Uncategorized

Apakah Fitrah Perasaanku ini Zina?

“Halalkanlah aku bagimu, barulah kamu berhak pacaran berlama-lama denganku..” – Febrianti

Pacar adalah sebuah status yang dilekatkan pada 2 insan manusia berbeda jenis apabila mereka telah bersepakat satu sama lain untuk menjalin hubungan. Sedangkan pacaran merupakan bentuk aktivitasnya. Aktivitas-aktivitas pacaran antara lain: jalan berdua, pegangan tangan, telepon-teleponan, saling mengkhawatirkan, sampai dengan peluk-pelukan, kecup-kecupan, dan sebab cinta itu katanya buta.. bisa sampai raba-rabaan. Apa boleh begitu? Ya boleh, asaaaaal… sudah halal🙂

Sayangnya, yang namanya pacaran itu umumnya dilakukan sebelum halal (menikah). Dan memang dalam Al Qur’an tidak ada yang namanya pacaran. Entah siapa yang membuat nama tersebut sehingga disalah persepsikan dan disalah gunakan. Nah ini bahaya! Perhatikan bentuk-bentuk aktivitas pacaran di atas itu. Bila sudah menikah, melakukan aktivitas tersebut ya halal saja, berkah malah. Tapi bila dilakukan sebelum menikah, semua berpotensi besar mendekati pada zina, dan Allah sungguh tak meridhoinya.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu pekerjaan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra’ : 32)

Setelah kultwit #CintakuBelumHalal di twitterland kemarin, muncul sebuah pertanyaan seputar pacaran yang di mention ke akun @pewski seperti ini: “Teh, saya menyukai seorang perempuan, apakah itu termasuk zina?” Oke, sebelum saya menjawab, yuk sama-sama kita pahami definisi dari zina menurut hadits shahih berikut ini.

“Zinanya mata adalah melihat (sesuatu), zinanya lisan adalah mengucapkan (sesuatu), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan (sesuatu), sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu (semua).” – HR Bukhari & Muslim

Kata “sesuatu” yang muncul berulangkali dalam hadits shahih di atas maksudnya adalah yang mengarah pada keinginan untuk berhubungan kelamin. Itulah makanya di akhir hadits ditutup dengan “… sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu (semua)”. Maka dari itu, melihat yang bukan muhrim belum tentu zina. Bila tak dibarengi dengan desir rasa ingin berbuat ‘sesuatu’ itu tadi, ya tidak mengapa. Kecuali melihat yang bukan muhrim kemudian berpikiran macam-macam, itu baru zina. Begitupun dengan menyukai seseorang, itu bukanlah zina asalkan tidak diiringi dengan pemikiran-pemikiran ‘kotor’ yang mengarah kepada ‘sesuatu’ itu tadi.

Dan sesungguhnya, perasaan itu fitrah, anugerah Allah. Allah hantarkan rasa untuk mewarnai dunia. Setiap langkah meretas semangat membara karena diri merasa dicintai dan mencintai. Untuk mengejawantahkannya, Allah sediakan satu-satunya solusi yaitu melalui pernikahan, berkah dan halal. Pertanyaannya tadi, bagaimana bila rasa menyukainya itu muncul ketika belum halal. Tetaplah terima perasaannya sebagai anugerah Allah, lalu terjemahkan dengan akal sehat dan pikiran yang jernih, lalu masukkan diri ke dalam 2 pilihan: bila siap maka segera halalkanlah melaui pernikahan, bila belum siap maka mencintailah dalam diam. Saya dalam bahasan ini berpikir logis dan manusiawi. Sulit bila fitrah ditahan-tahan, betul? Maka nikmatilah perasaannya tapi tak perlu diutarakan. Bila belum siap menikah tapi juga sulit menahan rasa untuk tidak diutarakan, maka anjuran sahabat-sahabat Rasul, berpuasalah. Sebab puasa menahan diri dari segala hawa nafsu.

Saya sampai dengan saat ini alhamdulillah masih istiqomah menjalankan proses ta’aruf dengan calon pangeran Surga saya. Dan dalam perjalanannya, meski kami membatasi komunikasi, selalu melibatkan murabbi, dan bahkan minim interaksi, tapi fitrah perasaan itu seringkali muncul. Entah menelusup dari mana dan kapan. Seketika itu saya khawatir perasaan saya ini termasuk dalam golongan zina hati, sebab saya tak mau mengotori proses syar’i kami menuju pernikahan suci meski hanya sedikit. Saya berulang kali menetralisir perasaan dan perasaan menyukai itu muncul kembali. Daripada saya gelisah, saya tanyakan saja pada murabbi dan jawabannya adalah apa yang saya tuliskan di atas tadi. Saya dipahamkan mengenai pengertian dari zina. Saya juga dijelaskan dengan lembut dan penuh kasih mengenai perasaan itu adalah fitrah, anugerah Allah. Selama saya memiliki perasaan suka terhadap calon pangeran Surga saya ini tapi saya tetap menjaga hasrat diri untuk tidak menyampaikannya pada beliau dan juga tidak menginginkan hal-hal yang belum saatnya, maka tak mengapa. Dan alhamdulillah sampai saat ini saya selalu mentaati setiap peraturan dan batasan yang diberikan oleh perantara kami. Itulah jawaban yang menenangkan hati saya. Kini saya menikmati fitrah yang Allah anugerahkan kepada saya dengan tetap menjaga ke-syar’i-annya hingga tiba masa dimana saya halal untuk mengutarakannya🙂

“Perasaan itu anugerah Allah, berkah. Yang tidak berkah adalah perbuatan tidak baik yang lahir dari perasaan tersebut..” – Febrianti

7 thoughts on “Apakah Fitrah Perasaanku ini Zina?

  1. teh, boleh nanya ga? saya adalah seorang gadis yang gemar berorganisasi, kemudian saat kemarin saya mengikuti sebuat kegiatan, ada seorang pria yang sangat baik sekali, dia selalu mengingatkan saya akan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim, lama-kelamaan terselip rasa suka pada diri saya, lalu bagaimana menurut teteh? apa yang harus saya lakukan teh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s