Uncategorized

Tumbuhlah Semakin Tinggi Meski Angin Semakin Keras Menerpa

“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia orang yang beruntung. Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia orang yang merugi. Sedangkan barang siapa  hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia orang yang celaka.” (H.R.Dailami)

Ada berbagai macam versi pengertian dari hijrah. Tapi bagi saya sendiri, hijrah itu adalah proses perubahan. Simple :D Sesuai dengan hadits di atas, saya menyimpulkan bahwa berarti dari hari ke hari kita manusia akan selalu mengalami perubahan-perubahan yang diawali dari keputusan kita atas berbagai pilihan. Allah tidak menggerakkan kita untuk membuat pilihan, semua murni tanggung jawab kita. Barulah setelah kita menentukan pilihan, Allah berikan hasil dari pilihan kita tersebut. Jadi jangan salah-salahin Allah, sebab kitalah yang memilih mau jadi orang beruntung, merugi, atau celaka.

 

BIBIT DALAM DIRI

Terlahir di tengah keluarga entertain, dimana mayoritas keluarga saya adalah penyanyi, pemusik, pelukis, dll.. maka saya tumbuh menjadi seorang entertainer. Pengasahan bakat seni saya yang pertama itu difokuskan pada bidang tarik suara. Tidak disekolahkan musik, melainkan murni diajarkan oleh mama sejak tahun 1998. Kemudian di 2003 saya difasihkan menulis dan membaca puisi. Saat SMP kelas 2, saya mempelajari teknik pidato (formal public speaking) karena saya ini OSIS. Kemudian memasuki dunia SMA, saya dinobatkan sebagai Junior Marketing of The Year 2008. Disana saya memplajari ilmu di luar seni, yaitu dunia marketing kreatif. Seru! Tak lama dari itu saya terjun ke dunia broadcast, tepatnya sebagai announcer OZ Radio Bandung. Disinilah saya berkembang pesat. Saya mengalami self improvement cara berkomunikasi yang menyenangkan melalui teknik-teknik siaran: smiley voice, fast speed, junk word, dll untuk bisa menjadi penyiar yang heart touch. Tak hanya itu, setelah teknik komunikasi radio oke, saya diterjunkan ke dunia MC, ketemu real audience. Saya juga dilibatkan dalam banyak sekali event organizing yang sangat bergengsi. Alhamdulillah akhirnya setelah bertahun-tahun di bidang tersebut, pribadi public speaker yang menyenangkan terbentuk alami dalam diri saya.

Perhatikan perpaduannya: singing + writing + public speaking + event organizing + marketing. Saya sungguh bersyukur mengalami suatu perjalanan masa muda yang sangat produktif.  Ya tentunya memang tak semulus itu. Ada berbagai cobaan dan hambatan dalam perjalanannya. Tapi apapun itu, kini saya merenungi.. betapa Allah telah percaya menitipkan saya kemampuan luar biasa. Betapa komplit anugerah bakat entertain yang Allah titipkan dalam diri saya. Saya akan jadi orang yang kufur nikmat bila telah dititipi Allah tapi tak mampu menjadikannya sumber manfaat. Maka, mulailah saya membangun kredibilitas saya, melalui berbagai kontribusi di bidang entertain.

Sebab terbiasa, lama kelamaan tanpa disadari, saya menjadi sangat fasih menangani dunia kreatif. Intuisi saya terasah tajam terutama dalam membuat sebuah event. Segala ide mengalir deras, out of the box. Dan untuk urusan satu ini, bila ide saya dihajar dengan kata “Nggak mungkin bisa, Pew.” saya akan keukeuh memperjuangkan karena entah kenapa saya lagi-lagi dianugerahi Allah kemampuan merancang future pictures of event. Saya dengan mudah memvisualisasikan ide saya meski belum kejadian, sehingga step by stepnya saya arrange dengan tidak terlalu banyak kesulitan. Jadilah saya complete package entertainer.

 

AWAL MELESAT

Ketika masuk kuliah.. saat para mahasiswa baru dihujani dengan banyak project membuat acara ini dan itu, wah saya semangat sekali. That’s my passion! Ide-ide gila mengalir. Saya melakukan transfer pictures of event saya kepada teman-teman panitia seperti biasa sehingga alhamdulillah setiap event yang angkatan saya buat itu GONG!! Utamanya jelas karena izin Allah. Juga dipadu dengan kepiawaian para team yang percaya sekali dengan arahan saya. Alhamdulillah berkah, atas izin Allah.

