Uncategorized

Seriuslah Mencintai yang Serius Kepadamu

“Pacaran berkali-kali dan berganti-ganti. Kisah cinta semu yang menawarkan janji, membuat terbang sampai ke langit diri. Luar biasa sekali, lelaki menawan hati, dalam cinta yang katanya sejati.” – Febrianti

Saya bukan wanita yang terlahir kemudian tumbuh dengan keshalihan konsisten. Saya besar dalam perjalanan menukik yang tidak disadari dan malah dinikmati. Serem ya, hehehe. Tapi sebelum pikirannya ekstrim kemana-mana.. silakan baca kisah hijrah saya “Silakan Tertawakan, Ini Prinsip Hidup KEBANGGAANKU”. Clear ya.. Saya ini muslimah yang hijrah. Bukan mbrojol langsung taat. Sekarang pun masih banyak sekali perbaikan diri yang saya lakukan untuk lebih dekat dan lebih dekat lagi pada Allah.

 

SAYA DAN PERJALANAN PACARAN

Bahasan yang berkaitan dengan pacaran selalu menarik ya. Apalagi based on true story. Hehehe. Saya ‘belajar’ cinta-cintaan sejak zaman SD. Efek sinetron Tersayang. Itu lho.. sinetron Anjasmara sama Jihan Fahira yang bikin booming topi pink sama biru yang ada tulisan Tersayangnya. Yang juga bikin booming bahwa romantis itu adalah menaruh jari telunjuk di bibir pasangan pada saat pasangan mau mulai bicara. Waduh, masing inget nih (geli sendiri)😀 Terekam dalam ingatan saya zaman SD itu saya *ehem* populer sekali. Akibatnya, menjamurlah para lelaki ingusan yang masih bau matahari mengirimi surat cinta ke kolong meja, ke dalam tas, atau dititipkan lewat teman. Surat cintanya lucu, ditulis pakai spidol warna-warni, dengan corak lambang love di setiap sudut kertas. Biar ada kesan ceria, tapi nggak ngaruh sih sebenernya hehe. Alhamdulillah meski begitu, saya tidak pacaran, cuma suka-sukaan. Serem juga kalau diingat. Kawan-kawan sebaya saya di SD itu ngajarin saya pegangan tangan, cium kening, cium pipi. Oke nggak lebih dari itu memang, tapi kebayang nggak.. level SD saja sudah begitu. Pacaran nggak bertujuan, cuma pelampiasan rasa suka atau parahnya akibat mengikuti arus modern pergaulan. Btw, saya lulus SD tahun 2003.

Keluar dari SD swasta dengan peraturan ketat, masuk ke SMP negeri dengan peraturan lebih leluasa. Fokus prestasi menurun, asa remaja menggelora. Rasa suka dan cinta membuncah. Naksir sana naksir sini. Setelah saya berkhianat pada ekskul Palang Merah Remaja, saya masuk ekskul cheerleaders. Ya, saya serius. Saya ini pernah lentur, guling-guling, loncat-loncat. Pernah lentur ya, p-e-r-n-a-h. Hehehe. Wah, jadi anak gaul deh itu. Karena ekskul cheers itulah saya pacaran pertama dengan kakak kelas yang setahun lebih tua, cukup populer di sekolah. Bangga. Tau berapa lama pacarannya? 2 minggu kawan-kawan. *tepuktangan*😀 Yang membuat kisah perdana saya ini mengesalkan yaitu saya adalah bahan taruhan. Kasarnya, yang bisa macarin saya dapet uang berapa gitu kalau nggak salah. Sedih tuh waktu itu. Tapi apa kapok? Nggak. Saya pacaran lagi dengan kawan beda sekolah, lalu putus, lalu pacaran lagi dengan kawan seangkatan beda kelas, lalu putus lagi. Kemudian saya fokus belajar baru menjelang lulus.

