Uncategorized

Pejuang Pemberi Maaf

Sebagian orang mungkin mudah memberi maaf, namun sebagian lagi begitu sulit. Apalagi bagi yang terbiasa memendam luka berlama-lama, dan malah merawatnya dengan telaten, tanpa sadar.

Segala kewajaran atas kemarahan, kekesalan, atau ketidakterimaan diri, selalu saja berhasil bertahta dalam hati, hingga menjadi paket komplit pembenaran yang membuat kita justru terjebak di dalam lubang penyiksaan terhadap diri sendiri yang membenci dan orang lain yang tak termaafkan itu.

Kali ini saya mohon izin berbagi, dari sudut pandang yang lain.
***

Ketahuilah, saya adalah orang yang sangat sensitif. Dulu, beberapa sahabat sepakat memberi saya label “FRAGILE”, layaknya kardus-kardus besar di gudang supermarket yang berisikan barang pecah belah. Hihihi.

Kurang lebih tiga tahun lalu, saya mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari seseorang. Namun menariknya, saya tidak yakin orang tersebut sadar atau tidak atas perlakuannya. Tapi ya mau bagaimana lagi, luka terlanjur membekas. Maklum, sensitif.

Di waktu-waktu berikutnya, saya bukan hanya tidak menyukai orang tersebut, namun juga membencinya. Bukan hanya satu dua hari, tapi bahkan bertahun-tahun.

Menariknya, saya baru menyadari banyak hal:

Pertama, ternyata yang paling tersiksa atas kemarahan saya tersebut adalah SAYA SENDIRI. Apabila nggak sengaja ketemu, emosi saya langsung naik, kepala pusing, dan secara sikap.. saya selalu berusaha mencari segala cara supaya dia atau saya tidak ada di satu tempat yang sama. Ribet pokoknya. Dianya? Syalala syubidu bidu santai-santai saja.

Kedua, ternyata banyak sekali kesempatan yang sengaja saya lewatkan hanya demi tidak berinteraksi dengan orang tersebut. Padahal kesempatan adalah karunia-Nya untuk bertumbuh dan berkembang.

Ketiga, ternyata mata saya jadi tertutup. Bukan, bukan mata yang ada di atas hidung itu. Ini tentang mata hati, penglihatan rasa. Beberapa kali orang tersebut menorehkan kebaikan, tapi semuanya tetap saja terlihat negatif di hadapan saya. Oh ya ampun, jadilah saya seseorang yang semakin lama, semakin subjektif.

Lama kelamaan, saya semakin tidak nyaman. Hingga suatu hari, seseorang menyampaikan pelajaran yang sangat berharga pada saya. Sederhana, tapi bermakna.

“Pew.. membenci itu menyakiti dirimu sendiri. Begitu pun saat kamu menahan pemberian maaf padanya, tak sadarkah siapa yang paling tersiksa, kamu kan? Sudahlah, jangan lihat siapa-siapa. Lihatlah dirimu sendiri, jiwamu merindukan kebebasan.”

Hati saya terketuk. Tak ada yang kebetulan. Mungkin ini saatnya.

Akhirnya tahun ketiga sejak kejadian itu, saya merancang kondisi untuk bertemu dan membuka obrolan dengan orang tersebut untuk pertama kalinya. Jujur-jujuran nih ya, karena gengsi saya gede banget waktu itu, maka sebelum ketemu, saya sampai olahraga dulu dan doa kenceng-kenceng, “Ya Allah.. lepaskanlah kekakuan dari lidahku, dan lembutkanlah hatinya, supaya ia mampu memahami maksud perkataanku. Aamiin.”

Bersedia. Siap. Ya!

“Assalamu’alaikum..” saya mencoba tersenyum, tangan saya dingin.
Mendengar sapaan saya, wajahnya berubah setengah kaget, “Eh wa’alaikumussalam..” disitu saya sadar, penundaan pemberian maaf juga menyiksanya.
“Sehat?”
“Iya.. kamu?”

Dan obrolan kami pun berlanjut. Kebencian saya? Hilang bak ditiup angin. Wussshhhh.. terbang begitu saja, entah ke arah mana. Saya semakin kehilangan alasan untuk membencinya.
***

Ternyata, memaafkan itu menyenangkan. Saya menyadari bahwa selama ini, saya terjebak dalam kerangka asumsi yang saya buat-buat sendiri. Saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Seperti terlepas dari penjara yang mengungkung saya bertahun-tahun lamanya. BEBAAAS!

Alhamdulillah. Skenario-Mu menuntunku.

Maka kesimpulannya, memaafkan itu justru adalah tentang menyelamatkan diri kita sendiri terlebih dahulu. Memaafkan juga adalah tentang melepaskan orang lain dari penyiksaan diri kita terhadapnya. Dan memaafkan, juga adalah tentang membuka berbagai peluang dan kesempatan, yang barangkali tak tampak saat mata hati tertutup oleh benci.

One thought on “Pejuang Pemberi Maaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s