Uncategorized

Tersadar Jauh dari Allah

“Sejauh apapun kita salah melangkah, kembalilah.. pada Allah..” – Febrianti Almeera

Sore kemarin seperti biasa saya mengikuti sebuah ta’lim yang bernama ta’lim Darusy Syabab. Ta’lim ini didirikan oleh guru saya, Rendy Saputra, dan sudah berjalan dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun. Terbuka untuk umum, perempuan dan laki-laki (dibatasi oleh hijab). Bertempat di Jl. Tubagus Ismail no. 5D, berlangsung setiap Senin, pk 17.00 – 19.00. Di sela waktu ta’lim, kami akan shalat maghrib dan isya bersama. Saya senang sekali mengikuti ta’lim ini, karena ya.. yang namanya manusia, keimanan jelas tidak stabil, kadang naik kadang turun. Dalam seminggu, banyak sekali hal yang terjadi dalam kehidupan manusia, dan pastilah ada hal-hal yang menggoyahkan iman kita. Maka bagi saya, berkumpul dengan orang-orang shalih merupakan salah satu charger terbaik yang mampu menstabilkan kembali keimanan serta keyakinan saya terhadap Allah SWT. Dan terbukti, selalu berhasil. Alhamdulillah๐Ÿ™‚

Sore kemarin itu saya berangkat dengan beberapa kawan Great Muslimah Bandung, agar kami satu frekuensi. Tepat di pk 17.00, guru sayaย Rendy Saputra membuka ta’lim dengan membacakan shalawat nabi dilanjutkan dengan ber-muhasabbah mengenai keberlimpahan rahmat yang seringkali manusia rasakan sebagai hak, saking seringnya diri manusia tidak bersyukur. Jleb. Kemudian masuk ke ta’lim. Tema ta’lim kemarin adalah “Doa Khatmil Qur’an.” Jujur saat itu saya tidak ada kepikiran apapun saat mendengar temanya. Mengalir saja.

Sebelum saya bercerita jauh, izinkan saya mem-flashback kehidupan saya almost 2 minggu yang lalu. Semoga postingan kali ini juga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Atau barangkali ada yang ย saat membaca postingan kali ini, ternyata sedang mengalami kisah serupa, semoga mendapatkan solusi, aamiin..

Based on my own experiences, as usual..

Sejak hampir 2 minggu yang lalu, entah kenapa saya tiba-tiba merasakan kehampaan diri. Dan meski hari-hari saya seperti biasanya saya mulai dengan semangat dan menetapkan target-target untuk lebih baik dari hari sebelumnya, tapi tak satupun target terselesaikan. Kalaupun ada yang selesai, hasilnya pasti tidak maksimal. Semisal, saya menetapkan target hari itu akan menyelesaikan outline naskah buku yang sudah ditagih oleh pihak editor penerbit Mizan. Tapi ketika saya mulai berpikir dan menulis, tak satupun ide muncul di kepala saya. Saya paksakan untuk mengetik sesuatu, tapi kok rasanya tulisan saya tidak berenergi seperti biasanya. Kemudian saya tinggalkan. Lalu ketika saya mulai membaca buku untuk meningkatkan kapasitas diri saya. Kalimat demi kalimat, halaman demi halaman, saya baca dengan seksama, tapi tak satupun manfaat sampai ke dalam hati atau menambah pengetahuan saya, meskipun buku-bukunya jelas buku bagus. Begitu juga dengan nge-twit. Saya sangat suka berbagi inspirasi di twitter khususnya untuk materi-materi muslimah, yang saya kemas dengan gaya bahasa saya. Subhanallah.. yang biasanya nge-twit itu mengalir, kali tersebut rasanya tabung kata-kata saya kosong. Kalaupun saya men-deliver-kan sharing twit atau sharetwit, entah kenapa sharetwit tersebut tidak cukup memuaskan. Seakan-akan hati saya tidak terlibat ke dalam segala aktivitas-aktivitas saya. Dan bocoran bagi semua.. kenapa tulisan-tulisan saya mampu menyentuh pembacanya? Itu karena ada keterlibatan hati saat saya menulisnya. Saya bisa dengan mudah membayangkan berbagai manfaat yang kemudian saya kemas dalam bentuk kalimat demi kalimat, kemudian saya susun menjadi satu kesatuan utuh, dan jadilah postingan atau twit yang kemudian bisa anda baca dengan mudah menggunakan koneksi internet. Apa yang disampaikan dari hati, akan kena ke hati. Tapi kali itu lain sekali. Segala yang saya lakukan, hati saya tidak mampu terlibat di dalamnya. Semua karya saya hampa, seperti tidak bernyawa. Padahal menulis adalah salah satu hal yang paling saya sukai.

