Uncategorized

Pengakuan Seorang Penulis

Saya mendengar seseorang mengatakan bahwa ada hal yang tidak relevan ketika seseorang mengatakan “I love writing”, tapi pada kenyataannya.. ia jarang menulis. Plakkk!! Tertampar. Siapa? Saya. Bahkan jika blog ini dianalogikan sebagai sebuah rumah, maka akan tampak beberapa jaring laba-laba menghiasi setiap penjuru ruang. Berdebu.

Blog ini sudah ditinggalkan penghuninya sejak 41 hari yang lalu. Ya, nyaris 1,5 bulan yang lalu. Itu pun tulisan terakhirnya adalah tentang jadwal mengisi seminar dan sharing di bulan Desember 2013, bukan sebuah kisah atau sharing ilmu seperti komitmen awal saat official blog ini launching.

Untuk saya yang dengan lantang mengatakan bahwa salah satu passion saya adalah menulis, dan untuk saya yang juga mendedikasikan diri sebagai seorang penulis, yang juga bertekad mengalirkan inspirasi melalui berbagai macam tulisan, maka.. ketika saya tidak menulis dalam jangka waktu cukup lama.. maka itu merupakan hal yang sungguh tidak relevan. Integritas sebagai penulisnya dipertanyakan. Ya mungkin ini adalah perkara yang sederhana bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagi saya. Ini adalah sebuah perkara penting. Berikut penjelasannya..

 

1. Menulis Cara Efektif Release Emosi

Saya termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang me-release emosi melalui tulisan. Ada emosi positif (hasrat bahagia, suka, gembira) dan ada juga emosi negatif (kesedihan, duka, kecewa). Memiliki emosi positif tentu tak bahaya. Tapi bagaimana dengan emosi negatif? Sekedar informasi, melupakan suatu kejadian yang tak mengenakkan atau mengecewakan tidak seketika membuat emosi yang menyeruak di dalam diri kita menjadi hilang. Emosi negatif yang dilupakan akan menjadi timbunan, terpendam. Letak emosi tersebut tetap berada di dalam diri kita, namun lebih dalam. Nah bahayanya, jika ada satu ‘sentilan’ saja yang mengingatkan kita pada nuansa dan memori yang terkait dengan emosi negatif tersebut, maka ia akan menyeruak ke permukaan dan DUARRR!! ia akan meledak jauh lebih besar dari sebelum emosi tersebut dipendam dengan cara dilupakan tersebut. Maka melupakan emosi itu hanya ilusi. Ia tidak hilang, melainkan terkubur sebagai bom waktu, yang sewaktu-waktu akan meledak.

Dari ilmu psikologi yang saya pahami, pengelolaan emosi, termasuk emosi negatif, yang terbaik adalah dengan cara disalurkan. Dan salah satu penyaluran emosi paling efektif yaitu melalui cara menuliskannya. Iya.. menuliskan apa yang kita rasakan. Seperti berbicara dan menyampaikan seluruh perasaan yang berada di dalam diri kita, tapi melalui rangkaian kata demi kata yang dituliskan. Ini salah satu cara release emosi.

HA1

Sungguh itu sudah saya buktikan. Dan ini terjadi juga pada tokoh penting Indonesia, Pak Habibie. Sewaktu alm. Ibu Ainun meninggal, Pak Habibie mengalami depresi luar biasa. Stres, dan bahkan nyaris menuju gangguan kejiwaan alias gila. Singkat kisah, pak Habibie pun dibawa ke seorang psikolog ternama untuk dibantu penyembuhannya. Setelah beberapa kali pemeriksaan, psikolog tersebut memberikan 2 buah pilihan pada keluarga dalam menghadapi kondisi psikis pak Habibie tersebut.

  • Pak Habibie dirawat inapkan di Rumah Sakit Jiwa
  • Pak Habibie tidak dirawat, namun didampingi oleh suster khusus selama hidupnya

Mendengar hal itu keluarga sungguh sangat sedih. Salah seorang dari mereka bertanya, “Tak adakah cara lain yang bisa dilakukan selain 2 pilihan tersebut?” Maka psikolog tersebut menjawab, “Ada..” Jawaban menyejukkan itu seperti sebuah tetesan mata air di tengah gurun pasir. “Ada pilihan ketiga, yaitu pak Habibie.. menulis.” Sontak semua keheranan. Psikolog tersebut melanjutkan, “Pak Habibie menuliskan segala yang dirasakannya, bahkan lukanya, kepedihannya, saat kehilangan alm. Ibu Ainun. Hanya itu.. Jika ini bisa dilakukan, insyaAllah.. ada  peluang besar bagi kesembuhan.”