Masuk SMA pacaran dengan yang beda 5 tahun, sudah mahasiswa. Ini impian saya, berdampingan dengan yang lebih tua minimal 5 tahun di atas saya, dan terkabul. Sudah mulai serius pacarannya. Halah, tapi yang serius serius tuh harusnya nggak pacaran, jangan ditiru. Ini sharing aja. Siapa tau bisa jadi pedoman biar nggak ikut merasakan. Bangga bukan main tuh anak SMA pacaran sama mahasiswa. Diantar, dijemput, punya teman berbagi, berkeluh kesah dengan senang hati. Dangkal sekali. Dekat sama orang tua, diperkenalkan satu sama lain. Singkat cerita putus juga. Kapok? Masih belum. Saya mengembara lagi pacaran sama kawannya mantan saya tadi. Kali ini beda usia 7 tahun. Sudah lulus kuliah dan sudah bekerja di Jakarta, jadinya kami menjalani long distance relationship. Lebih dewasa dan lebih ngemong, tapi ya akhirnya putus juga. Kapok pacaran, saya malah menjalin hubungan tanpa status. Ade-kaka an. Duh geli juga ngingetnya.

Masuk kuliah perjalanan cinta saya belum berakhir. Semester 2 saya menjalin hubungan kembali dengan senior saya. Cukup populer karena humoris. Wah kali ini sudah sangat akrab dengan keluarganya. Akhirnya? Gugur juga. Belum kapok, saya malah jatuh hati pada sahabat sendiri, sebaya, sudah sejak masuk kuliah kemana-mana bareng meski tidak ada ikatan hati selain persahabatan. Dengan keyakinan bahwa selama sahabatan saja sudah lancar, pacaran dengannya pasti tak sulit. Apa iya? Salah besar. Saya malah diperlihatkan banyak hal mengejutkan yang tidak saya ketahui sebagai sahabat. Dan hal-hal tersebut menunjukkan ketidak baikkan. Putus lagi.

Begitulah my-love-life-cycle. So, yang bilang iri pada hidup saya sebab hidup saya kelihatan mulus, nanti dulu.. itu kulit luarnya. Saya pun menempuh waktu yang tidak sebentar untuk berkembang terus. Bahkan dalam proses berkembang pun seringkali saya jatuh lagi dan lagi. Yang membuatnya terlihat mulus-mulus saja adalah respon saya terhadap keadaan. Saya berpikir, bila intern kita sedang bermasalah, apa perlu kita tunjukkan pada eksternal kita bahwa kita bermasalah? No!! Itu tidak menyelesaikan masalah, malah bisa jadi semakin menambah masalah🙂

Lantas, kapan saya hijrah? Saya lupa kapan tepatnya. Tapi saya yakin ini terjadi setelah saya mengubah lingkungan saya. Silakan baca artikel “Silakan Tertawakan, Ini Prinsip Hidup KEBANGGAANKU” agar sejalan dengan kisah artikel ini. Perubahan lingkungan, merubah pola pikir saya juga. Benar adanya bahwa kendali diri itu ada di tangan kita sendiri. Tapi jika tidak sanggup, bisa jadi lingkunganlah starter nya. Saya didekatkan pada inner circle luar biasa berupa orang-orang positif yang pada saat itu sedang berjibaku membangun pondasi kokoh untuk penyebaran kebermanfaatan bagi anak muda. Sekarang sudah cukup besar dan terus berkembang, namanya Muda Mulia. Saya saksi juga saat pendiriannya dulu. Tak hanya positif, saya direkatkan oleh Allah pada para shalihin shalihat. Mereka mereka yang mengajarkan saya tanpa kata melainkan melalui apa yang mereka tunjukkan. Shalat yang tidak pernah tinggal, tilawah di setiap luang waktu, sedekah yang dirutinkan dll. Subhanallah. Lalu apa hubungannya dengan hijrah saya soal pacaran? Hehe.. simak ya..

