Uncategorized

Saya dan Asal Mula Great Muslimah

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak.” – QS. An-Nisa: 100

Saya Febrianti Almeera, lahir 21 tahun yang lalu tepatnya di Bandung, 26 Februari 1991. Papa dan mama merupakan seorang entertainer konvensional. Mama penyanyi jazz dan papa seorang event organizer. Keluarga besar juga merupakan para pelaku seni. Kakek pelukis, para paman dan bibi ada yang pemain musik, penyair, pemahat, dll. Darah seni yang mengalir di keluarga besar saya ternyata mengalir juga dalam darah saya.

Sejak kecil saya diterjunkan mama untuk meneruskan jejaknya menjadi seorang penyanyi. Seketika itu saya tumbuh menjadi seorang penyanyi. meski masih dalam tahap belajar. Dan ternyata tidak hanya dalam bidang menyanyi, saya juga senang sekali bicara. Maka, tepat ketika saya beranjak remaja, ajang pencarian bakat menyanyi yang saya ikuti, justru menghantarkan saya pada pertemuan dengan seorang produser radio besar di Bandung yang akhirnya menerjunkan saya ke dunia broadcast, sejalan dengan passion “bicara” saya.

Singkat cerita, di tahun pertama saya menjadi announcer, saya semakin akrab dengan dunia entertain lengkap beserta life style seorang entertain. Saya senang hangout, menghabiskan waktu berjam-jam untuk nongkrong atau jalan-jalan, melakukan pertemuan sebagai rutinitas dunia sosialita agar tidak ketinggalan gosip-gosip terbaru, belanja sana sini, dan mengenakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh sebagai tuntutan profesi seorang entertainer. Tidak hanya menjadi announcer, saya diterjunkan lagi menjadi MC. Bukan MC untuk event-event biasa, melainkan MC untuk event yang skalanya middle to high. Bahagia bukan main, sebab karir saya pada saat itu adalah passion saya, dan terus menanjak di usia semuda mungkin. Profesi saya mengantarkan saya pada perkenalan terhadap orang-orang penting di dunia entertain yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang apabila saya bukan entertainer, pasti sulit bertemu orang-orang seperti demikian. Mereka diantaranya artis, penyanyi, pemain film, produser, sutradara, pemilik rumah produksi, dll.

Semakin semangat, jiwa saya semakin menyatu dengan dunia entertain.  Saya semakin merasa biasa berdandan mengenakan pakaian yang mempertontonkan aurat, pulang larut malam setelah beraktivitas yang sekedar rutinitas dunia sosialita, dan begitu seterusnya. Hingga tiba suatu masa, sebuah manuver hebat terjadi dalam kehidupan saya. Dan saya ‘banting setir’ 180 derajat, ke dunia yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan gemerlap yang saya jalani. Saya merasa sangat beruntung diizinkan Allah untuk meluruskan arah dengan cara terindah-Nya yaitu melalui permasalahan ekonomi keluarga yang cukup besar sehingga menuntut saya untuk menjadi tulang punggung keluarga di usia sangat muda. Saya pun mulai menjalani aktivitas keimanan instan. Mendadak rajin shalat, rajin dhuha, rajin tahajjud, puasa Senin-Kamis, dll. Disanalah saya merasakan hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Bukan dunia gemerlap dan puja puji terhadap diri, melainkan kesejukan batin yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Dari sana saya memulai kisah hijrah saya.

Saya mulai mencoba meniti langkah berkah sebab saat itu keadaan memaksa saya bergerak cepat demi keluarga saya. Sebagai gambaran, finansial keluarga saya jatuh. Mama dan papa nyaris menyerah dan kebingungan bagaimana jalan penyelesainnya, sebab mereka hanya seorang entertainer, tidak punya investasi bisnis ataupun pekerjaan tetap. Dan yang namanya entertainer, kalau tidak punya value lebih atau sekedar menghibur saja, maka semakin bertambahnya usia akan semakin dilupakan sebab tergantikan oleh para entertainer yang lebih fresh. Kedua orang tua saya gamang, belum lagi mereka memiliki saya dan 2 orang adik saya yang masih harus dibiayai, baik keperluan sehari-hari maupun sekolahnya. Sedih dan kacau, saya ingat sekali.

