Uncategorized

Menginjak Bumi

Fase ramai-ramai belajar untuk menjadi hebat, jadi keren, jadi luar biasa, rasanya.. sudah selesai. Tapi bukan, bukan selesai dengan maksud tidak mau atau berhenti berupaya menjadi yang terbaik, keliru juga. Sebab manusia dengan segala potensi yang Allah titipkan tetaplah harus dioptimalkan dengan sebaik-baiknya, kan. Ini tentang sebuah pemahaman yang melengkapi langkah itu. Pemahaman yang seringkali baru akan didapati oleh orang-orang yang pada akhirnya menyadari bahwa langkahnya menjadi terbaik, telah menggiringnya untuk menjadi pribadi ambisius dan diperbudak dunia, bukan lagi menjadikannya alat penghimpun amal menuju Surga.

Ya, inilah pemahaman untuk mengimbangi keangkuhan tak disadari yang membuat diri terbang ke langit, untuk menginjak bumi, yaitu dengan memiliki sifat tawadhu dan rendah hati.

***

 

Suatu hari Rasulullah berkata akan memanggil seorang ahli Surga di antara orang-orang yang bermajelis dengannya. Maka pada hari itu, orang-orang mendekat dan merapat erat pada Rasulullah, berharap namanya lah yang akan disebut, didasarkan pada upaya taat yang telah dilakukan. Namun berlama-lama di majelis, tidak juga terdengar nama seorang ahli Surga tersebut.

Hingga di penghujung hari, hadir seorang berkulit hitam, berpakaian tak layak, dengan perut yang kempis, tanda makannya sedikit, atau lebih pasti lagi.. tak memiliki makanan yang bisa dimakan. Ia menghampiri majelis. Perlahan, ia pun mendekati Rasulullah dan dengan santun berujar, “Ya Nabiyallah.. sudikah kiranya engkau memberi syafaat padaku melalui doamu?” Mendengar itu Rasul pun tersenyum, kemudian berdoa dengan sangat khusyuk. Briringan dengan doa yang dipajatkan, seketika itu pula, terhembus wangi kesturi yang sangat semerbak harumnya, mengiringi terhantarnya syafaat dalam doa Rasulullah untuk orang tersebut. MasyaAllah..

Selesai didoakan, orang berkulit hitam tersebut menatap dengan teduh dan berbalik pulang, melangkah dalam kesederhanaan. Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah..  dia kah ahli Surga yang hendak kau sebutkan itu?” Rasulullah menjawab, “Ya, benar.” Seseorang berkata lagi, “Tapi bukankah dia hanya seorang hamba sahaya, ia hanya seorang budak.” Rasulullah tersenyum mendengarnya, kemudian berkata dengan lembut, “Sesungguhnya.. kita tak akan pernah mampu mengukur kedudukan seorang hamba di hadapan Allah hanya berdasarkan penglihatan kita.  Hamba sahaya tersebut memuliakan dirinya dengan kesabaran atas keterbatasan, juga dengan  kesyukuran atas nikmat yang bagimu mungkin tak seberapa.” Semua yang mendengar bergetar hatinya.

Di tengah banyaknya hati yang bergetar tersebut, seseorang yang penasaran kembali bertanya, “Lalu, kenapa tak kau angkat saja dia menjadi saudaramu, agar ia hidup dengan lebih layak ya Rasulullah?” Rasul pun menjawab dengan lemah lembut namun tegas, “Ketahuilah, apa yang kuberikan tak akan selayak yang akan Allah beri kepadanya. Kelak di Surga, ia akan diangkat sebagai raja. Begitulah balasan bagi ketawadhuan. Sungguh Allah mencintainya karena ia tak dikenal, tak berharta, dan bukan siapa-siapa di dunia.” Gemuruh jiwa menyeruak, menampar yang mengira diri sudah mulia dengan segala yang dipunya.

***

 

Sebentar! Hati-hati, kisah ini bukan menunjukkan bahwa kita lebih mulia dalam kefakiran. Bukan itu.

Begini.. Tidak semua orang ditakdirkan kaya, terkenal, atau menempati suatu kedudukan penting. Demikian adanya bukan sebab Allah tak adil, namun sebab Allah sudah mengukur segala sesuatunya dengan proporsional. Ditakdirkanlah beberapa orang untuk terkenal, untuk kaya, dan juga terpandang. Namun sungguh.. itu juga ujian, bukan indikator kemuliaan di hadapan-Nya. Juga ada yang bertakdir sebaliknya, yang bila ia punya kesempatan berkeluh kesah namun tak menggunakannya, maka Allah mencintainya.

Barangkali lebih mulia ia yang kehadirannya tak dihiraukan dunia, namun kemalangannya menghantarkan ia merunduk, mendekat pada Allah. Contoh nyata orang berkulit hitam tadi. Di bumi ia bukan siapa-siapa, namun ia diperbincangkan dan dirindukan para penduduk langit. Maka tawadhu adalah tentang lepasnya cinta pada dunia, untuk menjadikannya sebagai kendaraan saja. Adapun Allah berikan kesempatan menempati kedudukan di dunia lebih dari yang lainnya, itu amanah yang wajib dioptimalkan fungsinya untuk ibadah, merangkap peran sebagai ujian yang harus berhati-hati ketika dijalankan. Salah satu pembelajarannya bisa dibaca di postingan “Ujian Popularitas”. 

2 thoughts on “Menginjak Bumi

  1. Semua takdir untuk orang mukmin adalah baik bagianya, jika kaya bersyukur, itu baik bagianya. jika miskin bersabar, dan itu baik baginya..

    Makasih sudah menginspirasi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s