Saya sangat heran, apa penyebabnya. Akhirnya.. semakin hari saya semakin merasa tidak semangat. Semakin hari itu pula, kemalasan mendorong saya semakin terbiasa untuk tidak berkarya. Perhatikan saja postingan terakhir di Almeera Way Blog ini tanggal berapa. Saya sadar, bila hal ini terus dibiarkan, maka nilai produktivitas saya akan terus menurun ke titik yang lebih rendah dan lebih rendah lagi. Jelas saya tidak mau, sebab salah satu impian terbesar saya dalam kehidupan adalah.. saya ingin sekali meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, dimana saya meninggalkan banyak karya berupa tulisan-tulisan bermanfaat yang menginspirasi banyak orang. Kalau begini terus, bisa-bisa impian saya tidak tercapai. Kan saya tidak tahu kapan malaikat maut datang menjemput.

Sejak itu, sepanjang waktu saya mencari penyebabnya. Saya pikir, mungkin sebab pola tidur tidak teratur, jadi badan saya selalu lemas hingga tidak produktif. Maka saya benahi pola tidur saya. Tapi nyatanya, tidak ada yang berubah. Kemudian saya berpikir lagi.. mungkin sebab manajemen waktu saya yang memang sedang berantakan. Maka saya atur jadwal-jadwal saya dengan teliti dan rinci. Saya sesuaikan rentang waktunya agar memiliki jarak yang pas satu sama lain. Setelah semua teratur, ternyata tidak berubah juga. Hati saya semakin hari semakin resah dan tak kunjung menemukan penyebabnya.

Semenjak hari itu, akhirnya saya hanya bisa menebak-nebak penyebabnya, kemudian membenahinya, namun tak kunjung jua menemukan ketenangan. Inspirasi seakan tetap tersumbat, rasa semangat pun menurun, dan hati terasa resah, selalu gelisah. Malam yang seharusnya terasa nikmat digunakan untuk istirahat, ternyata tidak memberikan kenyamanan yang berarti. Hingga pagi menjelang, tak ada kekuatan seperti biasanya. Hampa.

Sampai akhirnya, tepat di sore kemarin, di ta’lim mingguan Darusy Syabab.. saya yang memang selalu berburu untuk mendapatkan posisi duduk paling depan, mendapatkan sebuah materi yang tidak disangka-sangka. Ya, tentang “Doa Khatmil Qur’an” tadi, yaitu sebuah doa yang biasanya dibaca setelah khatam Al Qur’an. Lantas, apa hubungannya dengan kisah kehampaan diri saya 2 minggu yang lalu?

Begini kisahnya.. Ketika lafadz arab dibacakan, saya masih merasa biasa. Tapi ada 1 bagian dari doa Khatmil Qur’an yang saat dibacakan dan ditafsirkan, subhanallah.. seketika saat itu tubuh saya gemetar, dan air mata mengalir tidak tertahan. Meskipun kak Rendy Saputra menyampaikan makna doa Khatmil Qur’an dengan tenang dan bahagia, tapi saya terus saja menangis, sampai sesenggukan. Bahkan saat itu, hanya saya satu-satunya disana yang sesenggukan mendengar tafsir doa Khatmil Qur’an pada bagian tersebut. Perhatikan, inilah bagian arti yang membuat saya gemetar dan menangis sulit berhenti.

DOA KHATMIL QUR’AN

Doa Khatmil Qur'an

“Ya Allah, aku meminta permintaan yang terbaik, permohonan terbaik, keberhasilan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik, dan tetapkanlah aku dalam semua kebaikan itu. Beratkanlah timbangan (amal baikku), kukuhkanlah imanku, tinggikanlah derajatku, terimalah shalatku, ampunilah kesalahan-kesalahanku; dan aku memohon surga yang paling tinggi kepada-Mu.”