Alhasil tahun pertama saya menjadi mahasiswa diwarnai dengan popularitas melesat sebagai ahli pembuat event out of the box. Tidak hanya untuk jurusan saja, tapi meluas sampai tingkat universitas. Skalanya pun berkembang. Mulai dari event wajib suruhan senior sampai project besar kampus dalam cakupan mulai se-Bandung hingga se-Indonesia. Lelah? Tidak. Saya sangat menikmatinya. Jauh dari mengharap pujian atau uang.. sebab ya memang ini passion saya. Semenjak itu berkawanlah saya dengan banyak sekali orang, sebab seringnya saya terlibat bekerja membuat event dengan berbagai macam organisasi kepanitiaan, himpunan, ataupun komunitas. Alhamdulillah Allah izinkan saya untuk menjadi seorang sosok atau figur yang cukup dikenal.

 

JATUHNYA FINANSIAL KELUARGA

Tahun 2010, tepatnya saat saya menjadi mahasiswi tingkat 2, keluarga saya ditimpa permasalahan finansial yang cukup besar. Papa mama mulai sangat kesulitan membiayai kehidupan keluarga, dimana saya tidak sendiri, tapi juga punya 2 orang adik laki-laki. Sampai suatu hari saya dihadapkan pada pilihan: lanjut kuliah atau berhenti. Setidaknya biaya kuliah saya bisa diberikan untuk sekolah adik-adik. Berat rasanya saat itu. Bagaimana tidak, semua itu terjadi di saat saya sedang melesat di kampus, merasakan sangat hidup dalam profesi mahasiswi, punya lahan kontribusi yang luas. Tapi di sisi lain, ada kesulitan yang tidak bisa saya sangkal. Saya tidak bisa egois, saya punya adik-adik yang masih harus sekolah.

Hari ke hari saya lewati tanpa mengambil keputusan apapun, hingga akhirnya saya tegas menyatakan “Saya harus tetap kuliah!” Bukan, bukan sebab gengsi ingin tetap menjadi mahasiswi, melainkan sebab rasa hati kuat sekali menyatakan bahwa kampuslah lahan kontribusi yang akan membesarkan saya demi menjadi pribadi yang lebih matang untuk industri inspirasi yang memang saya harapkan. Akhirnya dengan modal nekat, saya menerjunkan diri ke dunia bisnis agar bisa membiayai kuliah saya sendiri. Bermodalkan hutang 24 juta dari berbagai pihak, saya membangun bisnis pertama saya, kuliner berupa frozen yogurt bernama Freezy Breezy. Taraaa!! 2 bulan tutup. Ya, tutup. Jadi yang tadinya berniat menghasilkan uang tambahan dalam kondisi finansial yang jatuh, bukannya berhasil, malah menambah beban hutang puluhan juta. Orang tua tidak tau saya menanggung hutang sebanyak itu sebab saya tidak mau memberatkan. Saya tanggung sendiri. Rapuh saya di tahun 2010 itu. Usia 19 tahun, resign dari radio, murni sebagai mahasiswi, bisnis tutup, mau darimana lagi. Saya nyaris berhenti berusaha sebab putus asa luar biasa.

Selama 1 bulan setelah usaha pertama saya tutup, saya mendekatkan diri pada Allah. Sekarang saya bersyukur, dari berbagai macam pilihan yang tersedia, saya memilih berserah. Bukan lari dari masalah atau bahkan bunuh diri. Naudzubillah. Tak sedikitpun terlintas. Masih tertanam jelas di benak saya, doa yang berulang kali saya panjatkan pada Allah saat itu..

“Ya Rabb.. Engkaulah pemilik langit dan bumi, serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya. Galaksi bisa Kau goncangkan dengan mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Ya Rabb.. tapi pintaku tak sebesar itu. Pintaku sesederhana  bantu kuatkan aku menjalani semua ini, ya Rabb. Engkau Maha Tahu niat apa yang mendasariku melakukan semua ini. Bila ternyata hasilnya malah harus merugi, aku yakin ini hanya balutan anugerah dari-Mu yang masih tersembunyi. Aku yakin akan tiba saat dimana Engkau mengubah bentuk kesulitan ini menjadi sebuah anugerah. Aku hanya berharap Kau selalu bersamaku hingga waktu itu tiba. Aku percaya pada-Mu, ini memang sudah seharusnya terjadi, dan Engkau punya tujuan luar biasa hingga aku harus mengalaminya. Terimakasih Rabb.. Aamiin..”