Akhirnya, dengan berbekal kenekatan, saya memajukan langkah menyatakan pada orang tua bahwa keadaan ini akan segera berubah lebih baik, dan saya pun meminta izin pada kedua orangtua untuk menanggung kehidupan kami sekeluarga, berlima. Saat itu saya hanya ingin menenangkan orang tua, tanpa persiapan khusus bagaimana caranya menanggung kewajiban menghidupi keluarga, berlima pula. Tapi disitulah tangan Allah bekerja, dan dengan desain indah dari-Nya, akhirnya saya semakin mendekat dan lebih dekat lagi dengan Allah. Sejujurnya, dalam perjalanan saya, saya menjadi seorang yang berbeda di antara kawan-kawan sebaya saya. Ketika mereka kuliah kemudian setelah selesai memilih untuk berjalan-jalan, maka saya sesegera mungkin mencari peluang untuk berinvestasi. Bukan, bukan investasi uang, melainkan investasi diri. Saya meningkatkan ilmu, pengetahuan agama, memeperkokoh pondasi akhlak, dan melebarkan silaturahmi ke berbagai komunitas.

 

HIDUP DI DUA DUNIA YANG BERTOLAK BELAKANG

Singkat kisah, kini saya bersyukur pada masa itu diberikan kondisi yang sangat sulit dan menghimpit. Bahkan bila diputar ulang dalam memori saya, saya takjub melihat langkah kaki saya yang cenderung sangat berani. Tentunya itu merupakan kekuatan dan desain Allah yang luar biasa. Saya direkatkan pada para kawan-kawan yang shalih dan shalihah tanpa meninggalkan kawan-kawan dunia entertain saya. Justru, berkawan dengan orang-orang di 2 dunia yang berbeda yang bertolak belakang 180 derajat memberikan saya pemahaman bahwa sebetulnya, para entertainer tersebut bukan tidak mau mendekat pada Allah atau berupaya shalih, melainkan mereka tidak ada yang mengingatkan dan mengajak. Saya pun mengamati orang-orang penggiat kebaikan, rata-rata hanya menyentuh orang-orang yang sudah ‘rapi’. Alhasil, yang baik semakin baik, yang kurang baik semakin jauh.

Disinilah saya melihat sebuah peluang besar. Bukan peluang bisnis, melainkan peluang ladang amal atau biasa saya sebut #SahamSurga, yang bila dilakukan, insyaAllah menjadi amal jariyah. Di situlah saya memulai langkah menjadi seorang ‘penyusup’. Saya membawa misi mengenalkan betapa sejuknya Islam ke lingkungan dunia entertain, khususnya kepada para entertainer yang merupakan kawan-kawan dekat saya, dalam balutan yang tidak tampak. Maksudnya, saya tetap bergabung bersama mereka dalam kegiatan hangout, ngobrol-ngobrol menghabiskan waktu berjam-jam di coffee shop, tapi di sela-sela obrolan, saya akan memasukkan pembahasan-pembahasan tentang indahnya Islam dalam kemasan topik yang juga entertaining, sesuai dengan jiwa mereka.

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjeasan kepada mereka.” – QS. Ibrahim: 4

Alhamdulillah, dalam proses bergerilyanya saya mengenalkan kesejukan Islam di dunia entertain yang tidak tersentuh Islam atau bahkan mental block terhadap agama, saya menemukan sebuah fakta bahwa ternyata.. orang-orang yang tidak dekat pada Allah, itu rentan sekali gelisah, atau bahasa gaulnya: galau. Kenapa demikian? Sebab orang-orang yang tidak kenal Allah tersebut akan menggantungkan kebahagiaannya hanya pada dunia semata, baik itu pada orang-orang di sekitarnya ataupun pada harta benda yang mereka miliki. Padahal, yang namanya manusia dan harta benda itu sifatnya tidak kekal dan tidak selalu bisa sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Alhasil, mereka-mereka yang pegangannya hanya pada dunia, akan mudah sekali dikecewakan. Dan saat sedang kecewa, mereka akan mencari pelarian yang juga bukan ke Allah, tapi ke lingkungan yang kurang lebih sama, atau bahkan lebih buruk. Dan dalam kondisi galau, seseorang mampu dengan cepat menyerap informasi atau nasihat-nasihat meski itu merupakan nasihat yang buruk. Jadi logis kan kenapa yang kurang baik berpotensi menjadi semakin tersesat. Nah, disanalah saya mengambil peran.

Meskipun saya berjilbab, saya tidak mengubah cara saya berinteraksi dan berkomunikasi, saya tetap tampil se-entertain mungkin, agar saya bisa tetap berada di lingkungan tersebut.. #SahamSurga insyaAllah. Alhasil, ketika galau melanda beberapa kawan entertain saya dan mereka melarikan diri kepada saya kemudian mencurahkan kegundahannya, saya dapat dengan mudah memberikan input-input positif dan kedamaian serta kesejukan apabila kita dekat dengan Allah. Tentu tidak mudah bagi saya pada awalnya, tapi haltersebut mulai menunjukkan hasil. Sampai saat ini, total ada 18 kawan perempuan saya yang berprofesi sebagai penyanyi, model, SPG, dan para entertainer lainnya, memutuskan untuk berhijab.  Berat lho bagi mereka. Saya bahagia luar biasa.