 

ANUGERAH HIJRAH, MEMANTASKAN DIRI

Sejak pengubahan lingkungan, kapasitas diri saya terus di-upgrade secara kontinyu. Saya selalu berusaha men-charge diri saya melalui ta’lim, training, baca buku, googling, atau bahkan sekedar silaturahmi bertukar cerita. Awal 2012 tercetus pemikiran saya tentang jodoh. Ya, saya mulai berpikir serius mengenai pernikahan. Bukan, bukan serius seperti saat pacaran dulu. Ini serius betul-betul serius. Menikah karena Allah, karena ingin menggenapkan separuh ketaatan, mengutuhkan iman, sebab saya ingin segala ibadah dinilai penuh. Tabungan amal insyaAllah cepat penuh. Meski sekedar angan dan belum jelas siapa, saya mempersiapkan diri. Sebab saya percaya betul tafsir QS. An-Nuur: 26 atau dengan bahasa santainya “Jodoh adalah cerminan diri kita”, maka saya mulai me-listing kriteria jodoh yang saya harapkan. Apa saja kriterianya? Cukup saya saja yang tau ya hehe. Setelah rampung, saya perhatikan kriteria pendamping hidup yang saya impikan itu, kemudian saya analogikan, bila jodoh itu cermin, maka yang kita lihat di cermin adalah kita, oleh karena itu, saya lah yang harus memenuhi kriteria yang saya list itu terlebih dahulu. Maka saya mulai memantaskan diri di hadapan Allah, sebab Allah lah pemilik seluruh langit dan bumi, serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya. Ya sebab saya yakin pula jodoh saya masih berada di antara langit dan bumi, bukan di luar galaksi, saya pun mulai ikhtiar. Meski calonnya belum ada, saya mulai mempelajari ilmu-ilmu pernikahan. Meski saya perempuan, saya mulai mencakapkan diri memapankan finansial. semua saya lakukan sedini mungkin, sebab saya percaya.. orang yang cepat menggapai mimpinya adalah yang cepat memulai, bukan yang sekedar pintar atau berbakat saja. Saya curi start hehehe.

Singkat cerita, hampir 3 minggu yang lalu saya dipertemukan dengan seorang ikhwan dengan cara ajaib dari Allah. Saya menaikkan kapasitas diri, memantaskan diri, tapi tidak ngeuh bahwa hari itu akan hadir. Hari dimana Allah menggerakan jari guru kehidupan saya, Rendy Saputra, untuk ngetwit menggoda saya yang doyan banget kultwit. Kalau nggak salah ini bunyinya: “Pew, jangan twitteran mulu. Ayo nikah dong..” Iya nggak nyambung memang. Tapi inilah God’s Sign. Saya yang sebetulnya cukup kesal membaca twit yang mengesankan saya tidak ‘laku’ tersebut membalas dengan candaan juga “Ya sudah kak Rendy carikan lah calonnya, I trust to you”. Dor! 15 biodata ikhwan masuk via email dan saya pun kebingungan, “Ini harus diapain?” Kemudian saya membaca satu per satu biodata mereka namun ternyata, sampai biodata ke-15, hati saya nggak sreg dengan satu pun. Bukan karena latar belakang, keluarga, apalagi fisik, itu dangkal. Saya nggak sreg ya karena hati nggak sreg, sederhana. Sebab perempuan halal menerima dan menolak, maka saya menolak semuanya.

