Uncategorized

26 Orang Pilihan-Nya

“Tak tampak di dunia maya, bukan berarti tak bergerak di dunia nyata.” – Febrianti Almeera

Kemana aja? Kok nggak kelihatan. Biasanya seliweran di sosial media. Belum lagi blognya kok mulai banyak sarang laba-labanya lagi, kenapa nggak ditulis?

Hehehe, belakangan ini, tepatnya mulai beberapa bulan lalu, saya secara sadar menarik diri dari dunia sosial media. Ya betul, saya tau betul.. sosial media sangat banyak manfaatnya. Terutama untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan lain-lain. Setuju, sungguh saya sangat setuju. Maka ini bukan persoalan saya tidak tahu manfaatnya. Ini lebih kepada tentang persoalan pribadi. Jadi.. saya ini.. sempat menghadapi fase dunia terbalik. Lebih hidup di dunia maya, melalaikan dunia nyata.

Konkritnya konkritnya..

Oke oke.. honestly.. sebagai seorang extrovert, mayoritas energi saya didapatkan dari luar diri. Hal ini membuat setiap apresiasi yang menghampiri diri, akan bertransformasi menjadi sebuah asupan nutrisi bagi rasa semangat saya dalam berbagi. Misalnya ketika saya membuat sharetwit, kemudian usainya.. ada mention dari followers, “Alhamdulillah.. sungguh manfaat bagi saya.” atau “JLEB banget huhu, bikin #NgacaDiri” atau juga “MasyaAllah mbak, keren banget pola pikirnya,” maka secara otomatis, saya akan terdorong untuk semakin semangat. Alhasil saya terus berbagi, terus, terus, dan terus. Baik kah? Ya baik.. seandainya saja.. tidak berlebihan. Tapi kasus saya, tidak demikian. Saya terjebak dalam euforia palsu yang tercipta di sosial media. Sehingga dunia saya jadi terbalik.

Sampai akhirnya satu perasaan hampa menghampiri, dan kepekaan memberikan sebuah sinyal, “Hei Febrianti Almeera.. please back on the track. There is something wrong with you. Come on!” Ya, sinyal itu memang tidak hadir dalam bentuk suara, melainkan dalam bentuk rasa. Ya, rasa. Rasa gelisah. Gelisah tanpa sebab, yang sebenarnya.. pasti ada sebabnya.

Sangat bersyukur rasa itu menghendaki saya untuk berhenti sejenak dan mulai berintrosepksi, atau bahasa sayanya.. ngaca diri. Ngaca, ngaca, ngaca terus.. dan aha! Saya mulai menemukan kekhawatiran. Khawatir diri ini semakin pandai bicara, tapi semakin gagap beramal, dalam waktu yang bersamaan.

Oo Thankyou Allah, I will back to Your track.

***

Sudah dua bulan ini saya mengelola kelas Menulis Dengan Hati. Sebuah kelas pelatihan menulis yang ditujukan sebagai terapi diri. Metode yang digunakan dalam pembelajarannya adalah metode pelepasan emosi, sehingga proses menulisnya difungsikan sebagai sarana healing. Maka efek utama setelah menulisnya adalah lega. Plong! Selebihnya.. tentang jadi penulis hebat, punya karya, apalagi jadi best seller dan lain-lain, itu bukan tujuan utama kelas ini. Itu bonus.

Konsep ini Allah izinkan menjelma menjadi kelas nyata. Dengan takut-takut, saya mem-posting pembukaan Batch 1 dan Batch 2, dimana setiap batch terbatas 7 orang peserta saja. “Ada nggak ya yang mau?” Asli saya berpikir demikian. Tumben betul saya pesimis. Hehehe.. Ya karena hadirnya kelas ini berangkat dari value, bukan dari ramainya kebutuhan pasar. Jadi betul-betul mencoba, adakah kira-kira yang membutuhkan pembelajaran proses healing emosi melalui cara menulis? Adakah yang percaya pada saya untuk menyerahkan dirinya selama 4x pertemuan dalam 1 bulan dengan kurikulum yang telah saya susun? Bukan.. bukan saya tidak yakin pada konsep dan kurikulum yang saya susun itu. Sungguh bukan itu. Saya yakin. Hanya saja.. ini Batch 1 dan Batch 2. Berarti kelas perdana. Belum ada track record sebelumnya.

Kekhawatiran, perasaan hopeless, dan kesadaran bahwa diri tanpa daya itu justru meluncurkan sebuah bait doa:

“Ya Allah.. Engkau Maha Tahu segala hal, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Engkau Maha Tahu, bahkan sampai hal ter-mikro dalam diri seorang makhluk. Saya? Saya nggak tahu apa-apa ya Allah. Apalagi yang berhubungan dengan yang belum terjadi. Maka ya Allah.. ini ya Allah.. kuserahkan sebuah konsep kelas yang rencananya akan saya gelar di bulan Agustus 2014. Ini ya Allah detailnya (sembari membawa kertas corat coret konsep kelas Menulis Dengan Hati). Gini ya Allah, kalau Engkau ridho.. realisasikan kelas ini ya Allah. Urusan siapa muridnya.. ya siapa aja ya Allah, yang menurut-Mu cocok dengan pembelajaran kelas ini, yang menurut-Mu membutuhkan ini. Kan Engkau tahu betul kompetensi saya. Engkau juga tahu betul kurikulum yang kelak akan berjalan. Maka bebas ya Allah terserah Engkau saja. Intinya.. saya menyerahkan ini semua pada-Mu, apapun ketetapan-Mu, saya akan menjalankannya.”