Dari situ saya yakin, inilah jalan saya. Bukankah setiap manusia yang terlahir di muka bumi ini merupakan khalifah. Dan khalifah itu membawa sebuah misi dari Allah, yaitu menebarkan kebaikan. Lebih serunya lagi, misi setiap khalifah di muka bumi ini berbeda antara satu dengan yang lain. Saya, perlahan mulai meyakini, misi yang Allah tanamkan dalam diri saya di muka bumi ini adalah untuk masuk menjadi jembatan antara dunia entertain dan kesejukan Islam, insyaAllah, kalau Allah ridho. Semoga kerendahan hati masih menaungi diri.

 

ASAL MULA GREAT MUSLIMAH

Seiring berjalannya waktu, saya semakin menikmati keindahan Islam. Betapa saya selalu merasakan kedamaian meski dalam keadaan terhimpit sekalipun. Sebab saya yakin, segala hal yang Allah izinkan terjadi di muka bumi ini pasti memiliki tujuan membaikkan, meskipun mungkin jalannya tidak mulus.

Suatu saat, ketika saya masih menikmati misi diri menjadi ‘jembatan’ tadi, saya mulai tertarik secara lebih spesifik terhadap kawan-kawan perempuan yang muslim, atau muslimah. Yang membuat saya tertarik adalah semakin banyaknya yang berlomba-lomba mengenakan hijab dengan gaya yang menarik, sehingga membuat kawan-kawan muslimah yang lain ingin juga berhijab, serta melunturkan paradigma bahwa berhijab itu kampungan. Menarik dan menyenangkan sekali melihat fenomena tersebut. Saya salut pada para muslimah penggagas ide berhijab tapi modis tersebut. Terlepas dari yang mengenakan hijab tersebut lurus niatnya atau hanya terprovokasi fashion style, saya tetap mengapresiasi. Bagi saya, meskipun niat berhijabnya belum lurus, tapi sudah mau berhijab, itu merupakan sebuah langkah yang sangat baik. Perihal niat bisa ditata sambil berjalan.

Tapi lama kelamaan, muncul kegundahan saya. Suatu ketika, saat saya untuk pertama kalinya bergabung dalam sebuah event bersama kawan-kawan muslimah berhijab modis, terjadi ketimpangan. Yang dibahas adalah merk tas apa yang dipakai. Apakah Channel, Louis Vuiton, Prada, dll. Lalu membahas outfit yang dikenakan, apakah beli di Mango, Sogo, atau dimana. Ya memang tidak semuanya, tapi ada lho yang akhirnya berhijab salah konsep. Malah lebih mementingkan penampilannya saja. Apakah tidak boleh berhijab tapi modis? Bagi saya, sangat boleh. Itu bisa menjadi salah satu sarana dakwah kepada muslimah lain yang belum berhijab. Tapi bila yang ditekankan hanya modis saja, namun tidak paham esensi hijab itu apa, fungsinya apa, itulah yang membuat saya gelisah.

Lalu, saya juga menemukan fenomena dimana ketika di event, muslimah mengenakan hijab, tapi dalam kesehariannya, hijab tersebut malah dilepas. Saya akhirnya berupaya mencari tau akar dari terjadinya fenomena ini. Akhirnya saya menemukan bahwa syiar atau dakwah berhijab melalui fashion style yang ada saat itu sebetulnya baik sekali, hanya saja kurang kuat, sebab fokusnya blur, lebih condong ke fashion. Wallahualam sebetulnya bagaimana, tapi itulah hasil pengamatan saya. Sedangkan pemahaman mengenai Islam, wanita, muslimah, hijab, akidah, dan akhlak terkesampingkan. Padahal itu pondasi utama. Bila pondasi sudah kokoh, insyaAllah dakwah muslimah akan lebih hebat. Dan masing-masing muslimah tanpa disadari akan menjadi pendakwah melalui cara dia berpakaian, bertutur kata, berpikir, dan berperilaku.

Kegundahan saya inilah yang kemudian membuat saya membangun sebuah komunitas muslimah bernama Great Muslimah. Didirikan bukan sebagai komunitas tandingan, melainkan untuk saling melengkapi dengan komunitas muslimah yang sudah ada. Great Muslimah berfokus terhadap prestasi dan inner beauty dari seorang muslimah. Jadi, berbagai program yang dijalankan Great Muslimah lebih ditekankan pada peningkatan kapasitas dan kualitas diri muslimah dalam bentuk pengasahan bakat. Seperti program Great Muslimah Entrepreneur, Great Muslimah Writer, Great Muslimah Public Speaker, dll. Dan yang paling utama, fokus terhadap inner beauty of muslimah. Yang dimaksud inner beauty di Great Muslimah adalah pondasi-pondasi Islamnya, pemahaman terhadap dirinya sebagai muslimah, terhadap hijab yang dikenakan, dan lain sebagainya sebagai pegangan kuat muslimah dalam kehidupan untuk senantiasa semakin dekat kepada Allah. Dalam setiap program apapun yang diadakan oleh Great Muslimah, penanaman inner beauty selalu disisipkan, hingga tanpa sadar, setiap aktivitas yang dilakukan para anggota Great Muslimah itu akan membawa nilai-nilai kesejukan Islam. Menyenangkan bukan?🙂