Dengan izin-Nya, Allah berikan saya kekuatan untuk maju lagi di bidang bisnis. Bedanya, ini hanya bermodalkan uang sisa kerugian bisnis pertama yang tidak seberapa, bukan puluhan juta seperti bisnis pertama. Saya membuka bisnis kedua saya Almeera Yogurt di pinggir Jl.Pusdai, kaki lima, pakai meja 1 x 1 meter, saya yang jagain. Sederhana sekali. Tapi singkat cerita semua berubah secara perlahan. Ternyata disitulah titik balik perjuangan saya. Allah izinkan saya jatuh terlebih dahulu agar saya mampu menghargai arti dari kerja keras, memaknai perjuangan dengan lebih dalam. Lengkapnya tentang kisah bangkit saya di bidang bisnis silakan klik artikel saya yang diliput oleh http://www.myoyeah.com –> “Mencoba Lepas dari Belitan Hutang”

 

NEGATIVE JUDGEMENT DAN CEMOOHAN BERMUNCULAN

Ketika bisnis saya mulai melaju naik, maka saya semakin sibuk mengurusinya. Mulai dari menetapkan Standar Operational Procedure, membangun sistem, pola perekrutan pegawai, dll. Saya fokus sekali. Bukan karena harta semata, itu dangkal. Ini saya lakukan demi manfaat yang ingin saya kontribusikan pada keluarga. Saya sebagai anak pertama, meski perempuan, sungguh merasa sangat harus bertanggung jawab membantu orang tua menyelesaikan beban masalah finansial itu. Sejak kecil saya sudah dibiayai, dirawat, dibesarkan oleh kedua orang tua.. masa sudah dewasa saya tidak bisa bantu apa-apa. Jadi saya ridho lillahita’alla untuk fokus usaha.

Di titik yang sangat sibuk, saya mulai meminimalisir agenda-agenda yang tidak terlalu produktif seperti sepulang kuliah main ke kosan kawan, jalan-jalan, nongkrong, atau sekedar bertukar sapa via sms dengan teman-teman. Tidak disangka, mayoritas kawan hingga sahabat dekat di kampus terutama yang memiliki kepentingan tapi sulit sekali menemui saya, menjatuhkan judgement bahwa saya sudah dibutakan uang hingga tidak mau bergabung lagi bersama mereka pada acara nongkrong bersama dll. Setelah itu juga saya mulai kesulitan masuk kuliah tepat waktu karena berbagai urusan bisnis yang masih saya handle semuanya sendiri. Mulai lagi muncul isu, saya pembawa kesesatan, menyebarkan virus anti kuliah kalau udah banyak duit. Padahal saat itu saya masih berupaya dan penghasilan pun belum seberapa. Tapi alhamdulillahnya saat itu saya belum sadar saya jadi bahan omongan orang-orang.

Tepat memasuki semester 6 saya memutuskan untuk cuti kuliah agar bisnis saya struggle. Agar kelak bisa saya delegasikan kepengurusannya pada mama papa. Bekal hari tua mereka dan investasi bagi adik-adik saya, itu visinya. Seketika itu pula berita buruk menyeruak terutama di lingkungan kawan-kawan saya. Pilihan cuti saya seakan memperkuat negative judgement mereka bahwa saya sudah sangat jatuh cinta pada uang, pada harta. Saya baru sadar ketika banyak kawan nge-twit no mention membahas “Orang sukses malas kuliah, hati-hati virusnya menyebar, nanti pada diajak nggak kuliah.” dan kalimat-kalimat ekstrim lainnya yang lebih parah. Saya mulai penasaran hingga akhirnya saya stalking timeline twitter  kawan-kawan saya dan menemukan fakta bahwa yang sedang dibahas itu adalah saya. Hancur perasaan saya. Bukan lebay, tapi memang selama ini saya tidak pernah mendapatkan penolakan dari teman-teman yang saya miliki, selalu hidup penuh dukungan dan support, maka ketika saya dijatuhkan dalam isu negatif seperti tadi yang semakin meluas hingga ke beberapa angkatan kampus, saya sedih bukan main. Saya berjibaku demi keluarga kok malah dituduh ini dan itu. Sempat hati tidak terima dan ingin rasanya bilang pada semua orang apa yang sesungguhnya sedang saya perjuangkan hingga saya tampak sibuk dan tak ada waktu bersama kawan-kawan sampai dikata-katai sombong dan sok.  Tapi saya beruntung, Allah berikan saya kesibukan yang lebih lagi hingga saya tak punya waktu untuk mengurusi negative judgement yang beredar tentang saya di lingkungan kampus.

Hingga akhirnya, tanpa sadar.. kekesalan akan tuduhan dan isu buruk yang beredar tersebut menggerakan saya untuk mengubah emosi yang biasanya orang gunakan untuk marah-marah ini menjadi sebuah energi untuk saya bergerak ekstra demi memberikan pembuktian. Ketahuilah, orang-orang pada umumnya lebih percaya pada bukti daripada sekedar kata-kata. Jadi ya daripada saya cape menyangkal dan menjelaskan, lebih baik saya buktikan. Hehehe.

