Uncategorized

Tongkat Musa

Sebuah kisah yang waktu pertama kali aku dengar dari yang mengisahkannya, membuat duniaku seketika cerah. Ya memang, pada waktu aku dengar kisah itu dulu, duniaku lagi gelap gulita, lagi banyak bingung. Mungkin sepertimu. Ya kamu, yang membaca ini. Tentu saja semua bukan kebetulan kan. Kenapa kau mampir ke deretan tulisan ini pun, pasti ada maksud-Nya. Pasti.

Eh maaf, itu bukan kisah seperti dongeng, tapi kisah nyata yang pernah terjadi, yang akan memberikan pelajaran bagi kita bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan. Juga belajar tentang bagaimana Allah ‘bekerja’. Belajar dari kisah Nabi Musa ‘alaihisalam dan tongkatnya. Mungkin ada yang tak begitu suka kisah-kisah nabi begini, tapi percayalah padaku, baca dulu sampai akhir. Aku yakin, ketibaanmu di tulisan ini, sudah didesain oleh-Nya. Dan bisa jadi, merupakan jawaban dari kebingunganmu. Kalau lagi bingung.

***

 

Musa mendapatkan perintah dari Allah untuk membawa Bani Israil menuju ke tanah impian, tanah Palestina. Maka pada waktu matahari terbit, Musa menunaikannya. Fir’aun menjadi sangat marah karena Musa membebaskan Bani Israil tanpa sepengetahuannya, dimana Bani Israil masih merupakan budak Fir’aun. Maka di saat yang sama, Fir’aun bersama pasukannya pun menyusul Musa dan Bani Israil yang ternyata.. di tengah perjalanan, Musa dan Bani Israil ini dihadang oleh lautan yang menghalangi mereka untuk menuju tanah Palestina tersebut. Mereka terhambat langkah. Dan semakin terdesak karena Fir’aun beserta pasukannya semakin dekat.

Perhatikan QS. Asy-Syuara ayat 61. Digambarkan bahwa saat itu para pengikut Musa, yaitu Bani Israil berkata, “Innaa lamudrokun” artinya “Sungguh kita benar-benar akan tersusul.” Perhatikan kalimatnya yang begitu pesimis. Tapi apa yang Musa katakan? Lihat ayat berikutnya, ayat 62. “Kalla. Inna ma’iya rabbi sayahdiin”  artinya “Tidak akan tersusul. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Kemudian di ayat 63, Allah memberi wahyu kepada Musa untuk memukulkan tongkat milik Musa ke laut. Kemudian Musa meyakininya dan melakukannya. Lautan pun terbelah. Musa dan Bani Israil pun menyeberanginya. Dan ketika tiba giliran Fir’aun dan pasukannya menyeberang, lautan tertutup untuk kemudian menenggelamkan mereka.

Mari kita mengambil pelajaran. Siaaap!

 

#1 Solusi itu DEKAT

Nabi Musa terjepit bersama kaumnya, Bani Israil. Di depan mereka laut, di belakang mereka Fir’aun dan pasukannya siap menyerang. Terasa seperti buntu,tidak ada harapan sama sekaliTapi Musa tetap pada keyakinannya bahwa Allah pasti membantu. Allah pun membantu Musa dengan berkata, “Pukulkan tongkatmu.” Ya, tongkat! Pertanyaannya, apakah tongkat itu baru saat itu diturunkan dari langit, atau memang sudah sejak dulu ada di tangan Musa? Hey, tongkat itu sudah sejak dulu ada bersama Musa. Ternyata solusinya ada di tangan Musa sendiri, yang digenggamnya. Tongkat yang pada akhirnya membelah lautan itu, sedari awal, sudah dipegang oleh Musa.

Perhatikan. Bisa jadi, apa yang kita butuhkan, sebetulnya sudah ada di sekitar kita, sejak dulu, tapi kita tidak menyadarinya karena kita lebih sibuk memikirkan solusi yang jauh-jauh. Sepertiku. Dulu ketika aku mau membangun sebuah training berskala nasional, aku membutuhkan partner atau tim. Aku pun berpikir, tim yang membersamaiku haruslah tim yang kuat, yang punya kompetensi event organizer berskala tinggi. Maka aku mulai teringat dengan kawan-kawan yang dulu pernah kerja meng-organize event bareng. Mereka sudah sangat profesional. Domisilinya sekarang tersebar. Ada yang di Bali, Jogja, Surabaya, Jakarta, dan lain-lain. Maka aku menghubungi mereka satu per satu. Singkat cerita.. ah tentu saja sulit. Sudah pada jauh-jauh semua, dan mahal pula biaya operasional untuk menghadirkan mereka membantuku ke Bandung. Aku pun mulai bingung. Tapi kemudian, tepat di saat aku selesai ‘berbincang’ dengan Allah melalui doa, aku ingat sesuatu. Aku ingat punya sahabat-sahabat dekat di kampusku. Sahabat-sahabat yang selama ini membersamaiku, yang juga menghabiskan waktu bersama untuk bermimpi dan kemudian bangun, mengejarnya. Mereka selalu ada di sekitarku tapi jadi tidak nampak ketika aku membutuhkan tim, hanya karena aku berpikir terlalu jauh. Padahal, hey! Solusi itu DEKAT. Akhirnya, sebuah acara besar itu pun terlaksana tidak hanya dengan baik, tapi juga berdampak bagi para peserta yang hadir.