Karena doa di atas merupakan doa yang saya panjatkan selama 2 minggu ke belakang ini tapi tak kunjung mendapat hasil, maka saya sangat memperhatikan tafsir makna dari bagian doa tersebut. Begini kurang lebih tafsirnya,

“Bagian doa tadi merupakan contoh doa yang paling sering manusia inginkan, yaitu segala yang terbaik bagi kehidupannya, baik dunia maupun akhirat. Apakah itu sebuah pinta yang sedikit? Tentu tidak. Permohonan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat merupakan permintaan yang sangat besar, sangat luas. Belum lagi ditambah meminta dihapuskan dosa, yang pastinya banyak. Lalu ditutup dengan meminta Surga, yang paling tinggi pula. Sebetulnya apakah salah? Tidak. Doa tersebut dipanjatkan berulang kali pada Allah, sangat boleh, dan Allah suka. Tapi yang jadi pertanyaan adalah.. saat kita manusia meminta sebanyak itu, lantas apa yang telah kita berikan pada Allah? Dengan kata lain, tahu malukah kita meminta banyak tapi memberi sedikit. Sedikit sekali malah. Apa yang sudah kita lakukan hingga kita bisa dengan santai meminta segala yang terbaik? Padahal selama ini shalat ditunda-tunda, bahkan dilakukan di akhir waktu, mepet dengan pergantian waktu ke shalat berikutnya. Lalu jadwal shalat subuh, seringkali terlewat higga akhirnya shalat subuh dilakukan saat matahari sudah tinggi, atau bahkan tidak dilakukan sama sekali. Shalat malam tidak dapat karena lebih memilih menyelesaikan project dunia hingga larut malam, begadang. Shalat dhuha terabaikan karena kesibukan. Membaca Al Qur’an pun belum satu halaman sudah ngantuk, malas. Dan sedekah.. sulit sekali rasanya diri ini, padahal tahu itu adalah harta titipan dari Allah. Lalu apa yang membuat kita berani meminta banyak sebagai balasan dari pemberian diri yang sungguh sangat sedikit itu? Maka jangan heran bila Allah sempitkan hati yang awalnya lapang, sumbatkan inspirasi yang awalnya mengalir deras, resahkan diri yang awalnya tenang, persulit langkah yang awalnya mudah.. mungkin sebab kita yang tidak sadar, semakin kemari semakin banyak pinta, tapi semakin terlupa memberi pada Allah. Sesungguhnya Allah tak diberi tak apa, Dia pemilik segalanya. Pemberian kita hanya bukti bahwa kita serius dan tahu malu atas pinta kita.”

Subhanallah, itulah yang membuat kepala saya menunduk hingga ingin tersujud, kemudian menangis tersedu lama hingga sepanjang ta’lim itu berlangsung. Sungguh saya baru menyadari apa yang menjadi penyebab kegundahan dan kehampaan saya di 2 minggu kemarin. Saking saya sangat konsen menulis, saya seringkali menulis hingga larut, bahkan lewat sepertiga malam. Jadilah kebiasaan saya ber-tahajjud tanpa sadar terkikis. Dan mulai dari 2 minggu kemarin, sebab saya tidur dini hari, saya pun seringkali kebablasan shalat subuh, dimana dulu sebelum adzan saya sudah terbangun dan bersiap shalat. Shalat fardhu lain pun saya tunda-tunda saking asyiknya menulis. MasyaAllah. Dan saat membaca Al Qur’an pun pikiran saya berkeliaran mencari inspirasi tulisan. Alhasil, saya berlelah-lelah sibuk dunia, yang membuat saya melupakan amalan akhirat, akhirnya keduanya tidak dapat.

Seketika saya sadar. Penyebab sebenarnya adalah karena saya tanpa sadar fokus duniawi. Benar memang, dunia dan akhirat itu layaknya 2 sisi timbangan. Bila sisi yang satu lebih berat, maka sisi yang lain akan lebih ringan. Maka saat saya menitik beratkan kehidupan saya ke dunia, kadar akhiratnya semakin ringan, menghilang. Naudzubillah.. Padahal jelas, bila mengejar dunia, hanya akan dapat dunia. Tapi bila mengejar akhirat, maka insyaAllah akan mendapat akhirat, dan dunia pun mengikuti. Itulah penyebabnya. Maka tangis sesenggukan saya sungguh sangat beralasan.

