Uncategorized

Industri Maksiat VS Industri Kebaikan

“Sebenar-benarnya perjuangan, adalah penebaran kebermanfaatan, melalui pelestarian kebaikan. ” – Febrianti Almeera

Konser atau acara hura-hura semata tanpa makna kini kian menjamur. Dikemas apik, menarik, dengan serentetan sponsor yang siap mendukung demi kesuksesan acara. Tempat pelacuran juga terus bertahan, hingga sang mucikari tiada pernah merugi. Clubbing atau tempat dugem pun tumbuh semakin besar, bahkan semakin modern, juga semakin update baik dari konten, maupun konteks.

I’m so sorry before, but I called it.. “Industri Maksiat”. Mohon maaf bila bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sarkasme. Tapi memang begitu adanya. Saya ambil contoh nyata, dunia clubbing. Ini jelas industri maksiat. Orang-orang yang hadir disana, saya pastikan berorientasi akan kepuasan. Kepuasan atas nafsu dunia, yang tak jelas arahnya kemana. Atau mungkin jelas, ke arah menjerumuskan. Bagaimana tidak, orang berduyun-duyun kesana untuk beraksi di lantai dansa, hura-hura, tak peduli perempuan dan laki-laki, semua berbaur goyangkan badan, berhimpit-himpitan, diri mungkin setengah tak sadarkan, sebab alkohol telah tertenggak meski sebagian. Siapa sadar bila tangan-tangan nakal menggerayang, sebab semua larut dalam dentuman musik yang membuat jantung tiada henti berdebar, memicu adrenalin, ditambah dorongan hasrat yang semakin kuat akibat alkohol dipadu dengan nikotin. Ini merupakan salah satu industri maksiat yang terus menerus tumbuh. Ya, sangat menyeramkan. Lebih seram lagi, ternyata..masih banyak industri maksiat lainnya yang juga tumbuh semakin pesat.

Banyak orang sebab paham, jadi tak suka pada tumbuhnya industri-industri maksiat. Mencerca banyak, tapi tidak bisa ambil tindakan pula. Kalaupun ada yang mengambil tindakan, jatuhnya jadi berperilaku kasar hinggaย  merusak. Islam itu indah. Islam itu penyampai kebaikan. Islam itu penuh kelembutan. Baiknya kita melakukan perlawanan terhadap industri maksiat tersebut dengan anggun dan berkelas, yaitu melalui pelestarian “Industri Kebaikan”.

Industri kebaikan berfokus pada penebaran kebermanfaatan. Tujuan utamanya jelas, sebagai wasilah atau perantara bagi kebaikan dari Allah SWT ke muka bumi. Kemasan-kemasan industri kebaikan juga bisa beragam, misal melalui training, majelis ilmu, seminar, komunitas pembelajar, dan kegiatan-kegiatan lain yang jelas ada manfaat bagi yang mengikutinya. Tapi sungguh sayang, faktanya, industri kebaikan sulit sekali tumbuh. Berbeda dengan industri maksiat yang terus melaju. Yuk saya bantu analisis kenapa industri-industri maksiat tumbuh melesat, sedangkan insutri kebaikan banyak tersendat.

Suatu kegiatan, atau bisnis, atau event itu bisa berjalan dan tumbuh bila ada yang mendanai. Siapa yang mendanainya? Para pembeli. Siapakah pembeli-pembeli yang dimaksud? Mereka adalah orang-orang yang rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk ditukar dengan suatu hal. Nah, sayangnya.. ‘suatu hal’ yang sangat sering dibeli adalah produk-produk industri maksiat. Sedangkan industri kebaikan seringkali dikecilkan. Tidak kebayang? Yuk saya bantu ilustrasinya.

