Uncategorized

Aku, Budi, dan Indonesia

Ini tulisan tentang nasionalisme pertamaku. Kenapa aku menuliskannya? Ya tentu saja karena aku ingin. Itu membuatku lebih leluasa membuat jemariku menari di atas keyboard tanpa perlu khawatir orang akan suka ataupun tidak pada apa yang kutulis, pada karyaku. Malam ini, sehabis menonton film tentang Indonesia, muncul degup cinta yang berwujud kata, menantiku untuk siap diluncurkan menjadi deretan kalimat, supaya kelak bila aku lupa, aku masih bisa membacanya kembali untuk membuka kenangan rasa ini.

***

 

Siapapun boleh punya Soekarno dan Muhammad Hatta untuk mendorongnya mencintai Indonesia. Atau boleh juga punya hamparan lautan biru, bentangan rerumputan hijau, gugusan pulau, hutan rimba, atau deretan gunung yang menanti didaki, untuk membuatnya punya alasan kuat tetap berpijak di negeri sendiri. Tentu boleh juga punya perbedaan suku, bahasa, dan adat istiadat untuk membuatnya berbangga terlahir di atas keanekaragaman manusia, yang tak semua negeri punya. Bisa juga punya keberlimpahan minyak, kayu, emas, mutiara, padi, timah, rempah, dan oh.. kali ini tak bisa kusebutkan semua saking kayanya negeri ini, untuk membuatnya bisa menengadahkan wajah dengan bahu yang tegap ketika bertukar cerita bersama orang-orang yang menurutnya tidak seberuntungnya sebab tak tercatat sebagai warga negara ini. Juga punya komodo, bekantan, burung merak, macan jawa, dan badak bercula satu untuk membuat bahagia sebab hanya kita yang punya.

Tapi dari semuanya itu, aku memilih yang sederhana. Aku punya Budi dengan keluarganya untuk membuatku berbangga atas negara. Iya, Budi. Ia yang begitu setia menghiasi buku-buku Bahasa Indonesia yang kita baca sejak masih berseragam putih dan merah. Saat isi kepala kita masih leluasa menerima apapun tanpa filter. Harusnya ini jadi bahaya, tapi beruntunglah, Budi selalu mengajarkan hal-hal yang baik. Pertama, Budi sangat sopan. Ia familiar dengan perkenalan dirinya, “Saya Budi”. Begitu akrab dan sungguh rendah hati. Sopan sekali. Dan dia juga memperkenalkan keluarganya. “Ini ibu Budi. Ini ayah Budi.” Membuat kita tanpa sadar merasa begitu dekat dengan Budi, meski bertahun-tahun ke depan kita tumbuh berganti baju putih biru, putih abu, lalu baju bebas atau seragam lainnya. Budi mengajarkanku kesopanan, keramahan, dan keakraban.

Budi juga mengajarkan kita untuk memiliki impian. Ingatkah, Budi suka bilang, “Budi ingin menjadi pilot.” Ya.. meski Budi juga suka tidak konsisten sebab di halaman buku yang lain tiba-tiba, “Budi ingin menjadi polisi”. Ah tapi menurutku kelabilan itu pun mengajarkan bahwa memiliki impian itu boleh lebih dari satu, pun boleh berganti, asal punya tekad kuat dan sanggup. Budi yang bermimpi itu membuatku tak khawatir berikrar bahwa aku ingin jadi penulis, meski aku tahu saat itu untuk membuat karangan pendek pun aku masih tergagap. Budi, membuatku tetap yakin. Oh ya, bukti gagap menulisku yang paling parah adalah aku punya pola yang selalu saja berulang saat aku mengawali tulisanku, yaitu, “Pada suatu hari..”