Ketika waktu maghrib tiba, saya segera berwudhu, lalu shalat. Seusai shalat, saya membuka Quality Time dengan Allah, yang biasanya saya lakukan, tapi 2 minggu kemarin terlupa. Saya gunakan waktu tersebut untuk ‘mengobrol’ dalam bentuk doa. Pada intinya saya memohon maaf pada Allah karena telah melupakan-Nya. Saya tersadar saya telah jauh dari Allah. Saya pun ber-muhasabbah, mengutarakan kesalahan demi kesalahan saya yang baru tersadarkan. Saya pun berterimakasih karena Allah telah izinkan kaki saya melangkah ke ta’lim tersebut hingga akhirnya saya menemukan jawaban yang melegakan itu disana. Subhanallah, dengan ajaib ketenangan mengalir ke seluruh tubuh. Berbagai inspirasi seakan masuk kembali ke kepala saya. Rasanya cerah dan sejuk. Allah memang luar biasa.

Seusai ta’lim, saya mencoba mengetes adakah perubahan yang nyata selain dari rasa tenang. Saya pun membuka Al Qur’an dan mulai membacanya. Subhanallah Ya Rabb.. memang luar biasa. Nikmaaaaat sekali rasanya membaca Al Qur’an. Setiap lafadz terucap menebar kesejukan. Lalu seusai membaca Al Qur’an, saya mencoba menulis lagi. Subhanallah.. inspirasi mengalir deras, seperti biasanya. Rasanya banyak kata indah berlalu lalang di pikiran saya dan saya tinggal menangkap, kemudian membumikannya ke dalam bentuk tulisan. Subhanallah.. Alhamdulillah..๐Ÿ™‚

Sebuah pelajaran berharga yang saya dapatkan, bahwa ternyata.. segala keresahan dan kesulitan yang mendera kita, kesempitan dan ketersumbatan inspirasi maupun rezeki kita, itu semua penyebabnya adalah perilaku diri kita sendiri. Ya, perilaku-perilaku kita melupakan Allah, hingga Allah tidak meridhoi kebaikan-kebaikan hinggap pada segala aktivitas dan perjuangan kita, meski itu hal baik sekalipun. Maka mohon ampunlah selalu pada Allah, meski mungkin kita tidak tahu kesalahan kita. Barangkali kita hanya belum sadar. Saya kapok jauh dari Allah, rasa-rasanya tidak mau lagi. Segala urusan dunia, meski penting, tetap Allah yang pegang kuasa. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

“Segigih apapun kita berjuang, sekuat apapun kita mencoba, bila Allah tidak ridho, maka tidak bisa. Maka carilah ridho-Nya, dengan mendekatkan diri pada-Nya, selalu..” – Febrianti Almeera

17 thoughts on “Tersadar Jauh dari Allah

  1. jadi ingat sebuah buku yang diterbitkan penerbit majalah Tarbawi, yang judulnya, “Sebelum jauh-jauh cari solusi, perbaiki dulu sholat kita”. terima kasih sharing-nya mbak, mengena sekali๐Ÿ™‚

  2. Terima kasih tulisan nya teh๐Ÿ™‚
    Terima kasih sudah menyadarkan saya melalui tulisan ini, menyadarkan saya sudah jauh dari Allah๐Ÿ˜ฆ

  3. Salam kenal..
    Bagus sekali isi yang terkandung dalam tulisan blog ini..
    Membuat saya semakin sadar bahwa selama kita tetap dekat dengan Allah,, maka selama itu pula lah segala permasalahan hidup kita akan terselesaikan..
    Amin.. ^_^

  4. Serupa dengan apa yang saya alami beberapa bulan ke belakang. Sering merasa tidak konsentrasi saat menulis skripsi. Padahal harus segera diselesaikan. Alhamdulillah saya jugsa tersadar, kembali memperbaiki kualitas ibadah dan kembali rutin membaca Al-Quran. Tak terasa, kok inspirasi menulis menjadi mengalir deras. Fokus mengejar ketertinggalan, rasanya semua bentuk gangguan bisa saya hadapi dengan enteng, subhanallah. Mungkin kalau cerita saya tadi saya ceritakan ke teman-teman, mereka hanya nyinyir, banyak yang meragukan, banyak yang negatif. Alhamdulillah, selalu ada orang-orang pilihan Allah, contohnya seperti keluarga dan teman-teman di Muda Mulia yang selalu membangun energi positif.

