Uncategorized

Ujian Popularitas

Kepekaan menerapkan sebuah nasihat untuk menjadi pembersih bagi kekotoran hati adalah karunia. Postingan kali ini ditulis sebab saat ini begitu banyak orang seakan-akan berlomba untuk menjadi populer. Belum lagi kehadiran media sosial seperti twitter, instagram, youtube, dan masih banyak lagi, saat ini bisa dijadikan media untuk mendongkrak kesan dan menjadikan nilai diri tampak jauh lebih wah dibandingkan aslinya.

Utamanya ini adalah nasihat untuk diri yang menuliskan, sebab yang menulis pun khawatir akan kegersangan yang bisa membuat siapapun kehausan. Haus popularitas. Perenungan ini diawali oleh sebuah hal menarik, yang nyata.. yang pernah dialami.

***

 

Belakangan ini saya sedang suka nonton video-video kisah nyata yang inspiratif. Alhasil, setiap ketemu teman, saya pasti nanya, “Kamu ada video nggak? Kalau ada.. mau dong di-copy ke laptopku. Boleh, kan?” Hehe.. aktivitas begini ini menyenangkan lho. Sekalian mengganti topik obrolan standar yang seringkali mengawali pertemuan kita dengan teman, seperti: “Hey, apakabar?” atau “Kemana aja ih? Udah lama nggak keliatan.” atau “Haaaaiii.. eh, kok gemukan/kurusan ya.” atau “Sibuk apa sekarang?”

Nah akhirnya, file video di laptop saya jadi bertambah buanyaaak. Dan suatu malam, saya tertarik untuk menonton kumpulan video dalam salah satu folder berjudul “AA GYM”. Jujur, saya banyak sekali belajar dari sosok Aa Gym. Kemudian saya membuka satu per satu file video yang durasinya rata-rata 3-10 menit. Sungguh, saya meyakini tidak akan pernah ada kejadian yang kebetulan. Semua sudah didesain oleh Allah supaya terlaksana, dengan suatu maksud tertentu yang pasti baik. Maka tergeraknya saya menonton deretan video Aa Gym malam itu pun, pastilah bagian dari skenario-Nya, dari rencana besar-Nya.

Saya menemukan video-video talkshow beliau di beberapa media televisi, terkait dengan kejadian waktu isu poligami diangkat ke publik. Bukan.. bukan poligaminya yang mau saya bahas, melainkan pesan dibalik kejadian itu. Salah satu video menayangkan liputan media yang mengangkat perjalanan Aa Gym. Diawali dari dakwah dengan jumlah jemaah yang seadanya, namun terasa begitu syahdu. Kemudian keistiqomahan bernuansa syahdu itu membuat Aa Gym semakin dikenali, dengan kata-kata yang semakin mahir menyentuh hati, kepiawaian bertutur terus meninggi, dan orang-orang yang menyukai, jumlahnya semakin banyak hingga sempat tak terkendali. Kesibukan bertambah karena diundang kesana kemari, mulai dari lintas kota, lintas pulau, hingga lintas negara. Setiap bisnis yang dibangun pun begitu buka langsung laris, menghasilkan omzet yang berlimpah. Nama semakin mencuat, popularitas seakan dalam genggaman. Hingga suatu ketika, atas izin Allah, semua kesuksesan yang mengundang decak kagum tersebut hilang dalam sekejap. Wusssh! Semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya lenyap nyaris tak bersisa. Ya, dalam kasus tersebut, poligami pemicunya. Tapi saya meyakini, itu hanyalah jalan untuk terjadinya episode ini. Seandainya pun tidak melalui hal tersebut, episode jatuh itu akan tetap ada, melalui cara-Nya yang lain. Inilah episode kehidupan yang membawa pembelajaran layaknya yang tertulis dalam QS. Ali Imran: 26.

 

قُلِ الَّلهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ
Katakanlah: “Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki.
وَتَنْـزِعُ الْـمُلْكَ مـِمَّنْ تَشَـآ وَتُـعِزُّ مَـنْ تَشّـآءُ
Dan Engkau mencabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. (Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki.)
وَتُــذِلُّ مَــنْ تَشَــآءُ
Dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. (yaitu dengan mencabut kemuliaan darinya.)
بِــيَــدِكَ الْــخَيْــرُ
Di tangan Engkaulah segala kebajikan
إِنَّــكَ عَــلَى كُــلِّ شَـــيْءٍ قَــدِيْــرٌ
Sesungguhnya Engkaulah Maha kuasa atas segala sesuatu.

 

Segalanya berubah seketika, layaknya peribahasa “Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga.” Pujian berubah menjadi cacian. Sanjungan berubah menjadi hinaan. Media yang awalnya meliput penyampaian kebaikan, berbalik mengejar-ngejar dan menginterogasi meminta penjelasan. Orang-orang yang ramah, berubah menjadi geram dan penuh amarah. Seakan lenyap segala kemuliaan, disitulah Allah sedang mengajari makna popularitas sebagai sebuah ujian.

Di video yang lain, masih terkait dengan kejatuhan Aa Gym saat itu, Ghaida Tsurayya, anak pertama Aa Gym dan Teh Ninih yang pada saat itu masih remaja, dihadirkan ke studio untuk memaparkan pendapatnya tentang kejatuhan Aa Gym. Dan tebak apa yang dikatakannya. Ghaida justru mengungkap syukur.