Eh, Budi bisa salah juga. Tapi dia harus begitu supaya bisa mengajarkan padaku bahwa begitulah manusia, tak sempurna. Ia suka mengatakan, “Ibu pergi ke pasar untuk berbelanja, dan ayah pergi ke kantor untuk bekerja.” Itu kali pertama aku tak setuju dengannya. Tentu ibu boleh saja pergi ke pasarnya untuk berjualan, dan ayah boleh juga pergi ke kantor untuk jadi pemimpin perusahaan, jadi bosnya. Supaya kelak, anak muda yang mau berkembang dengan jalan yang tak sama dengan lainnya, misal wirausaha, tak merasa ada yang salah. Jadilah tak punya rasa takut untuk jadi berbeda, sebab sejak dulu sudah tahu bahwa potret keluarga paling terkenal di negerinya, ya keluarga Budi itu, juga melakukannya. Ini supaya negeri kita punya pemimpin berkualitas dari negeri sendiri, yang sejak kecil, meski tak menyadarinya, sudah tertanam keyakinan bahwa ia bisa besar di negerinya, dengan akhlak, kebaikan, dan keberanian untuk berbeda dengan tetap berkualitas.

Budi kelihatannya muslim, karena di buku Bahasa Indonesiaku.. “Budi pergi ke masjid” dan “Budi rajin shalat 5 waktu”. Semakin lengkaplah Budi yang tak menyadari betapa perilaku dalam kesehariannya telah menjadikan banyak sekali anak berseragam putih merah tumbuh dengan akhlak dan kepribadian yang baik, juga mulia.

***

 

Aku sekarang sudah lebih baik. Tentu ini karena aku manusia. Dan salah satu ciri manusia adalah bertumbuh dan berkembang. Jadi kalau aku yang hari ini masih sama dengan aku yang kemarin, itu membuatku merasa bukan manusia. Aku, kamu, kalau masih ingin disebut manusia, ya harus bertumbuh, harus berkembang.

Aku berterimakasih pada Budi. Karenanya.. aku menjadi anak yang baik, yang sayang pada kedua orang tuaku, yang juga membuat air mata mereka menetes dalam setiap pencapaian dan prestasiku. Juga menjadi sebenar-benarnya manusia yang berani mewujudkan mimpi, yang tak cepat sedih saat impiannya ditertawakan, yang juga tak besar kepala saat kepingan demi kepingan impiannya menyatu menjadi suatu gambar utuh. Benar, aku sekarang adalah penulis. Penulis yang, tentu saja, sudah tidak mengawali tulisannya dengan “Pada suatu hari…” lagi. Juga jadi masyarakat yang tahu arti tenggang rasa, punya rasa empati, suka bergotong royong, tak malu menyapa lebih dulu, berbelas kasih pada sesama, dan tentu saja.. yang kalau buang sampah pasti pada tempatnya.

Budi, terimakasih. Sesungguhnya kau adalah salah satu tokoh yang dimiliki Indonesia, yang mendorongku untuk mencintai dan berbangga atasnya, tapi Indonesia tak menyadarinya. Bukan, bukan karena Indonesia tak tahu terimakasih, angkuh, atau mengabaikanmu. Bukan itu. Lebih karena kamu, untuk kesekian kalinya, dihadirkan untuk memberi pelajaran baru bagiku. Pelajaran tentang apakah kita masih akan tetap berpegang teguh pada prinsip menebar kebaikan dan kebermanfaatan pada sesuatu yang kita cintai dan banggakan, meski semua yang kita lakukan tak berbalas sesuai. Ya, kau kali ini mengajariku keikhlasan.

***

 

Aku bangga akan Indonesia, karena aku punya Budi. Dan kuharap aku, juga kamu yang jadi tersadar bahwa benar Indonesia ini punya jutaan alasan kenapa kita harus mencintainya, jadi semakin yakin juga teguh untuk menjelma.. menjadi Budi Budi yang lain, yang nyata.

One thought on “Aku, Budi, dan Indonesia

  1. Haha, Mbak masih inget aja sama Budi.🙂
    Mbak, btw, tulisan di webnya ada yang typo (sebenarnya yang ini gak penting sih, tapi saya pengen nulis aja).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s