Uncategorized

Sukses dengan Keseimbangan

Postingan kali ini saya dedikasikan khusus kepada siapapun yang sedang atau akan menempuh pendidikan, khususnya di bangku perkuliahan. Sungguh ini diketik sangat spesial untuk Anda. Jika ada rekan, kerabat, sahabat.. yang gelisah tentang pendidikannya, sarankan untuk berkunjung kemari. InsyaAllah ada hikmah yang sangat luas.InsyaAllah..

 

***

Beberapa hari ini, saya selalu berjodoh dengan para akademisi. Kemana pun saya pergi, pasti ada saja hal tidak disengaja yang mempertemukan saya dengan mereka yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Setiap pertemuan tersebut selalu berhasil melibatkan saya dalam diskusi panjang yang menyenangkan. Dan saya adalah orang yang sangat percaya bahwa dalam setiap rangkaian kejadian serupa yang Allah hadirkan ke dalam kehidupan kita secara berturut-turut, itu berarti Allah memiliki suatu maksud yang mengantarkan kita pada suatu hal.

 

***

Begini kisahnya..

Sejak kecil, saya sangat menyukai ilmu pengetahuan dalam bidang akademik. Bahkan saya sangat ambisius terhadap hal tersebut. Ini membuat raport masa kecil saya sangat gemilang. Pernah satu kali ketika saya masih di sekolah dasar, saya tidak masuk dalam peringkat 3 besar, dan saya akhirnya tidak mau makan selama seminggu. Lebay? Ya memang.. tapi mau bagaimana lagi. Sejarah tidak bisa diubah. Hehehe.

Semakin naik jenjang pendidikan saya, ambisi akademik saya pun semakin normal. Maksudnya, saya tetap mengejar pemahaman atas ilmu yang bermuara pada peringkat dan nilai, tapi tidak terlalu bernafsu. Biasa biasa saja. Kekecewaan atas nilai buruk pun mulai memudar, sebab saya memahami bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Oke, yang barusan itu alibi. Intinya, saya sempat menjadi semakin malas belajar.

Memasuki dunia baru, yaitu dunia perkuliahan, saya mendapatkan sudut pandang baru pada awal-awal semester. Melalui beberapa buku dan seminar, saya mendapatkan gambaran bahwa ilmu bisa didapat dari mana saja, tidak selalu dari bangku akademik. Sukses bisa berasal dari mana saja, tidak selalu dari hasil nilai dan ijazah. Saat itu saya setuju. Saya pun mulai menerima pemaparan beberapa tokoh sukses yang tidak lulus sekolah. Ini memperkuat pernyataan-pernyataan di atas.

Setelah saat itu, mindset yang terbentuk dalam diri saya adalah “Sekolah itu nggak penting, yang penting ilmu dan pengalaman.” Dan itu tidak hanya terjadi pada saya, tapi juga pada 5 orang sahabat saya. Jadilah kami ini para mahasiswa yang super santai di perkuliahan, tapi super sibuk di luaran. Membangun bisnis, ikut organisasi ini dan itu, mendirikan komunitas, aktif kegiatan sosial, dll.

Sebab saya terbiasa ambisius terhadap bidang akademik, maka semangat kuliah tidak padam begitu saja. Di tahun kedua perkuliahan, saya dinobatkan sebagai “Mahasiswa Berprestasi” atau biasa disingkat Mapres. Predikat ini diambil dari prestasi akademik mahasiswa. IPK saya saat itu nyaris sempurna. Hal tersebut mengantarkan saya pada berbagai beasiswa bergengsi. Sungguh suatu anugerah yang sangat saya syukuri.

Tapi setelah itu, semakin hari.. mindset saya tentang “Sekolah itu nggak penting, yang penting ilmu dan pengalaman” pun semakin kuat. Mindset tersebut membuat saya dan sahabat-sahabat saya menjadi sangat menyepelekan perkuliahan, dan mengagung-agungkan aktivitas di luar. Jadi setelah saya menerima banyak beasiswa pendidikan, prestasi akademik saya malah menurun.

Menurunnya prestasi akademik saya ini berbanding terbalik dengan dengan peningkatan berbagai pengalaman dan ilmu lapangan yang saya dapatkan di luar bangku perkuliahan. Maka pada akhir semester saat itu, saya tidak pernah menyesali nilai-nilai yang kurang baik, sebab di luaran pun saya sudah banyak menimba ilmu. Begitu pikir saya saat itu.

Hingga sempat secara ekstrim, saya dan beberapa sahabat saya tersebut mulai merasakan bahwa perkuliahan itu hanya ditujukan bagi orang-orang yang mengumpulkan deretan angka-angka untuk mendapat ijazah dan toga, demi menyandang berbagai gelar akademisi saja.

