Uncategorized

Luruskan Niat Menikahmu

Bagi yang paham, apabila sedang berada dalam proses menuju pernikahan, saat ditanya perihal niatan menikah, maka mayoritas jawabannya adalah sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Subhanallah.. betapa mulianya niat tersebut. Nah.. pertanyaannya, betulkah niatnya lurus untuk Allah dan hanya karena Allah? Hehehe.. biasanya, saat ditanya demikian, kita akan mengangguk yakin bahwa niatannya betul-betul lurus untuk ibadah kepada Allah.  Tapi sekali lagi, betulkah demikian?

Melalui postingan kali ini, yuk kita sama-sama analisis kelurusan niatan menikah kita. As usual based on my own experiences🙂

Subhanallah.. Allah sungguh luar biasa. Pada saat saya sedang berproses ta’aruf kemarin, kami dipertemukan dengan seorang ustadz yang luar biasa pula, dan memang berkapasitas untuk menasihati orang-orang mengenai ilmu-ilmu pernikahan dalam Islam, terutama yang sedang dalam proses ta’aruf seperti kami.

Masih tampak jelas dalam ingatan saya, sore itu kami duduk di ruang buku ustadz tersebut, bersiap untuk mendengarkan berbagai wejangan demi kemudahan proses kami menuju pernikahan. Saya pribadi pada saat itu membayangkan akan menerima nasihat-nasihat indah yang menggiring harapan baik menuju pernikahan idaman. Hati saya dipenuhi pengharapan akan mendapatkan penjelasan mengenai langkah demi langkah yang jelas, untuk mencapai pernikahan yang barakah.

Pertemuan pertama saya dengan ustadz memperlihatkan saya pada sosok bapak yang tampak sangat bijaksana. Beliau ini merupakan mantan preman, yang setelah hijrah, malah semakin melesat dan kini sudah mendirikan banyak sekali rumah tahfidz untuk para santri penghafal Al Qur’an, subhanallah. Tak hanya itu, dunia kini justru berduyun-duyun mengejarnya.

Ustadz membuka percakapan melalui perkenalan dengan kami terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan bertanya mengenai kesibukan kami sehari-hari. Obrolan kami berlangsung sangat santai seperti sedang silaturahim biasa, bukan berguru atau memohon nasihat. Kami pun akhirnya menyampaikan niat kedatangan kami. Ustadz tersebut tersenyum memandangi kami yang saat itu sedang dalam proses ta’aruf. Bukannya memberikan nasihat, beliau malah meluncurkan pertanyaan, yang hingga sekarang menjadi pedoman kuat saya dalam pelurusan niat menikah. Simak baik-baik ya..

“Nak.. kalau kalian yang sudah berproses hingga sejauh ini ternyata  pada akhirnya kalian tidak berjodoh, tidak bisa sampai ke pernikahan..” beliau menghela nafas sebentar, kemudian menatap kami, “Bagaimana perasaan kalian?”

Seketika kami terdiam. Bagi saya pribadi, itu merupakan hal yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali sebelumnya. Saking saya menikmati proses ta’aruf yang indah sesuai syariat Allah, tidak sekalipun terlintas dalam benak saya apabila kelak ternyata kami sebetulnya tidak berjodoh. Saya terdiam cukup lama, merenungkan seandainya hal tersebut benar-benar terjadi. Tidak terbayang sama sekali.

Ustadz memecah keheningan kami dengan mengulang kembali pertanyaan yang sama, “Bagaimana seandainya ternyata setelah berproses sejauh ini, ternyata kalian tidak bisa sampai ke pernikahan sebab kalian memang tidak ditakdirkan Allah untuk berjodoh?” Kami terdiam kembali dan benar-benar membayangkan apabila kelak hal tersebut benar terjadi. Dan akhirnya ustadz bertanya kembali, “Bagaimana perasaannya? Ternyata berat ya membayangkan bila setelah berproses sejauh ini ternyata tidak bisa sampai ke pernikahan?” Saya mengangguk dalam hati. Sungguh berat sekali membayangkan apabila benar suatu hari ternyata proses kami harus terhenti atas alasan apapun, sebab proses kami indah sekali, khususnya bagi saya.

“Nak.. rasa berat hati saat membayangkan seandainya diri tidak berjodoh dengan pasangan yang sedang berproses sekarang merupakan tanda bahwa niat menikahmu belum lurus untuk Allah SWT.” Subhanallah.. JLEB!!

“Ucapanmu mengenai niatan menikah karena Allah, demi ibadah yang lebih lengkap, pengutuhan keimanan, dll.. mudah sekali diuji kebenarannya dengan cara demikian tadi. Bayangkan bila seandainya tidak berjodoh. Ucapanmu diuji melalui rasa hatimu yang jelas tidak bisa berdusta.”