    Terimakasih sharingnya๐Ÿ˜€

  5. subhanallah,,, terumakasih mbak telah mengingatkan saya, persis sekali pengaman mbak seperti saya, akhir-akhir minggu minggu ini, kemalasan, kegundahan, kesibukan yang tiada ujungnya, ibadah kurang nikmat,, ternyata secara tidak sadar saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya, terlalu asyik belajar dan mengerjakan urusan dunia,, hingga sholat seakan-akan saya anggap ringan, sudah tau kalo adzan berbunyi, tetap dengan santainya masih memandang monitor,, pulang kantor pun larut malam, hingga lelah yang menyebabkan subuh saya mendekati matahari terbit,, sekali lagi terimakasih mbak febrianti almera..

  6. saya sedang mengalami cobaan dari masalah pekerjaan dan kandasnya hub saya karena fitnah dari saudara sendiri. manusiawi dikala manusia sedang terkena musibah baru ingat Tuhannya..kemudian rasa sakit hati ini saya curahkan kepada Allah walaupun jujur agak marah2..”kenapa, mengapa..” 2 hari nya saya mendapat kabar akan di pindah bagian..shock tentu saja tidak, karena saya blm memikirkan dampaknya yang saya fokuskan adalah masalah hubungan saya yang kandas. akhirnya saya browsing kali aja ada yang bisa mententramkan pikiran saya, karena kebetulan saya ga punya guru spritual..singkat cerita akhirnya saya terpanggil untuk shalat tobat nasuha, tapi kenapa rasanya dihati saya ingin sekali melihat ujung akhir hidup saya..bagaimana dengan masalah kantor yang terpenting masalah asmara saya๐Ÿ™‚ ..seperti sudah mulai menyerah walaupun saya sudah melakukan apa yang harus dia amalkan seperti bersedekah, dhuha, tahajud, membaca alquran..dan saya merasakan bukan ujian masalah kantor atau asmara terasa tapi ujian apakah saya percaya Allah akan mengabulkan permintaan saya, apakah saya berburuk sangka kepada Allah atas permintaan doa saya yang sampai saat ini belum dijabahkan..memang sabar itu mahal harganya dibanding ikhlas dan pasrahkan..semoga sharingan saya ga bikin ngantuk yah..๐Ÿ™‚

  7. Saya jadi pingin mampir juga kesini.. huhu Syukron kk sdh sharing.. Saya demikian jg, iman kdg up n down terutama saat hendak halangan bulanan.. Astaghfirulloh huhu. Tulisan kk d atas menginspirasi sekali.. Ia kak, jika kita menjaga Allah maka Allah akan menjaga kita.. huhu… saya jg pernah dtg kajian saat itu ad yg tnya seputar ini kemudian d jwb mendekatlah kepada Allah skalipun kamu dalam keadaan merangkak. Bila iman sdg turun yg hrs d lakukan slh satunya dgn memaksa diri shalat tahajud dan istighfar sebanyak banyaknya. saya sdh cb berhasil namun kadang malas dsb mendera. Saya br sadar, saya jg sprti kakak, saya jg punya langkah awal saya mirip spti kakak yaitu mendekatkan diri pada teman muslimah pergi ke masjid atau dtg kajian atau denger lagu religi atau nonton sesuatu d youtube yg bs buat saya comeback spt tayangan hafiz indonesia, iklan ramadhan dsb. Hehe agak aneh ia kk saya hihi. Waah makasih ia kk ditengah sdg jauhnya saya spt biasa krn tamu halangan, postingan kk bagai oase yg menyudahi dahaga saya. Postingan kakak menenangkan saya yg tak bs tidur semalam suntuk krn merasa ad yg kurang. Syukron Katsiran kk Almeera ^_^

  8. Saya dulu anak rohis jadi waktu masih sekolah rasanya tenang ga banyak pikiran. Ibadah masih tertib. Namun setelah kerja dan impian impian saya tercapai saya malah merasa hambar hidup hambar. Saya tidak tahu mau ngapain. Mungkin tulisan mbak ini jawabannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s