 

***

Tapi semakin lama, sebetulnya ada bagian dari hati nurani saya yang gelisah terhadap mindset saya tentang dunia akademisi tersebut. Hingga akhirnya tahun lalu, saya bertemu dengan PakMario Teguh di studio Metro TV saat sedang syuting program “Mario Teguh Golden Ways”. Kesempatan tersebut saya gunakan untuk bertanya kepada beliau tentang mana yang lebih penting, pengalaman di luar atau ilmu dari perkuliahan, yang akan memberikan dampak lebih baik bagi masa depan? Pak Mario tersenyum, beliau menatap mata saya dengan dalam, dan menjawab..

“Jangan gunakan sendok teh untuk menggali tanah yang luas. Gunakan eskavator, pengeruk tanah raksasa. Pasti lebih mudah.” – Mario Teguh

Alhamdulillah.. saat itu saya malah semakin bingung. Hehehe. Setelah hari itu, saya bertemu dengan salah seorang trainer Edu-NLP bernama Surya Kresnanda, kemudian berdiskusi ringan. Beliau adalah seorang mahasiswa S2 yang mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling. Seorang sosok yang tenang, dan cerdas. Meskipun kami tidak sedang membahas akademik, ada satu pernyataannya yang membuat saya berpikir sangat dalam.

“Memang tidak semua orang sukses itu dibentuk oleh dunia pendidikan. Tapi kerangka berpikir orang berpendidikan, adalah modal besar bagi siapapun yang mau menempuh kesuksesan. Bila dimaksimalkan, perpaduan kerangka berpikir akademis dengan kreativitas hasil dari pengalaman, itu akan menghasilkan kombinasi yang jauh lebih melesat dari pada sekedar menggunakan salah satunya.” – Surya Kresnanda

Saya merenung semakin dalam. Buku-buku dan seminar yang sempat membentuk mindsetsaya mengabaikan akademik itu tidak pernah menjabarkan hal tersebut. Yang saya dan sahabat-sahabat saya dapatkan hanya pemahaman mengenai keunggulan salah satunya saja, yaitu pengalaman lapangan dan kreativitas. Yang kaku, struktural, dan teknis itu dianggap ketinggalan. Saya mulai menemukan titik terang, mindset lama saya tentang hal tersebut semakin terarah.

Lalu pada sebuah kesempatan di Jakarta, saya diundang sepanggung dengan 12 tokoh inspiratif Indonesia, yang salah satunya adalah Pak Jamil Azzaini. Beliau merupakan seorang isnpirator, trainer, penulis, yang memiliki latar pendidikan tertinggi S2 di IPB Bogor. Saat sesi beliau, ada sebuah pernyataan yang membuat saya berpikir. Lagi-lagi tentang dunia pendidikan, akademisi.

“Sukses itu bisa didapatkan dari 2 hal. Hal yang pertama adalah melalui ilmu dan gelar pendidikan yang kita miliki. Dan yang kedua adalah melalui soft skill kita. Tapi.. ternyata ada 1 hal lagi yang bisa lebih mendongkrak kesuksesan seseorang, yaitu bila ia mampu menguasai.. keduanya.” – Jamil Azzaini

Pernyataan  Pak Jamil saat itu terus berputar berulang-ulang di benak saya, mengiringi perjalanan pulang saya ke Bandung. Sempat suatu hari saat saya sedang nebeng mencari sinyal wifi di sebuah lembaga bimbingan belajar bernama Conscience di Jl.Tubagus Ismail Bandung, di sebelah saya duduk seorang kawan saya bernama Anggayudha. Beliau adalah direktur dari lembaga bimbingan belajar tersebut. Dan passion beliau memang di bidang pendidikan. Kami terlibat percakapan panjang. Teringat salah satu pernyataannya yang sangat bermakna.

“Setiap manusia terlahir ke dunia itu dibekali oleh Allah dengan misi yang spesifik, dimana misi yang spesifik tersebut dilengkapi dengan tools bernama passion. Setiap passion bisa optimal bila ia dilandasi dengan ilmu pengetahuan. Tidak bisa kita memisahkan ilmu pengetahuan dengan kehidupan. Tidak lebih penting sebuah pengalaman dari ilmu pengetahuan melalui bangku sekolahan, karena keduanya saling menunjang.” – Anggayudha

Saya semakin tercerahkan. Saya mengarahkan langkah saya menuju kampus tercinta. Niatan awal saya untuk mengontrak mata kuliah membawa saya pada pertemua dengan seorang dosen yang ternyata sangat memperhatikan grafik akademik saya. Namanya Pak Budhi Pamungkas, beliau adalah seorang dosen Manajemen. Setelah sapa kabar, beliau menyampaikan..