Alhamdulillah, komunitas Great Muslimah yang saya dirikan ini meski terhitung baru, tapi sangat cepat diterima masyarakat terutama para muslimah, sebab membawa visi dan nilai baru yang insyaAllah menjadi #SahamSurga. Semua anggota Great Muslimah terhubung melalui sosial media twitter akun @GreatMuslimahID dengan pusat komunitas di kota Bandung. Saya mengelola Great Muslimah bersama 4 orang kawan saya yang terfiltrasi secara alami, bukan melalui rekruitmen formal. Mereka adalah Yuliawati bertugas memanajeri saya, Devi Fitrianidia bertugas mempelajari Al Qur’an, sunah, dan hadits-hadits shahih, lalu Ria Nurfitriani Dewi bertugas mengelola hal-hal administratif, kemudian terakhir Inna Nurhidayah bertugas sebagai eksekutor program.

 

VISI GREAT MUSLIMAH

Visi Great Muslimah adalah membangun pondasi kokoh muslimah-muslimah berprestasi yang tidak lelah berupaya taat syariat. Anggota Great Muslimah tersebar di seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Aceh hingga ke Jayapura. Sejauh ini, saya hanya menyampaikan dan menekankan visi yang sama pada ketua-ketua Great Muslimah di setiap kota, sehingga mereka bebas berkreasi membuat program asalkan selalu berada dalam visi yang sama. Sudah bukan saatnya lagi muslimah berdiam diri, tapi harus melesatkan prestasi, agar semakin banyak yang terinspirasi. Dan utamanya, harus selalu syar’i, agar Allah senantiasa meridhoi.

Sebab sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat, maka Great Muslimah merupakan salah satu sarana penebar kebermanfaatan. InsyaAllah. Dan saya sangat bangga menjadi salah satu khalifah Allah yang misi hidupnya diperjelas dalam waktu semuda mungkin, melalui Great Muslimah. Thank You, Allah.

8 thoughts on “Saya dan Asal Mula Great Muslimah

  1. Salut sama Almeera….
    Terus terang saya jarang melihat cewek yang kayak kamu, yang berani “banting setir” menjadi seorang “real muslimah”. Zaman sekarang lebih banyak cewek yang kelihatannya bangga mempertontonkan auratnya. Kita kan juga sedih kalau semua cewek berfikiran seperti itu.

    Kita berharap mudah-mudahan lebih banyak cewek yang berani “bermanuver” kayak Almeera.

    Wassalam🙂

  2. Pewski, saya selalu salut denganmu. Barakallah ya, semoga semakin baik lagi. Anyway, apakah nggak apa kamu memajang fotomu yang belum berhijab? Tapi saya suka sekali lho dengan artikelmu ^^. Semoga kita dipertemukan Allah, aamiin ^^. Fighting!

  3. Jadi ingat sebuah klausa sederhana, “keadaan yang memaksa”. Keadaan yang membentuk sifat kita, bukan diri kita sendiri. Dalam narasi di atas, apakah keadaan “ekonomi” yang memaksa tokoh utama untuk meniti jalan Tuhan atau tidak, hanya ia yang tahu. Harap saya, ketika roda kehidupan bergulir, keadaan berubah dari bawah ke atas, sang tokoh dapat dengan konsisten menyebarkan dharma Islamiyah dalam diri sendiri maupun dalam lingkungan sosial. Sehingga dengan jelas sang tokoh dapat menegaskan kepada orang lain bahwa berubahnya sang tokoh memang berasal dari diri sendiri (berdasarkan proses berpikir-pencerahan-pendalaman-internalisasi).Semoga, semoga. Amin. sukses🙂

  4. Alhamdulillahhh akhirnya terjawab juga kegundahan yg sama sy rasakan wkt sesekali ikut komunitas muslimah yg awalnya sy pikir untuk belajar islam dan menjadi muslimah yg lbh baik, tp sy merasa byk fashion yg lbh ditekankan. Sy mencari2 kumpulan teman2 sebaya untuk sama2 belajar islam lbh baik lg, jd muslimah lebih baik yg spt km blg.. InsyaAllah ini jawaban nya.. Makasi banyak udh berani buat greatmuslimah..🙂 insyaAllah kl ada yg dibantu sy mau membantu. Just email me or tweet @anindeta.

    Wassalamualaikum wr wb..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s