Uncategorized

Bukti Cinta dibalik Kerasnya Papa

Saya Febrianti.

Anak perempuan sulung dari 3 bersaudara.

Perkenalkan papaku, Sudrajat P. Hutapea.

Sejak kecil, saya senang berimajinasi.

Tokoh imajinasi favorit saya adalah papa.

Papa yang tutur katanya lembut,
Sempurna..yang lakunya santun saat mengajari nilai-nilai kehidupan.

Namun, imajinasi saya buyar!

Sejak kecil, nada bicara papa selalu tinggi.

Bahkan oktaf nada tersebut bisa lebih tinggi lagi jika melihat ada perilaku saya yang tidak berkenan.

Diary masa kecil saya terisi dengan banyak kekecewaan terhadap papa.

Tidak jarang ada bekas air mata tertinggal disana.

Perlahan.. saya pun tumbuh semakin dewasa.

Saat saya sedang membereskan ruang buku, saya menemukan Diary.

Bukan, bukan Diary saya, sebab di sampulnya tertulis…

“Sudrajat P. Hutapea”.

Saya membuka buku tersebut dan tersentak.

Foto papa sedang menggendong saya mengawali lembar pertama buku tersebut.

 

papa-gendong-febi1

Di samping foto itu ada tulisan

“Febrianti, anak pertamaku. Kesayanganku”

 

Hati saya berdesir..

Lembar demi lembar saya balik dan saya baca.

Ada sebuah halaman yang membuat saya tertegun lama sekali..

“Dear Febi, anak perempuanku.. hari ini papa memarahimu lagi. Maaf. Kamu semakin nakal sekarang, lari-lari sampai masuk ke got. Papa nggak tega lihat kakimu berdarah-darah. Papa marah! Marah karena ketika kamu luka, seketika papa merasa gagal menjaga Febi. Berlebihan memang, tapi ini sudah sifat.  Belum lagi kalau Febi menangis seperti tadi, papa jadi lebih marah lagi. Marah karena papa sangat tidak bisa tahan lihat airmata anak papa, kelihatannya sakit sekali. Maaf papa hanya bisa marah dan marah. Tapi semoga Febi mengerti, saat Febi tumbuh dewasa.. mungkin papa tidak akan bisa selalu ada di samping Febi, maka izinkanlah papa berlaku keras terhadap Febi saat ini.. agar kelak, saat Febi dewasa, Febi tumbuh menjadi perempuan yang tangguh, waspada, dan mandiri.. meskipun tanpa papa..”

Air mata saya menetes.

Segera saya bercermin..

Saya semakin terenyuh ketika saya mendapati sesosok perempuan yang tangguh, waspada, dan mandiri berada di cermin tersebut. Terwujud, pa..

Papa, terimakasih..

papa-sama-febi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s