Uncategorized

Diuji Nasihat Sendiri

Ternyata, setiap kata indah dan bijaksana, yang lahir atas bertambahnya pemahaman diri kita, pasti akan divalidasi. Ya, divalidasi. Adakah ia yang meluncur dalam bentuk rangkaian kata tersebut sudah menjadi sebuah perilaku yang kita sendiri lakukan, ataukah masih hanya sekedar pengetahuan yang bahkan diri sendiri pun belum tentu sanggup saat mengamalkannya. Hehehe. Jadi serius begini.

Sersan lah ya. Serius tapi santai. Bukan apa-apa, ini nyata. Alhamdulillah ketika saya menggali potensi diri dan menemukan bahwa salah satu potensi saya adalah berbicara, maka saya mengeksplorasinya. Tentu saya tidak mau menyia-nyiakan titipan Allah ini. Ini tools saya untuk ibadah. Saya berkeyakinan bahwa ketika saya mengoptimalisasikan potensi, itulah bentuk syukur tertinggi saya atas titipan-Nya. Hingga akhirnya saya pun menyadari, bahwa untuk dikategorikan ibadah, tak cukup hanya mengoptimalisasikan potensi dengan mengasahnya saja, tapi juga harus di jalan yang baik, yang benar. Maka, akhirnya jalan yang saya pilih adalah dunia inspirasi, khususnya Islam. Ah, mengingat latar belakang saya dari dunia gelap, sungguh karunia besar bisa memilih jalan ini *netes

Petualangan ini membawa saya pada banyak sekali pertumbuhan diri yang bermuara pada pertumbuhan pemahaman. Ini jelas memberikan efek pada pola pikir, yang tersampaikan melalui rangkaian kata. Banyak yang kemudian terpana, berdecak kagum menuturkan sederet pujian atas pencapaian. Tapi ada yang mungkin tidak orang-orang ketahui, bahwa setiap apa yang disampaikan lisan.. akan menemui serangkaian ujian yang memvalidasinya.

Ah tentu bikin bingung kalau baca teori tok. Saya juga kurang suka nulis yang isinya hanya teori. Maka inilah kisah sederhana, yang membuktikan.. bahwa validasi itu ADA :) Based on my experience, as usual..

***

 

Hari itu sidang Usulan Penelitian menanti saya dan 23 mahasiswa lainnya untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya, mempertanggungjawabkan setengah penelitian yang kami lakukan, sebagai langkah awal untuk memenuhi syarat kelulusan program S1. Pagi-pagi sekali paduan blazer putih, dress hitam, dan sepatu boots andalan sudah mejeng di balik lemari. Nggak biasanya. Karena biasanya baju apa yang akan dikenakan hari itu, ya dipilih hari itu juga. Hehe, kebiasaan sejuta umat kan.

Tapi hari ini lain, hari ini spesial, hari ini sidang Usulan Penelitian. Mungkin tidak begitu istimewa bagi yang tau bahwa sidang Usulan Penelitian itu cuma langkah awal, bahkan sangat awal, dari sebuah rangkaian panjang untuk sampai ke Sidang Skripsi. Tapi bagi saya, yang setahun lalu sempat mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan kuliah, hari ini jelas begitu istimewa. Ternyata bisa juga saya mengalami perubahan mindset, hingga akhirnya menggiring langkah saya hingga kesini, ke titik penghujung perkuliahan.

Oh iya, kenapa saya setahun lalu sempat memutuskan untuk berhenti kuliah? Apa penyebabnya? Dan kok bisa ada perubahan pola pikir? Boleh baca di postingan saya yang ini. Silakaaan >> “Sukses dengan Keseimbangan”

Langkah saya menderap memasuki kampus, bertemu dengan wajah-wajah khas mau sidang, yang banyaknya bukan teman seangkatan, melainkan adik-adik tingkat yang kala itu kecepetan lulusnya, alias calon-calon cum laude. Ckckck, kesusul. Tapi nggak apa-apa sih, kuliah kan bukan ajang kompetisi siapa menang siapa kalah. Hehehe, menghibur diri sendiri.

Ngomong-ngomong wajah khas mau sidang, yang saya maksud itu adalah wajah tegang, wajah khawatir, wajah deg-degan, wajah harap-harap cemas. Wajah seperti itu bertebaran di seluruh penjuru ruang sidang yang terbagi menjadi 4 ruangan. Menarik, hari itu.. saya nggak berwajah begitu. Tenang-tenang saja. Dan persis di sebelah saya, sahabat saya, Haris namanya, yang sama-sama angkatan atas, juga berwajah tenang, sama seperti saya. Apa karena sudah siap? Hehe nggak. Lebih karena saya dan salah satu sahabat saya ini sudah terlalu terbiasa dengan kondisi begitu. Selama kuliah, kami sama-sama terjun di dunia entrepreneurship. Bidang bisnis yang kami jalani seringkali diikutsertakan dalam kompetisi dan beasiswa wirausaha, yang mengharuskan kami masuk ke ruangan-ruangan serupa ruang sidang, untuk ya.. presentasi, atau lebih mirip seperti diintrogasi. Persis seperti suasana sidang. Maka wajah tenang ini muncul lebih karena sudah terbiasa dengan kondisi demikian. Soal kesiapan? Lumayan lah. Hehe.

