Uncategorized

Pit Stop (Titik Balik)

“Tak apa terhenti langkah, asal bukan untuk menyerah, melainkan untuk menyusun kembali arah.” – Febrianti Almeera

Dari sebuah film berjudul 5cm, ada sebuah percakapan yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya. Ketika salah seorang pendaki gunung yang masih awam itu mulai kelelahan namun terus saja melangkah, kawannya yang lain menghampiri untuk kemudian berkata,

“Hey.. kalau memang sudah capek, istirahat aja dulu, kumpulin tenaga. Nggak apa-apa kok. Perjalanan kita di depan masih jauh.. Jangan sampai karena ingin cepat sampai, akhirnya dipaksain. Bisa-bisa nanti kita malah kehabisan energi di tengah jalan, dan nggak sampai ke tujuan.” – 5 Cm Movie

Makna percakapan itu dalem banget kalau buat saya. Percakapan yang menjadi sebuah pematik kecil, yang kemudian membuka rangkaian kenangan besar dalam perjalanan kehidupan saya. Belum lama, baru-baru ini terjadi. Dan saya pun tertelan dalam nostalgia yang dulu saya caci, namun sekarang membuat saya senyum-senyum sendiri, sebagai tanda syukur karena pernah mengalami.

***

Sejak kecil, saya adalah orang yang tumbuh dengan obsesi tinggi. Harus jadi yang terbaik, harus jadi nomor satu, harus berbeda, harus! Terlatih berimajinasi tinggi, sehingga punya banyak mimpi besar, dan harus bisa terwujud. Harus! Prinsipnya adalah “If I want to be THE BEST, do the BEST!” Nggak pernah ikut lomba untuk kalah. Harus menang! Nggak pernah sekolah untuk nggak jadi juara kelas. Harus minimal 3 besar!

Sifat ini terbawa sampai dewasa. Saya nggak mau berkarya yang biasa-biasa saja. Harus kreatif! Juga nggak mau terlibat di kegiatan yg standar. Harus terobosan! Dalam pandangan saya saat itu, memang seperti itulah harusnya hidup. Kita ini berlomba-lomba dengan banyak orang di sekitar untuk menjadi hebat. Dan sebab hidup berbatas, maka jangan sampai tidak jadi apa-apa. Nah sifat saya itu semakin dikuatkan ketika bermunculan motivator yg bilang “Jadilah berbeda! Selangkah lebih maju dari yang lainnya!” Wuih.. terbakaaaar! Hehehe..

Saya menjelma menjadi seorang Hardworker. Kerja keras tanpa batas demi menjadi yang terbaik. Obsesi tinggi, arogansi ikut meninggi, sehingga tanpa disadari.. mulai merasa hebat akibat upaya sendiri. Hingga kemudian Allah hadirkan episode ujian besar. Sangat besar, menjadi sebuah rambu peringatan keras, dan berbekas hingga sekarang.

Di akhir tahun 2012, Allah mewujudkan semua impian-impian besar saya, nyatakan semua hasil upaya. Ini berdampak pada popularitas yang menanjak, impian yang menjelma menjadi karya nyata, kehidupan yang berlimpah harta, dan tentu.. membuat saya semakin terlena. Saya lupa memijak bumi, merasa semua hasil sendiri.

Sampai tiba suatu masa.. meski semua terwujud menjadi nyata, tapi hati tak tenang adanya. There’s something wrong, but what? Saya tidak menyadari, padahal hati yang tidak tenang itu adalah sebuah sinyal Allah. Saya teruuus saja berjalan menapaki tangga obsesi mimpi yang lebih tinggi lagi dan lebih tinggi lagi. Sampai akhirnya Allah ambil semuanya. Wussssh! Dihadirkan sebuah kejadian sekejap, yang berdampak hebat. Namun mohon maaf, tidak bisa diceritakan disini🙂

Tepat di awal tahun 2013, akibat sebuah kejadian yang sebetulnya sederhana itu, saya tiba-tiba kehilangan percaya diri, takut bertemu orang, merasa tidak berdaya, bahkan kemampuan-kemampuan yang dulu mengantarkan saya ke posisi pencapaian saat itu pun seakan lenyap entah kemana.

Saya kira, dampak seperti itu hanya akan berlangsung sebentar. Tapi hari demi hari yang saya lewati, saya menemukan kondisi justru kian memburuk. Dan yang paling menggelisahkan saya adalah hati saya pun semakin tidak tenang. Ada apa ini? Sungguh saya tidak paham. Otaknya nggak sampai untuk menemukan nama bagi kejadian dan kondisi saya saat itu. Aneh.

Akhirnya saya memutuskan untuk memasuki fase hidup yang saya namakan Pit Stop. Kalau di pertandingan balap mobil F1, mobil-mobil yang sudah ‘kelelahan’ akan memasuki PitStop untuk dibenahi sehingga kinerjanya bisa kembali seperti semula. Ya, Pit Stop, tempat untuk berhenti dan memperbaiki.  Meski jujur, saat itu pun saya nggak tau apa yang harus diperbaiki. Pokoknya saya memutuskan untuk berhenti dulu sejenak dari langkah-langkah saya.

Singkat kisah.. fase Pit Stop itu ternyata memakan waktu 7 bulan lamanya. Membawa berbagai pembelajaran besar. Semoga bisa menjadi cermin bagi Anda yang membaca, karena tentu tergeraknya jemari untuk membuka artikel ini pasti sudah diatur oleh-Nya, bukan sebuah kebetulan. Barangkali Allah ingin berbicara, dan artikel ini washilahnya. Dan khususnya, saya menulis ini untuk meninggalkan jejak dan menjadi pembelajaran bagi saya sendiri, supaya tidak jatuh di lubang yang sama. Bismillah..

