tahu rasanya.

Kelegaan ini ternyata membuat saya memutuskan untuk sedikit mengambil rehat dari kesibukan skripsi yang panjang. Singkatnya, hari-hari saya lebih banyak leyeh-leyehnya. Lama-kelamaan, sesuatu yang dilakukan berulang itu jadi kebiasaan. Termasuk pola makan. Karena lega, saya makan jadi nggak karuan. Mungkin efek senang. Tapi nggak bisa mengkambing hitamkan perasaan juga sih. Ya pokoknya berat saya naik aja sekarang. Lumayan bikin meringis kalau lihat angka timbangan. Kebiasaan lari pagi yang dulu rutin dilakukan setiap pk 06.30-07.00 pun perlahan hilang, tergantikan dengan kebiasaan leyeh-leyeh. Oh betapa besarnya efek rasa lega setelah lulus itu. Ia mengubah banyak hal. Namun satu yang tidak saya sadari, produktifitas saya menurun secara signifikan.

Pagi ini, tepat bulan ke-5 setelah kelulusan. Pagi ini, tepat bulan ke-5 saya mengulang-ulang kebiasaan tak bermanfaat yang padahal, sejak awalnya, hanya saya niatkan sebagai kesempatan rehat SEJENAK usai kelulusan. Maka pagi ini juga, tepat bulan ke-5 di tahun 2015, saya berkomitmen untuk mengakhiri ketidakproduktifan saya.

Hasil renungan di tepi kasur pagi ini membuahkan sebuah kesimpulan bahwa kata “Habits” yang terngiang berulang di pikiran saat kondisi saya setengah sadar merupakan sebuah alarm diri yang terpicu oleh stimulus ketidakproduktifan. Kesimpulan ini membuat saya bersyukur.

Begini, saya sejak kecil, dikaruniai sifat perfeksionis. Terlepas dari persepsi orang-orang tentang baik atau buruknya sifat tersebut, saya pribadi sangat yakin semua dititipkan-Nya dengan suatu maksud. Keperfeksionisan ini membuat saya sangat peka pada hal-hal seperti: kebersihan, kedisiplinan, keunggulan, kualitas, termasuk produktifitas. Maka setiap ada hal yang bertentangan dengan hal tersebut, saya suka komplain, atau sekarang sih saya langsung turun tangan memperbaikinya hingga sesuai. Contoh nyata, saya lagi ngepel di rumah. Kemudian, pintu kamar mandi terbuka, dan adik pertama saya, dengan santainya, melangkahkan kaki basahnya di atas lantai yang saya pel, wuiiih.. sudah pasti saya semprot itu. Juga saat ada yang terlambat ketika memenuhi janji, saya suka mendadak kesal. Apalagi kalau setelah orang yang janjian dengan saya itu datang (dalam kondisi telambat), kemudian tanpa merasa bersalah malah mengatakan, “Maklum ya.. jam Indonesia. Hehehe” Sudah cukup untuk jadi alasan saya gendok seharian itu. Hehehe.

Lantas, kenapa saya bersyukur? Begini, ketidakproduktifan diri sendiri telah memicu adanya suatu hal yang tidak sesuai dengan sifat saya. Maka pagi ini, teriakan “Habits” yang terngiang berulang itu adalah respon otomatis pikiran bawah sadar saya sendiri. Lalu kenapa kata “Habits”? Ini juga yang membuat saya berpikir. Oke, habits artinya kebiasaan. Selain sifat perfeksionis, saya juga memegang teguh satu pemahaman bahwa suatu hal yang dilakukan berulang, baik disadari ataupun tidak, baik diinginkan ataupun tidak, ia akan menjadi sebuah kebiasaan. Dan kebiasaan ini akan semakin menguat seiring dengan repetisi atau pengulangan. Nah bahayanya adalah apabila habits yang terbentuk adalah bad habits atau kebiasaan buruk. Sebab, apabila kebiasaan sudah mengakar, sungguh akan membutuhkan big effort untuk memutus kebiasaan tersebut.

Maka, terngiangnya kata “Habits” atau “Kebiasaan” itu adalah alarm diri saya. Saya seakan diminta untuk mengubah kebiasaan! Ia terpicu akibat ketidakproduktifan saya 5 bulan ini. Ketahuilah, apa yang saya lakukan sehari-hari tidak jauh dari handphone, scroll-scroll social media tanpa kepentingan, memenuhi janji apabila memang ada. Selebihnya? Nggak ada. Huhu down grade banget ini namanya.

***

Dari posisi duduk di tepi kasur, saya beranjak ke posisi berdiri. Jam di dinding menunjukkan pk 06.30 pagi. Dengan tekad bulat, saya memutuskan untuk mengawali langkah membangun kembali kebiasaan produktif. Saya mengambil gelas, mengisinya dengan air hangat, kemudian meminumnya. Subhanallah segar.. Tahukah, bahkan kebiasaan minum sesaat setelah bangun tidur seperti ini pun sempat hilang. Padahal tubuh kita membutuhkan refreshment sebelum beraktifitas. Hap hap hap! Saya bersiap, kemudian mengambil sepatu olahraga, dan pagi ini, tepat pk 06.45, saya berlari, sekaligus mencabik-cabik kebiasaan lama.

Sesampainya di track lari, saya menengadahkan wajah menatap langit yang dihiasi rimbunnya daun-daun dari pepohonan yang menjulang, kemudian berujar dalam hati, “Terimakasih kamu, suara dalam pikiranku.”

2 thoughts on “Suara Dalam Pikiranku

  1. setuju mba, memang pikiran bawah sadar itu sesuatu negatif bisa mempengaruhi pola2 hidup kita.. kalau menghancurkan pikiran negatif gymana mba langkah pertamanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s