“Alhamdulillah.. Ghaida malah bahagia dengan kejadian ini. Soalnya dulu, waktu bapak masih suka ceramah kemana-mana, Ghaida sama adik-adik kayak nggak punya bapak. Kalaupun kita ikut bapak ceramah, kitanya tetep ditinggal main sendiri. Ghaida ngerasa bapak tuh jauuuh, kayak orang lain.” Tampak di sudut mata Aa Gym mengalir tetesan air mata, pundaknya gemetar menahan tangis. Ghaida melanjutkan, “Sekarang, dengan kondisi gini, meski dari harta nggak sepunya dulu, tapi Ghaida dan adik-adik punya bapak lagi.” Duarrr.. air mata yang tertahan, menghambur.

Aa Gym menanggapi dengan sedikit terisak, “Kisah saya bukti nyata.. bahwa kejadian buruk itu cuma kemasannya saja yang tampak buruk. Padahal bisa jadi itu merupakan karunia Allah yang belum kita sadari maksud baiknya. Dan yang anak saya sampaikan tadi, itu salah satunya. Selain itu juga saya jadi tidak lagi terjebak dan dikendalikan dunia. Sungguh di episode ini Allah banyak sekali mengajari saya. Tentang kuasa-Nya, tentang keikhlasan, tentang kedudukan, tentang makna kepemilikan yang sejatinya hanya dipinjamkan, dan masih banyak lagi. Allah lebih tau bahwa saya sudah kelewat batas. Meski semua terpana melihat dan mendengar yang diri ini sampaikan, saya dan Allah lebih tau kualitas diri yang sebenarnya, yang bisa jadi belum mengamalkan yang dikatakan. Allah juga lebih tau, seandainya saya diizinkan untuk terlena lebih dari ini, pastilah saya tidak sanggup menanggung pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Allah sungguh Maha Baik. Semoga ini bisa menjadi pembelajaran bagi siapapun di luar sana, yang menghendaki sanjungan, pujian, dan kekaguman atas diri. Popularitas itu ujian, beraaaat sekali. Bukan tujuan, bukan juga pemberian layaknya hadiah, ia adalah ujian. Saya paham bagi yang masih mengejarnya karena ingin menebar kebermanfaatan yang lebih luas. Tentu tak apa, sebab populernya tidak keliru. Yang keliru ya nafsu manusia yang dihembuskan dalam rasa diri populer. Coba lihat.. Rasulullah juga populer, bahkan jauh dengan tingkat popularitas siapapun. Jadi populer itu boleh. Tapi pahamilah.. populernya karena Allah yang angkat derajatnya, bukan dicari-cari atau menghamba tanpa sadar. Saya hanya mengingatkan, sebagai yang sudah mengalami. Berhati-hatilah.”

Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah tontonan. Adapun bertindak lebih, pastilah untuk menganalisis perbuatan orang lain. Lupa berkaca bahwa bisa jadi itu peringatan bagi diri kita, yang ketika kita diizinkan menyaksikan hal tersebut, pastilah Allah punya maksud supaya kita berpandai dalam menasihati diri sendiri.

***

 

Sesungguhnya menjadi terkenal sama sekali tidak identik dengan kesuksesan ataupun kemuliaan. Pahamilah, wujud nyata dibalik daya tarik popularitas adalah sebuah ujian berat, karena keberadaannya sangat disukai oleh nafsu. Bila iman tak kuat, popularitas hanya akan memudahkan kita untuk menjadi orang munafik yang hanya sibuk membenahi topeng. Sibuk mempercantik kemasan, padahal isi jauh berbeda. Diri bisa saja berhasil menjadi pribadi yang dikagumi banyak mata, tapi hati gelisah tak bisa berdusta. Palsu.

Popularitas juga bisa membuat diri terjebak penilaian manusia, dan lupa pada hakikat penilaian Allah yang lebih utama. Maka adalah betul bahwa tahta adalah salah satu ujian abadi yang setia memvalidasi ikrar iman manusia sepanjang hayat. Hati-hati tergiring dalam euforia puji dan puja yang membuat terlena, menyeret diri dalam deras nafsu belaka. Sebab jika syaitan tak lagi mampu menggoda dengan maksiat, ia mempersilakan kebaikan terlaksana namun menggoyang niat. Kita diizinkan melakukan kebaikan, namun kemudian dihembuskan rasa bahwa diri sudah hebat, sudah mampu, paling tau, paling bisa, mengenyahkan bahwa semua itu sejatinya terjadi atas izin dan kuasa Allah. Ya, begitulah sunatullahnya. Iman naik tingkat, godaan naik derajat.

Kita dapat mendustai sekitar bahkan diri, tapi tak akan bisa mengelabui Allah yang Maha Mengetahui segala isi hati. Amat mudah bagi Allah menyingkap segala dusta dan aib tersembunyi, tanpa satu pun mampu menghalangi. Maka soal kedudukan di dunia, suka-suka Allah saja. Tentu Allah lebih tau mana yang pantas bagi kita, dan mana yang kita lebih mampu dalam mempertanggungjawabkannya kelak.

6 thoughts on “Ujian Popularitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s