Terkadang, saat kita menghadapai masalah, kita mengeluh tidak punya ini dan itu. Kita tidak melirik pada apa yang kita punya. Tak jarang, ada yang tidak bersyukur dengan keluarga yang ada, sahabat yang ada, pasangan yang ada, dan lain-lain. Rasanya semuanya ingin diganti karena dirasa tidak pas. Padahal, seringkali, jalan solusi itu adalah sesuatu yang dekat dengan diri kita, kehidupan kita. Bisa jadi, jalan solusi itu adalah idemu, sahabatmu, pasanganmu yang kau miliki sekarang. Jangan lihat yang jauh-jauh dulu. Sungguh dekat.Yakinlah, solusi dari masalah kita, seringkali dekat dengan diri kita. Inside us, beside us, around us.

 

#2 Gunakan yang SEDERHANA, aksikan dengan SEDERHANA

Tongkat itu sesuatu yang SEDERHANA. Apalah arti sebuah tongkat Musa dibandingkan dengan persenjataan Fir’aun beserta pasukannya yang begitu mutakhir dan lengkap. Namun ternyata, itulah yang menjadi ‘jalan’ atau washilah bantuan Allah. Yakinlah, yang sederhana itu, bila digunakan untuk sesuatu yang baik, akan dikuatkan oleh Allah. Maka disini dibutuhkan keyakinan. Keyakinan akan Allah subhanahuwata’alla. Tongkat Musa itu.. sungguh biasa saja. Tapi bisa menjadi begitu luar biasa, ya karena Musa yakin pada Allah. Makanya Musa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku bersamaku, dan Dia akan memberikanku petunjuk.” Musa yakin sama Allah. Dan begitu yakin, Allah memberikan wahyu untuk gunakan.. tongkat. An ordinary stuff, give an extraordinary impact, with Allah.

Dan aksinya pun sederhana. Memukulkan. Allah tidak mewahyukan Musa untuk mengukir tongkat menjadi tajam, lalu tongkat itu hujamkan ke batang pohon, lalu pohonnya diukir juga supaya jadi perahu, lalu kemudian Musa dan Bani Israil naik ke dalamnya dan mendayung bersama. Ah, keburu diserang Fir’aun. Hehe. Allah mewahyukan Musa untuk melakukan hal yang.. SEDERHANA. Pukulkan tongkatnya ke laut. Sederhana. Dan lautannya terbelah.

Begitulah harusnya kita menjalani kehidupan. Tak perlu menunggu hal luar biasa untuk memulai kerja besar. Seseorang pernah bilang bahwa dia iri padaku karena aku bisa menginspirasi banyak orang melalui karya lagu, buku, tulisan, dan juga berbicara di depan banyak orang. Itu pendapatnya yang bisa membuatku merasa sombong kalau saat itu aku lupa bahwa Allah yang memampukan. Untung saja tidak. Aku tersenyum padanya. Aku bercerita. Betapa dia tidak tahu bahwa perjalananku ini diawali oleh menulis di sebuah blog wordpress, dan menulis 140 karakter di twitter. SEDERHANA. Blog wordpress itu gratis, twitter juga gratis. Medianya sederhana. Kemudian melalui media itu, aku menulis. Aksinya pun sederhana.  Dan yang terpenting adalah niatnya. Aku menulis yang memang ingin kutulis, yang kupikirkan, yang aku tercerahkan karenanya. Tidak supaya populer, tidak supaya kaya. Menulis saja.  Itu awalnya. Semuanya sederhana.

Berapa banyak dari kita yang menantikan hal-hal yang canggih untuk memulai. Tak jadi buka usaha, karena butuh modal besar. Padahal bisa gunakan yang ada, dan usaha dalam skala yang sederhana dulu. Mengubur mimpi, karena merasa belum sanggup. Padahal perhatikan yang dekat, yang sederhana, dan aksikan dengan sederhana. Jangan lupa, luruskan niat. Mulailah dengan tongkatmu! Gunakan hal-hal sederhana yang tersedia di hadapanmu saat ini. Jangan tunggu bingkisan yang jatuh dari langit, yang belum ada.