Bait doa yang sangat berserah. Betul-betul berserah. Dalam bayangan saya saat itu, andaikata saya klaim bahwa project kelas Menulis Dengan Hati itu milik saya, maka saya yang akan ngurus. Jadi ketika saya menyerahkan project tersebut kepada Allah, maka insyaAllah.. Allah yang akan urus. Lagipula.. ukuran saya yang urus saja pasti saya urus dengan sebaik-baiknya, apalagi kalau Allah yang urus. Ya Allah.. sungguh saya menyerahkan segala urusan kepada-Mu, termasuk urusan ini.

***

Saat saya sedang menuliskan postingan ini, saya baruuu saja selesai mengajar di  pertemuan kedua bersama teman-teman pembelajar di kelas Menulis Dengan Hati Batch 4. Ya, sekarang sudah 4 kelas berjalan. Alhamdulillah..

MDHBLOG

Menariknya, tak ada proses marketing yang luar biasa dalam menjangkau mereka. Inilah bukti nyata bahwa mereka yang tergerak hatinya untuk mengikuti kelas Menulis Dengan Hati ini adalah benar-benar pilihan-Nya. Mereka berjodoh dengan pembelajaran di kelas ini, pun pembelajaran di kelas ini berjodoh dengan mereka semua. Allah mengurusnya dengan luar biasa. Pengaturan indah ketika mendapatkan profesi beragam hadir di kelas, dengan berbagai latar belakang berbeda. Perempuan dan juga laki-laki. Ada ibu rumah tangga, bidan, mahasiswa, kepala cabang sebuah bank besar, pengusaha, hingga mantan DJ klub malam. MasyaAllah.

Kali-kali kalau saya doang yang cari peserta, ah rasanya nggak akan dapat tuh akses ke mereka. Maka asli ini semua Allah yang urus. Semua ini skenario-Nya. Nyata.

Mayoritas masuk kelas dengan kebingungan “Sebenernya saya nggak tau ini kelas apaan, tapi rasanya saya mau aja.” Hehe. Tapi bagi yang sudah ikut, pasti akan ada pola pikir yang terbedah setelah pertemuan pertama, yaitu penyamaan visi misi kelas, yang kemudian memberi semangat untuk pertemuan-pertemuan berikutnya.

Total para pembelajar di kelas Menulis Dengan Hati sampai dengan Batch 4 ini berjumlah 26 orang. Merekalah 26 orang pilihan-Nya, yang seringkali membuat saya tertunduk merenung, karena pembelajaran yang saya berikan, tak sebanding dengan progress mereka di dalam kelas. Semuanya tumbuh pesat, seakan-akan pembelajaran tersebut adalah memang yang mereka butuhkan. MasyaAllah.. ini pun membuktikan bahwa (lagi-lagi) mereka adalah orang-orang pilihan-Nya, sebab Dia lah Allah yang paling tau konten yang telah saya siapkanmenjadi amat sangat berjodoh dengan kebutuhan mereka semua.

***

Berhubungan dengan pemaparan saya di awal, saya sangat bersyukur kini saya hidup tidak terbalik. Kini, ritme kerja saya di dunia nyata kembali jelas. Dan saya tetap berbagi secara cukup melalui dunia maya. Porsinya jelas, dan tidak ada yang berlebihan. Alhamdulillah, hidup seimbang, hati pun tenang.

Terasa pula, barangkali dulu saat dihujani apresiasi tiada henti, niat saya berbelok arah tanpa sadar. Entah mengharap puja dan puji, meninggikan hati tanpa sadar hakikat sebenarnya diri. Maka alhamdulillah sekali lagi, terasa juga kegelisahan yang seakan memberi alarm untuk back to the track saat itu, ia benar-benar membuat saya kembali to the track. Track siapa? Track yang sebenarnya, track yang diberikan oleh Allah, dengan garis finish hanya untuk menggapai ridho-Nya.

So, postingan kali ini saya dedikasikan kepada-Mu ya Allah, sebagai rasa syukurku bisa kembali menghidupkan cahaya yang sempat redup karena terbaliknya dunia. Juga saya dedikasikan kepada 26 keluarga baru pilihan-Nya yang barangkali tidak mereka sadari, bahwa kehadiran mereka telah membuktikan ke-Maha Besaran-Nya, kekuasaan-Nya, skenario-Nya, juga semakin menguatkan keyakinan saya pada-Nya.

Thankyou so much..  Alhamdulillah. Salam Menulis Dengan Hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s