 

PEMBUKTIAN BESAR, ATAS IZIN ALLAH

Di tahun 2011, kampus saya, Universitas Pendidikan Indonesia memberikan saya penghargaan sebagai The Ambassador Business Edupreneur 2011. Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi terhadap mahasiswa berprestasi yang melakukan wirausaha tapi tetap sanggup mempertahankan IPK di atas 3.0. Hari itu hari yang cukup bersejarah bagi saya. Penobatan tersebut disaksikan oleh banyak sekali warga kampus, hingga rektor universitas. Bahagia luar biasa. Alhamdulillah meski tanpa kata, saya berhasil membuktikan hingga menenggelamkan isu buruk yang selama ini beredar. Perlahan satu per satu kawan mulai bersikap hangat kembali pada saya. Perlahan juga satu per satu dari mereka mengetahui kebenaran bahwa saya ini kelilipan duit itu tidak benar, sebab setiap saya diminta mengisi training entrepreneurship, saya selalu menceritakan kisah ini. Satu per satu pun meminta maaf pernah menuduh hingga membumbui kisahnya. Ternyata ini adalah ulah beberapa oknum yang memang tidak suka pada progress saya, hingga apapun yang saya lakukan selalu dibuat negatif. Tapi sungguh saya bersyukur, sebab detik di saat saya merasakan kehilangan support kawan-kawan adalah detik dimana saya menyadari bahwa cinta dan dukungan paling sejati datangnya dari Allah dan orang tua, hingga saya menjadi semakin dekat pada-Nya dan pada mereka.

Tapi masih saja ada celah. Sebab yang saya dapat dari kampus hanya penghargaan, oknum-oknum yang menjatuhkan saya masih dengan gencar menyebarkan berita negatif. “Alaaah.. cuma penghargaan doang. Bukan duit.” Allah beserta hamba-Nya yang sabar. Setelah mendapat penghargaan dari kampus, berbagai penghargaan lain datang bertubi-tubi. Saya mendapatkan support dana wirausaha dari Bank Mandiri sebesar 10 juta rupiah dalam ajang Perwira Mandiri. Kemudian saya terpilih menjadi mahasiswa wirausaha terbaik dengan hadiah 16 juta rupiah dalam ajang Program Mahasiswa Wirausaha. Lalu saya juga diterima menjadi bagian dari Djarum Beasiswa Plus sebagai mahasiswa berprestasi dengan beasiswa pendidikan 9 juta rupiah. Dan teruuuus bertubi-tubi. Saya mulai diliput oleh majalah, talkshow di radio, hingga mengisi acara di televisi untuk membahas perjalanan saya. Kali ini bungkamlah oknum-oknum yang menebar negative judgement tersebut. Bungkam total! Sungguh saya yakin Allah selalu membersamai hamba-hamba-Nya yang percaya. Oh iya, uang-uang tersebut saya gunakan untuk membayar semua hutang saya itu. Alhamdulillah LUNAS😀

 

STOP KATAKAN, MULAI BUKTIKAN🙂

Jangan pernah takut berjalan di atas bumi Allah jika pegangan kita memang hanya kepada Allah. Tak ada seorang pun yang sesungguhnya sanggup menggoyahkan kita bila kita yakin semua yang terjadi memiliki tujuan yang membaikkan dari Allah. Teruslah berjalan lurus dalam tujuanmu, apalagi dengan visi yang mulia. Gentar adalah wajar, tanda bahwa kita meyakini masih ada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan kita, yaitu kekuatan Allah SWT.

Bagi kawan-kawan yang ingin melesat, ingin tumbuh.. berarti harus siap juga untuk dicaci, dicemooh, dijatuhkan. Sunatullah. Pahamilah, ketika ada orang-orang yang hendak menjatuhkan kita, itu berarti kita sedang berada di atas mereka. Ketika ada orang-orang yang membicarakan kita di belakang, itu berarti kita sedang berada di depan mereka. Ya hanya memang terkadang kita mengambil sudut pandang yang negatif, sehingga esensi-esensi tadi tertutup oleh kekecewaan dan kesedihan. Bersiaplah maju, angkat ‘pestisida’ mu.. maka ketika para ‘hama’ tiba, semprotlah mereka. Psssssstttt.. Hehehe.

Dan ‘pestisida’ terampuh untuk membasmi ‘hama’ berupa orang-orang yang menghambat langkah maju kita adalah PEMBUKTIAN. Jangan lelahkan dirimu untuk melakukan penjelasan sia-sia. Cukup buktikan. Sebab 1 bukti saja, mampu melumpuhkan sejuta pernyataan.

3 thoughts on “Tumbuhlah Semakin Tinggi Meski Angin Semakin Keras Menerpa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s