 

#3 Lakukan BAGIANMU, dan Allah akan melakukan bagian-Nya

Apakah Allah subhanahuwata’alla bisa membelahkan lautan tanpa Musa memukulkan tongkatnya? Ya tentu saja bisa. Kalau Allah sudah berkehendak, maka Kunfayakun, terjadilah. Semudah itu. Lantas, kenapa Musa diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya? Itu supaya Musa melakukan bagiannya. Apa bagiannya? Ikhtiar. Upaya. Dengan Musa melakukan bagiannya, memukulkan tongkatnya ke lautan, maka Musa menunjukkan pada Allah bahwa Musa serius, Musa berupaya. Do your part, Allah will do His part!

Kalau begini sih aku jadi ingat kisah nyata Tukang Bubur Naik Haji. Dia punya mimpi menghajikan ibunya. Secara logika, ya sulit. Pekerjaannya hanya tukang bubur. Tapi sulit itu bukan mustahil. Kan ada Allah yang kalau sudah berkehendak pasti kejadian. Nah kemudian ini tukang bubur nabung dari hasil jualannya, atas nama ibunya di sebuah bank, yang diniatkan untuk menghajikan. Baru sampai saldo beberapa juta, eh ada undian berhadiah mobil mewah. Siapa yang sangka kalau dari begitu banyaknya nasabah malah bapak tukang bubur itu yang menang. Alhamdulillah! Singkat cerita dijual itu mobil, dan uang hasil penjualannya tak hanya bisa menghajikan ibu, tapi juga dirinya. Subhanallah. Perhatikan. Tukang bubur ini MELAKUKAN BAGIANNYA. Dan bagiannya itu adalah dari hasil jualan buburnya selama ini, solusi itu dekat. Dan nabung rutin di bank dengan jumlah uang yang sebetulnya tidak terlalu besar, gunakan yang sederhana dan aksikan dengan sederhana. Hasilnya.. Allah melakukan bagian-Nya. Dan ketika Allah melakukan bagian-Nya, wuiiih.. nggak sanggup nih akal menghitung-hitung.

Kita suka menanti keajaiban, tanpa kita mau melakukan bagian kita. Disini kita keliru. Padahal, kita perlu memukulkan tongkat kita terlebih dahulu, baru setelah itu Allah akan kerjakan bagian-Nya. Nah, kalau kita ada di posisi Musa saat itu, mungkin kita malah akan bertanya pada Allah. “Ya Allah, serius nih tongkat dipikulin aja ke laut? Emang ngaruh ya Rabb? Emang bisa? Kan cuma tongkat. Cuma dipukulin juga. Bisa apa ya Rabb?” Hehe. Itulah yang secara tak sadar kita lakukan setiap hari. Banyak berkelit. Padahal di QS. Ar-Ra’d ayat 11 juga tertulis bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri. Lakukan dulu bagianmu, nanti Allah akan lakukan bagian-Nya. Do our part!

***

 

Benar kan. Betapa menariknya ketika kisah ini dibedah lebih dalam. Meskipun kisah ini familiar sejak kita duduk di bangku SD untuk kita ambil pelajarannya bahwa ada nabi bernama Musa, ya sekarang ketika sudah besar.. haruslah tau lebih dalam esensi dari kisah nabi tersebut. Semuanya nyata, tertulis di dalam Al Qur’an. Maka jangan heran kalau kisah ini begitu bermanfaat. Seluruh isi Al Qur’an itu kan memang pedoman manusia. Hanya terkadang kitanya saja yang malas memahaminya lebih dalam. Padahal kalau kita mampu memahami, memaknai, dan mengambil pelajaran dari berbagai kisah di Al Qur’an, ya seperti inilah manfaatnya, cerah! Pelajaran dari kisah Tongkat Musa ini, jadikan pegangan ketika kita memiliki impian (menuju Tanah Palestina), namun kita menemukan hambatan (lautan), dan di saat yang bersamaan.. kita sedang dikejar-kejar (Fir’aun dan pasukannya). Persis kehidupan kita kan🙂

“Solusi itu dekat. Gunakan yang sederhana, dan aksikan dengan sederhana. Lalu lakukan bagianmu, dan Allah akan melakukan bagian-Nya.” – Febrianti Almeera

– Febrianti Almeera

2 thoughts on “Tongkat Musa

  1. Saya pernah dengar dari KH. Athian Ali, dan beliau sering mengulang riwayat ini dalam kajian tafsir nya di cijagra.
    Ada satu lagi sih sebetulnya, yaitu ketika Musa as. dan bani israil sudah sampai di seberang dan pasukan firaun ada di tengah2 lautan. Ketika itu secara reflek Musa as. akan memukulkan tongkat lagi dengan tujuan menutup kembali air lautan. Lalu Allah menegur..bagaimana teguran Allah? nah ini saya mesti buka buku tafsir n Quran nya atau tanya Ust. Athian lagi neeh ..hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s