Seketika itu diri ini diliputi muhasabbah yang sangat dalam. Pernyataan ustadz tersebut berputar-putar di kepala. Saya menunduk. Benar, sangat benar. Rasa hati yang berat itu merupakan bukti nyata bahwa niatan menikah saya belumlah lurus karena Allah. Ustadz tersenyum. Tampak dari wajahnya, beliau sangat memahami jawaban dalam hati kami. Beliau kemudian melanjutkan, “Sebetulnya, bila niatan menikahnya benar-benar lurus, rasa berat hati apabila ternyata tidak bisa bersatu dalam pernikahan itu tidak akan ada. Hati yang lapang menerima dengan ikhlas atas apapun ketentuan-Nya bisa dengan mudah dimiliki apabila diri sudah sangat yakin bahwa apapun yang terjadi di muka bumi ini, sebenarnya merupakan ketentuan baik dari Allah. Lagipula, bila benar ternyata tidak berjodoh, berarti Allah sedang siapkan yang benar-benar terbaik menurut-Nya. Apa yang harus disedihkan?”

Saya menenggelamkan diri dalam muhasabbah yang lebih dalam lagi. Saya mengangguk lebih kencang dalam hati. Iya benar, itu benar, sangat benar. Ustadz melanjutkan kembali, “Jadi untuk menggapai pernikahan yang barakah, pertama-tama.. luruskan dulu niat menikahmu, sebab itu yang sebetulnya cukup sulit. Bila niatan sudah lurus, selebihnya insyaAllah akan dimudahkan.”

Ustadz menyampaikan kalimat demi kalimat dengan penuh ketenangan dan diwarnai senyuman yang sangat bijaksana. Sungguh, hari itu merupakan pembelajaran luar biasa. Yang awalnya mengharapkan nasihat langkah demi langkah menuju pernikahan barakah, justru dihadiahi nasihat yang sangat mendasar dan menjadi pondasi kokoh diri sebelum melangsungkan proses pernikahan.

Perjumpaan kami hari itu ditutup dengan sebuah pemaparan indah dari ustadz. “Nak.. tidak ada masalah sama sekali dengan hasil akhir yang tidak sesuai dengan harapan sekalipun, apabila dalam prosesnya kalian sama-sama menjalaninya penuh ketaatan kepada Allah disertai dengan niat yang lurus. Dan sekali lagi, niat yang lurus bisa diukur dengan bertanya pada diri sendiri perihal ikhlas atau beratkah bila ternyata tidak saling berjodoh. Yakinlah Allah pasti berikan keputusan yang terbaik bagi hamba-Nya. Jadi sebetulnya tak ada alasan bagi kita berberat hati terhadap apapun yang tak sesuai dengan harapan. Saya doakan, semoga niat lurus selalu bersemayam dalam hati kalian. Dan bila belum lurus, maka berlatihlah terus.”

Subhanallah.. sebuah perjumpaan yang sangat bermakna. Sejak saat itu, setiap hari saya melatih diri meluruskan niat saya menikah. Setiap ada sedikit  perasaan yang beranjak semakin dalam pada calon pasangan, seketika saya menarik diri dan meluruskan niat saya kembali, hanya untuk Allah, dan karena Allah. Hari demi hari saya berulang kali memaksakan diri meluruskan niat menikah yang sejujurnya tidak mudah, hingga akhirnya saya menemukan diri saya terbiasa dengan niatan menikah yang lurus, insyaAllah.

Alhamdulillah, sebuah pertemuan singkat dengan ustadz tersebut mampu mengkokohkan pondasi utama proses menikah, yaitu dalam hal pelurusan niat menikah.  Hingga akhirnya saya menyadari, tidak ada kekhawatiran sedikitpun aapabila ternyata jodoh saya bukanlah dia yang sedang berproses dengan saya. Cukuplah saya menjalankan prosesnya sesuai dengan yang Allah suka, dan hasilnya biar Allah yang tentukan, suka-suka Allah saja. Tapi bukan berarti saya tidak serius menjalankannya. Saya hanya berpegang teguh bahwa apapun yang jadi ketentuan Allah, pastilah yang terbaik. Menikah kapanpun pada waktu terbaik-Nya, dengan siapapun pilihan terbaik-Nya. Alhamdulillah, ringan sekali rasanya menjalani kehidupan dimana segala sesuatu hal digantungkan harapannya hanya kepada Allah dan hanya untuk Allah. Sebuah anugerah yang tidak semua orang bisa miliki bila ia tidak yakin kepada-Nya. Terimakasih ya Rabb, I love You more🙂

19 thoughts on “Luruskan Niat Menikahmu

  1. Ya Allah..tidak kepikiran seperti itu.
    Dulu saya berpikir jika dua insan dipertemukan dan ditumbuhkan rasa cinta diantara keduanya, maka itu sudah berjodoh. Namun hingga ke jenjang pernikahan dan maut yang memisahkan, itu tergantung dari kedua insan yang menjalani. Jika benar niatnya menikah karena Allah, maka ia akan setia kepada pasangannya yang juga cinta kepada Allah.