Nah saat ini kita sudah tidak asing dengan kisah “Habibie Ainun” yang disajikan dalam bentuk novel dan juga diangkat ke layar lebar. Karya siapa? Itu karya pak Habibie yang sesungguhnya dibuat sebagai sarana terapi kejiwaannya, bukan ditujukan untuk dicetak, diprogram jadi best-seller, dan jadi romantika dunia perfilman yang membuat haru sekaligus iri anak muda saat ini. Tidak sama sekali. Tapi hasilnya? Ya! Luar biasa! Karena ada kekuatan ketulusan dan tumpahan emosi yang begitu jujur. Itu kekuatan karya yang sebenarnya. Dan hebatnya, semua pencapaian itu hanya BONUS. Karena tujuan utamanya adalah pak Habibie mampu me-release emosinya. Dan terbukti, kini beliau sudah sehat kembali.

HA2

Bagi saya dan siapapun yang memahami hal ini, tidak menulis dalam jangka waktu lama sama dengan menimbun banyak sampah emosi di dalam diri. Sebab itulah bila yang sering menulis kemudian tidak menulis, akan uring-uringan dan nggak tenang. Maka menyalurkannya.. ya salah satunya dengan menulis.

 

2. Ketika perkataan.. tak selaras dengan perbuatan

Yang paling menguatkan kenapa hal sederhana ini menjadi begitu penting adalah karena saya tiba-tiba teringat suatu hal. Atau lebih tepatnya, saya teringat sebuah ayat Al Qur’an yang pernah saya baca dan saya tafakkuri sebelumnya untuk suatu hal lain. Tapi sungguh.. ayat tersebut ada hubungannya dengan kisah saya ini.

“Betapa besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” – QS. As-Saff (61): 3

Allah sungguh tidak menyukai hamba-Nya yang mengatakan sesuatu tapi tidak mengerjakannya. Dalam bahasa dunianya ini cacat integritas, yang dalam bahasa langitnya bisa terdengar lebih kejam yaitu munafik. Hiii.. ngeri kan. Betulan ngeri. Naudzubillah. Begini begini.. meski saya lebih rutin membahas sesuatu yang berhubungan dengan self development khususnya bagi muslimah, tapi beberapa kali saya pun sempat berbagi mengenai dunia kepenulisan. Ini memang menitikberatkan lebih kepada proses ketika saya menulis buku. Tapi saya pun menyelipkan inspirasi, motivasi, juga tips-tips menulis kepada banyak sekali orang yang berhasrat menjadi penulis. Hey.. you’ve got the point?

Yes! That’s the point! Saya ini banyak bicara tentang menulis, juga menguatkan orang-orang untuk menulis, tapi sudah lama tidak menulis. Ya, saya mengatakan yang tidak saya kerjakan. Dan Allah membenci hal itu. Hiks.. inilah kenapa hal ini menjadi begitu penting bagi saya. Saya sudah berikrar juga di hadapan-Nya, dengan menghadapkan sebuah proposal hidup sejak 2012 untuk menjadi seorang penulis, dan Allah kabulkan. Tapi setelah tercapai, malah saya lalaikan. Ya Allah.. maafkan ya..

***

 

Dimulai dari sebuah postingan pengakuan ini, yang memang dituangkan secara jujur tanpa filter, yang memang tumpahan dan luapan emosi selama beberapa waktu tidak menulis ini, insyaAllah saya akan menulis kembali. Utamanya menulis dengan jujur dan tulus, tidak tertawan penilaian orang lain. Mengangkat kisah-kisah sederhana yang saya alami, rasakan, atau pun hanya sebuah pengamatan, untuk kemudian diambil hikmahnya dan dicari apa hubungannya dengan Allah.

Bismillah.. inilah pengakuan seorang penulis.. yang tertampar oleh perkataan seorang temannya, kesadaran akan timbunan sampah emosi yang tidak tersalurkan, dan yang paling kuat.. tertampar oleh QS. As-Saff (61): 3

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s