Saya mengambil bidang penelitian mengenai Sumber Daya Manusia. Dan ah, saya selalu suka mempelajari dan meneliti perilaku manusia. Tapi sejujurnya.. tidak untuk skripsi. But rules is rules. Mau lulus ya harus skripsi. Oke, kembali lagi ke cerita. Hari itu saya mengamati wajah-wajah khas sidang ada dimana-mana. Pucat pasi tak berenergi. Ditambahan celotehan kecil khas baru keluar ruang sidang. Ya semisal, “Duh.. tadi kok bisa lupa ya jawaban gampang gitu.” atau “Kayaknya aku nggak lolos deh.” Hehe, khas banget kan. Pasti ada aja yang begitu.

Dengan penuh ketenangan, saya mantap melangkah memasuki kerumunan adik-adik tingkat berwajah khas peserta sidang itu. Saya menyemangati. Saya masih ingat persis kalimat-kalimat yang saya utarakan. “Udah.. tenang aja. Udah beres ini kan sidangnya. Yang penting udah ikhtiar yang maksimal. Sekarang ya santai aja, hasil kan hak prerogatif Allah. Nggak bisa diganggu gugat.” Saya tersenyum menatap wajah-wajah yang menangkap harap di hadapan saya, kemudian melanjutkan, “Apapun hasilnya PASTI YANG TERBAIK. Dan inget.. yang penting sudah ikhtiar maksimal. Oke?” Semua mengangguk, cerah.

Singkat cerita, di penghujung hari, mungkin bertepatan dengan jam pulang kantoran, semua peserta sidang dikumpulkan. Saya menatap wajah-wajah yang kembali cemas, dan saya kembali menyemangati. Sambil berbisik saya berkata lagi, “Pssst.. pasti terbaik. Tenang.” Ditambah dengan senyum di ujung kalimatnya, dan kepalan tangan khas tanda ayo semangat.

Tiba lah waktu pengumuman. Dosen ketua penyelenggara sidang kali itu memasuki ruangan sambil membawa lembaran kertas hasil penilaian Usulan Penelitian kami. Dosen mulai menyebutkan satu per satu nama, diiringi dengan hasilnya, lolos atau tidak. Satu per satu nama disebut, menggaungkan resonansi suara, memecah keheningan setiap orang di ruangan yang sangat fokus. Deretan hasil lolos meleburkan setiap hati yang harap-harap cemas, penuh ketegangan. Ucapan alhamdulillah tak henti-hentinya terdengar.

Lalu tiba pada penyebutan nama saya. “Febrianti Almeera dengan NIM 0906312..” dosen tersebut melirik pada saya, dan tersenyum. Saya? Tersenyum balik. Beliau menunduk lagi dan berujar, “Kamu ulangi penelitianmu ya..” DUARRRR!!!

Kala itu saya nggak kecewa. Ngulang ya tinggal ngulang. Yang membuat saya tersentak diam adalah.. rangkaian kalimat nasihat yang saya sampaikan pada adik-adik tingkat saya, seakan menghantam balik pada diri saya. Ternyata nasihat itu bukan untuk siapa-siapa. Nasihat itu nyatanya untuk saya. Terngiang-ngiang di kepala saya tentang apapun hasilnya pasti terbaik, yang penting sudah ikhtiar maksimal. Waaah.. saya betul-betul mendapatkan hikmah besar hari itu.

Usai dosen menutup pengumuman, kami semua dipersilakan pulang. Belum juga kaki melangkah, beberapa adik tingkat menghampiri, dan berkata, “Teh.. pasti yang terbaik.” Oooh.. sangat dramatis, bukan. Selang beberapa detik saya terpaku. Saya telah diuji nasihat sendiri.

***

 

Tidak ada satu kalimatpun yang meluncur mulus dari mulut kita, yang tidak akan divalidasi. Kesemuanya akan diuji. Adakah kebijaksanaan yang kita sampaikan, apalagi masih dalam bentuk pengetahuan, itu bisa juga kita laksanakan.. apabila dalam kondisi yang sama, justru kita yang mengalaminya?

 

“Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” – QS. Saff: 3

 

Eits, tapi juga jangan jadi enggan menyampaikan yang baik hanya karena takut divalidasi. Validasi perkataan, tidaklah buruk. Ia justru diberlakukan agar kita teruji, sesuai dengan yang kita katakan. Coba tengok fenomena saat ini, dimana orang-orang berlomba memasang topeng dengan bertutur yang tak sesuai perilaku. Jangankan Allah, tentu sebagai manusia pun kita pasti tak suka pada yang pandai berkata-kata, tapi memiliki sikap tak semestinya. Atau bahasa lainnya.. nggak punya integritas.

Allah Maha Baik. Dia menghadirkan validasi, supaya apa yang kita katakan menjadi benar-benar apa yang kita kerjakan. Kita jadi teruji. Kita jadi punya integritas. Dan bukan sembarang integritas, melainkan integritas di hadapan-Nya. Maka pemahaman tentang hal ini bukan menjadi hambatan bagi yang suka bertutur bijaksana menebar manfaat dan kebaikan, melainkan menjadi secercah kabar bahagia.. bahwa ketika sampai sebuah validasi atas perkataan, hadapi. Allah sedang menyangi kita dengan cara-Nya, memampukan kita menapaki pertumbuhan diri dengan diuji nasihat sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s