  2. Subhanallah, sebuah artikel yg sangat menyejukkan hati. dan ini pula yang sedang saya alami sekarang ini yg sedang dlm proses taaruf , dan suatu ilmu yg begitu bernilai bagi saya, harus mempersiapkan diri, melapangkan hati dan belajar utk benar2 ikhlas apapun hasilnya , yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha dan berdoa , hasil dari proses taaruf ini , biarlah Allah yang menentukan , karena Allah Maha tahu yang terbaik 🙂

  3. Subhanallah.. ini yang sedang saya alami… berat rasanya gagal menikah dengan pasangan kemarin….dan sangat berat mengiklaskannya,, setelah membaca .. insya allah, saya akan trus belajar… allah pasti punya rencana lain.

  4. emmm,,benar sangat dalem banget,,,bermakna sekali pesan,kesannya,,,alhamdulillah bs menjadi bahan introspeksi…

    1. emmm,,benar sangat dalem banget,,,bermakna sekali pesan,kesannya,,,alhamdulillah bs menjadi bahan introspeksi…

  5. Subhanallah.. terima kasih teh, tulisan ini telak banget. Skak Mat.
    Alhamdulillah dulu pun saya pernah begitu yakin dengan seseorang tapi entah hilang kemana rasanya sekarang. Saat itu saya belajar utk meluruskan niat, dan benar kata teteh, netralisir sangat penting. Jadi kalopun saat ini ada orang baru yg berhasil menghidupkan kembali perasaan itu, cepat2 sy kembalikan kepada Allah. Bkn takut kecewa, tapi belajar menyadari siapa Tuhan dan siapa hamba. Keep writing keep inspiring kakaaa🙂

  6. Subhanalloh.. Artikelnya bagus sekali mb. Tks bny memberi pencerahan bagi saya isinya.. Alhmdulillah.. Smoga Allah SWT mpermudah Urusan Mbak dan saya jg.. Aamiin..🙂

  7. Sampai saat ini masih suka membaca artikel ini, agar hati bisa KUAT kembali.. berkali-kali membaca artikel ini,,, berkali-kali pula airmata jatuh,,, karena Allah telah menjawab semuanya,,,Skenario-NYA memang indah…Allah maha mengatur jodoh kita, sekuat apapun kita inginkan dan berdoa ,,namun ketika Allah berkata tidak, kita harus tunduk dan pasrah terhadap ketentuan dan scenario-NYA… meskipun tidak berjodoh dan berakhir dgn kegagalan yg sulit utk dilupakan dan menyesakan dada,, namun TIDAK ada rasa amarah,rasa kesal apalagi amarah dan benci,, Semua rasa selama ini telah tergantikan dgn rasa yg sangat indah ” KESABARAN & KEIKHLASAN HATI” serta rasa TAAT & TUNDUK atas KEHENDAK-NYA, ALLAH pemilik jiwa ini yang Maha Mengatur Segala-NYA😥

  8. Sampai saat ini masih suka membaca artikel ini, agar hati KUAT kembali.. berkali-kali membaca artikel ini,,, berkali-kali pula airmata jatuh,meskipun pengalaman ini sudah 2 th berllalu.
    Allah telah menjawab semuanya,,,Skenario-NYA memang indah…Allah maha mengatur jodoh kita, sekuat apapun kita inginkan berhasilnya sebuah hubungan dan berdoa ,,namun ketika Allah berkata tidak, kita harus tunduk dan pasrah terhadap ketentuan dan skenario-NYA… meskipun berakhir dgn kegagalan yg sulit utk dilupakan dan menyesakan dada,, meski awalnya cukup kecewa, namun TIDAK ada rasa amarah,rasa kesal dan rasa benci,, Semua rasa selama ini telah tergantikan dgn rasa yg sangat indah ” KESABARAN & KEIKHLASAN HATI” serta rasa TAAT & TUNDUK atas KEHENDAK-NYA, ALLAH pemilik jiwa ini yang Maha Mengatur Segala-NYA😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s