Contoh: Ada konser musik tiket Rp 500.000,- dengan pengisi acara yaitu Raisa, Trio Lestari, Maliq and D’Essentials, dan Tulus, yang hanya bisa dinikmati 3 jam. Di saat yang bersamaan, ada sebuah training peningkatan kualitas diri selama 2 hari, yang tiketnya juga seharga Rp 500.000,-. Secara umum, mana yang terasa lebih mahal? Ayo.. libatkan imajinasimu seandainya kamu adalah orang-orang modern kebanyakan. Ya! Aneh memang. Tiket konser akan terasa lebih murah dari tiket training, meski harganya sama. Dalam hal ini, bukan berarti konser dari artis-artis tersebut di atas adalah industri maksiat, melainkan hanya digunakan sebagai contoh saja. Ini terjadi sebab gaya hidup dan orientasi hidup modern. Kebanyakan orang yang terseret derasnya arus dunia modern ini sudah lupa akan hakikatnya sebagai manusia, yang jelas tertulis dalam Al Qur’an.

“Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat demikian Mahasuci dan Mahatinggi Dia.” QS. Ar Rum: 40

Jelas dalam Al Qur’an tertulis bahwa setiap jiwa yang dilahirkan, akan dimatikan. Dan itu pasti terjadi. Kelak bila tiba masa jiwa ini dipanggil untuk berpulang, yang setia menemani hanya amal dan dosa. Bukankah tak ada kepingan amal yang dapat kita masukkan ke dalam pundi-pundi tabungan bila kita turut membesarkan industri maksiat? Lalu kenapa masih ragu besarkan industri kebaikan?

Jangan kecilkan industri kebaikan dengan mengatakan “Ah, itu kan isinya penyampaian kebaikan, ilmu. Harusnya nggak perlu dibayar. Sampaikan kebaikan atau ilmu itu kan kewajiban.” Ya, itu memang benar. Tapi ingatkah kenapa industri maksiat bisa tumbuh? Industri maksiat tumbuh karena ada dana untuk mereka tumbuh. Karena ada banyak sekali orang yang rela membayar mahal hanya untuk bergoyang, berhimpit-himpit, menggerayang-gerayang, menabung dosa. Lalu kenapa mendanai industri kebaikan terasa berat? Padahal membayarnya pun menjadi kebermanfaatan bagi kita sendiri yang jelas-jelas bentuknya berupa ilmu dan syafaat. Membayar produk dari industri kebaikan juga bukan semata soal keluar uang. Tapi uang yang dibayarkan akan menumbuhkan industri kebaikan tersebut, sehingga manfaatnya akan lebih luas. Amal jariyah yang tiada terputus. Bukankah ini menjadi tabungan amal yang sangat luas juga. Ini sangat logis.

Bagamaina industri kebaikan bisa tumbuh bila selalu disandingkan dengan penyampaian bahwa kebaikan itu mestinya gratis, atau ilmu itu mestinya dibagikan cuma-cuma. Pertanyaannya, jadi apakah wajar untuk bermaksiat rela membayar mahal, sementara untuk kebaikan sangat perhitungan? Inilah penyebab dari kebaikan kurang tersebar. Ayo lihat sudut pandang ini.

See.. ini bukan soal uang semata. Ini soal pelestarian kebaikan. Kebermanfaatan yang sangat luas. Inilah yang saya maksud dengan cara anggun memerangi industri maksiat. Tidak perlu gunakan otot untuk hancurkan. Cukup dengan menyadari bahwa mereka tidak patut didanai, dan menyadari pula bahwa industri kebaikan sangat wajar dan pantas didanai. Tumbuhkanlah industri kebaikan.

Bayangkan bila industri maksiat kehilangan pasar, sebab semua sadar, ada yang tidak benar. InsyaAllah hancur juga tanpa harus kasar-kasar. Tapi ya jelas.. secara realistis, pasar mereka itu banyak, dan berarti yang mendanainya juga banyak. Itu juga berarti ke depannya industri maksiat masih memiliki potensi untuk terus tumbuh. Maka, yuk perangi industri maksiat dengan cara menumbuhkan dan melesatkan industri kebaikan, melalui rasa wajar bila industri kebaikan dihargakan.๐Ÿ™‚

“Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. Al Baqarah: 148

One thought on “Industri Maksiat VS Industri Kebaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s