“Berprestasi itu sebetulnya bukan sebuah pilihan, tapi sebuah keharusan. Berprestasi di bidang apa, itu baru pilihan, hak setiap orang. Tapi selama berpuluh tahun saya berada di bidang pendidikan, saya menyaksikan betul betapa para mahasiswa yang mampu menggabungkan prestasi di bidang akademik dan prestasi di luar itu melangkah lebih hebat dari yang lainnya. Saya bicara fakta, bukan teori. Bersemangatlah disini, untuk keindahan mimpi-mimpimu.” – Budhi Pamungkas

Lalu saat saya sedang berjalan di sekitar kampus, tepat setelah menyelesaikan kontrak mata kuliah tersebut, seorang muslimah menegur dari seberang jalan. Wajahnya familiar, namanyaRisa Khasanah. Beliau salah satu saksi nyata proses hijrah saya. Dari belum berjilbab, jilbab lontong, hingga perubahan-perubahan lainnya. Kami sudah lama tidak bertemu. Tanpa desain khusus, lagi-lagi pernytaan tentang dunia akademisi terlontar, padahal kami tidak sedang membicarakan itu.

“Menyelesaikan pendidikan sebetulnya bukan hanya tentang nilai, ijazah, atau toga.. tapi tentang tanggung jawab. Meski tidak pernah tersampaikan melalui lisan, tapi dengan kita dulu melakukan pendaftaran kuliah, mengikuti seleksi ujian masuk, tegang menghadapi pengumuman, dll.. itu sudah menjadi bagian dari sebuah ikrar untuk menggapai pendidikan lebih tinggi, sampai tuntas. Menepati ikrar itulah bentuk tanggung jawab yang sebenarnya.”- Risa Khasanah

Terakhir, saya mengikuti sebuah kelas bernama “Millionaire Mindset” yang diselenggarakan di Hotel Savoy Homann Bandung. Pembicaranya adalah Pak Krishnamurti. Beliau merupakan seorang milioner yang sangat rendah hati dan sederhana. Pada salah satu sesi di kelas yang berlangsung malam hari itu, Pak Krishnamurti memaparkan pernyataan yang ringan tapi sarat ilmu.

“Orang boleh menyuruh Anda untuk mengabaikan sekolah, menomorduakan sekolah, atau bahkan hingga membuat Anda merasa tidak butuh sekolah. Tapi pilihan tetap ada di tangan Anda. Proses pembelajaran Anda di sekolah, membangun susunan syaraf di otak Anda, yang menjadikan Anda lebih cerdas. Struktur korteks dan neuron orang yang belajar di sekolah, mempermudah pembelajarannya di lapangan kehidupan. Jangan kotak-kotakkan. Anda perlu keduanya seimbang, agar lebih melesat.” – Krishnamurti

Itulah berbagai pernyataan berbeda dengan benang merah yang sama. Anggukan saya semakin dalam. Logika saya bermain, dan saya semakin memahami hakikat sebuah pendidikan. Bukan soal gengsi-gengsian gelar. Meski memang ada saja orang seperti demikian, tapi kita tetap tidak bisa melakukan generalisir terhadap hal tersebut. Fokus pada peningkatan kualitas diri, itu kuncinya.

 

***

Saya sangat percaya bahwa tidak ada satupun kejadian di muka bumi ini yang kebetulan. Semuanya sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah Subhanahu wata’alla. Dan setiap kejadian rancangannya itu memiliki maksud dan tujuan.

Rangkaian kejadian yang saya alami itu berderet. Tidak mungkin Allah hanya iseng supaya saya terbayang-bayang. Allah punya maksud besar. Allah hendak menyampaikan sesuatu pada saya, melalui rangkaian kejadian tersebut. Selain itu, karena saya mengetiknya hingga menjadi sebuah postingan yang bisa dibaca oleh semua orang, maka bisa jadi siapapun Anda yang membaca ini juga Allah hendak menyampaikan suatu maksud pada Anda, khususnya tentang dunia pendidikan atau akademisi.

Semangat akademisi saya menguat hebat. Dengan penuh semangat saya melangkahkan kaki ke kampus, menjalani berbagai konsekuensi atas segala hal yang saya lakukan sebelumnya. Begitu pun kelima orang sahabat saya. Kami semua saat ini telah berhasil membenahi mindsetkami untuk menggapai kesuksesan melalui keseimbangan antara otak kiri dan kanan, keseimbangan antara pendidikan dengan kreativitas. InsyaAllah.. dengan seizin Allah.

“Sukses bisa dari jalur pendidikan, bisa juga dari jalur non pendidikan. Tapi apabila bisa sukses dari keduanya, kenapa tidak.” – Febrianti Almeera

3 thoughts on “Sukses dengan Keseimbangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s