Pertama, fokus jadi yang terbaik, langkah besar.. itu sangat boleh. Tapi yang  perlu diperhatikan adalah.. niatnya. Untuk apa kita menjadi terbaik itu? Supaya apa? Begini.. saat masih dalam bentuk rencana, niat kita insyaAllah masih lurus. Misal demi kontribusi kebaikan, menjadi bagian dari penegakan kebermanfaatan, dan lain-lain. Tapi seiring berjalannya waktu, begitu kita mulai mendapat pengakuan, dihujani pujian demi pujian.. masihkah lurus niatnya? Saat berbagai lukisan di alam mimpi menjelma menjadi nyata, riuh tepuk tangan membahana.. masihkah lurus niatnya?

Itulah.. Langkah besar yang tidak diimbangi dengan pelurusan niat setiap waktu, akan menuai kegelisahan tanpa disadari.

Kedua, kalau pencapaian diri sudah demikian.. biasanya syaitan mulai berbisik-bisik ke dalam hati, “Tuh kaaan.. kamu memang hebat! Ini semua hasil tanganmu, upayamu, kerja kerasmu selama ini! Hebat banget!” Dan gawatnya, peran Allahnya perlahan-lahan mulai menghilang. Padahal Lahaulla walaa quwwata illabillah. Tiada daya dan upaya selain atas seizin Allah.

Ini kalau Allah masih sayang sama kita, ya Allah pasti akan ambil semua yang dikasih-Nya. Semuanya.. bahkan tanpa sisa. Kenapa? Ya supaya kita sadar. Sadar bahwa ada sesuatu yang salah. Dan meski kita kecewa, tapi habis itu jadi berpikir.. Kok jadi begini? Ada apa?

Namun ketika hal tersebut terjadi, itu justru merupakan bentuk dari kasih sayang-Nya. Dia memberi kita kesempatan untuk kembali merenungi, apa niat awal kita menapaki jalan ini. Allah memberikan kita kesempatan untuk meluruskan lagi yang belok-belok. Apa itu? NIAT. Sebab kalau nggak dibuat seperti itu, barangkali langkah kita akan melenceng lebih jauh lagi.

Ketiga, saat proses pelurusan niat tersebut berlangsung, Allah sedang mengajari bahwa penilaian manusia seharusnya bukan lagi jadi patokan. Bagaimana ngajarinnya? Nah.. dalam fase Pit Stop, kita sedang berhenti sejenak untuk merenungi, kemudian berbenah diri, meluruskan niat kembali. Maka biasanya, dihadirkanlah orang-orang yang kemudian bertanya-tanya, “Kamu kok jarang muncul sih sekarang? Kemana aja?” Begitu bergetar hati kita sebab ada rasa ingin menunjukkan bahwa kita sedang meluruskan niat, muncul ingin pamer lagi, ya disitu Allah tempa lagi, tempa lagi, tempa lagi.

Sampai kapan? Sampai akhirnya kita betul-betul merasa bahwa memang betul.. bukan penilaian-penilaian seperti itu yang dicari. Bukan. Jauh lebih penting menapaki yang bisa ditapaki, menjalani yang bisa dijalani, berbuat yang bisa diperbuat, dan Allah ridho terhadap kita. Hingga ketika hadir kembali pengakuan, pujian, dukungan.. hati kita sudah tidak bergantung lagi pada semua itu. Itu jadi terasa hanya sebagai bonus :’)

***

Fase Pit Stop itu menjadi sebuah titik balik yang besar dalam kehidupan saya. Meski berat, tapi sungguh.. setelah menjalani, ternyata nikmat sekali rasanya. Berkarya pun jadi leluasa, tak tertawan penilaian orang. Lurus, dijaga niatnya, terus terus terus.. Saya betul-betul bersyukur. Pemahaman yang didapat dalam bentuk pengalaman itu jauh lebih mengena. Yes, Experiental Learning. Priceless!

“Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan.” – HR. Bukhari

Perilaku kita itu.. meski sederhana, kalau lurus niatnya.. Wih.. Dan barangkali, dulu.. ketika langkah kita besar-besar, hasilnya bagus-bagus, impian satu per satu terwujud semua, eh ternyata niatnya belok. Jadilah sia-sia. Sungguh sayang..

Alhamdulillah saya sangat bersyukur kembali mengalami titik balik. Saat ini, saya siap keluar dari Pit Stop, dengan tambahan prinsip “Luruskan Niat Setiap Saat!”

***

Saya mendoakan semuanya.. semoga tidak buruk sangka sama Allah atas skenario apapun yang terjadi di dalam kehidupan, sebab bisa jadi itu merupakan titik balikmu, namun sebelumnya.. harus masuk Pit Stop terlebih dahulu. Dan masuk Pit Stop dalam kehidupan itu bukan hukuman, melainkan bentuk kasih sayang-Nya pada kita, supaya tidak melenceng terlalu jauh.

Dan terakhir.. fase ini mengajari saya bahwa.. sungguh.. ada yang jauuuh lebih nikmat dari saat-saat ketika kita dikagumi dan dianggap lebih, yaitu.. justru ketika kita dianggap setara, dan dijadikan teman terbaik, untuk tumbuh bersama-sama :’)

“Bukan soal riuhnya tepuk tangan atau banyaknya jumlah piagam penghargaan, melainkan soal seberapa besar nilainya untuk jadi amal” – Febrianti Almeera

3 thoughts on “Pit Stop (Titik Balik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s