Sampai suatu ketika saya mendirikan komunitas Great Muslimah dan membuka gathering perdana, saya dipertemukan dengan seorang perempuan yang menangis di training saya waktu itu. Namanya Fera. Sebab dia terharu, senang mendapatkan lingkungan baik seperti Great Muslimah hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjilbab. Alhamdulillah. Allah lagi-lagi dengan piawai menggerakkan Fera membaca kicauan saya dengan Kak Rendy Saputra di twitter kemudian dia nge-twit.. “Ada temenku mau kirim cv (taaruf) dengan teh pepew” itulah kurang lebih. Singkat cerita saya terima email biodata ikhwan ke-16 tersebut dan kali ini hati saya cukup sreg, saya tertarik untuk lebih lanjut. Setelah menjalani proses pertemuan 2 kali dengan perantara kak Rangga Wibawa (masih satu inner circle dengan saya dan kak Rendy), kami memutuskan untuk melanjutkan proses lebih serius lagi. Ehm.. saya gemeteran waktu ngetik kisah ini. Saya pun sebetulnya masih belum percaya semua ini terjadi pada saya begitu tiba-tiba dan cepat. Tepat seperti yang saya harapkan di awal tahun. Dan hebatnya lagi Allah anugerahkan seorang ikhwan yang nyaris 100% sama dengan kriteria yang saya tuliskan sebagai pasangan hidup harapan saya. Terkadang saya melamun dan men-scroll favorite di twitter saya untuk mengulang kembali setiap inci 3 minggu yang saya jalani. Kok bisa kok bisa kok bisa? Tapi tak heran sebab tangan Allah yang bekerja, kapasitas tanpa batas, tak usah dipertanyakan. Beliau datang dengan apa adanya dan sangat santun. Saya justru luluh pada kekakuannya, pada gestur malu dan kikuknya yang alami, serta pada setiap bulir keringatnya yang menetes sebab grogi di pertemuan pertama kami. Kemantapan hati saya mengalir dari Allah. Bukan sebab latar belakang pendidikan ataupun profesinya saat ini atau bahkan gelar-gelar yang disandangnya. Saya tidak lumpuh logika layaknya orang jatuh cinta, sebab saya memang belum jatuh cinta pada beliau. Ya tentu saja belum, kami baru bertemu 2 kali saat itu. Saya hanya mengikuti kata hati dan mencoba memahami maksud yang sedang Allah tunjukkan dalam setiap detik yang saya amati dan nikmati di jalan yang Allah ridhoi.

Jadi hati saya mantap bukan sebab kelilipan cinta, tapi mantap karena Allah yang memantapkan. Beda ya. Subhanallah dengan izin-Nya, Allah kuatkan mental, tegapkan diri, mantapkan niat dari ikhwan tersebut untuk melangkahkan kaki ke rumah saya 10 Oktober 2012 kemarin. Beliau datang menemui papa saya yang didampingi juga oleh mama saya. Saya pun turut hadir, duduk di antara forum mendebarkan yang tidak saya sangka-sangka akan datang secepat itu. Dari sudut kiri mata saya terlihat jelas sosok ikhwan yang tadinya gugup menjadi sosok yang sangat pemberani. Setelah beliau menjelaskan siapa dirinya pada papa dan mama, beliau menyampaikan maksud kedatangannya. Dan tepat saat kalimat “Maksud kedatangan saya kemari adalah mau meminang putri om”.. seketika tubuh saya bergetar sampai ke hati. Luar biasa sulit bila digambarkan dengan kata. Nggak kebayang orang yang akad nikah apa rasanya, saya baru segini saja sudah merinding. Saya menikmati setiap detik proses syar’i yang kami jalani, meski tak jarang ada keheningan yang meliputi sebab masih gugup atau kehilangan topik. Wajar, justru itu serunya hehe.

Tanpa disangka kalimat yang meluncur dari papa adalah “Oke saya izinkan..” ditambah dengan deretan kalimat lain. Tapi yang tertanam kuat dalam benak saya adalah hanya kalimat tersebut. Sebab itu berarti kami diizinkan, ya diizinkan. Berarti bulan-bulan ke depan kami akan mulai mempersiapkan pernikahan. Subhanallah. Allah mudahkan prosesnya. Bahkan kak Rangga sebagai mediator pun kegirangan mendengar kabarnya. Saya diliputi rasa bahagia sekaligus bingung. Betulan nih saya sudah di-khitbah? Betulan nih saya sedang menjalankan proses menuju walimah yang Rasul contohkan? Betulan nih Rabb? Betulan? Begituuu terus. Sungguh mencengangkan dan membuat degup jantung terpompa tak teratur.

 

SANGAT BERSYUKUR🙂

Sungguh saya bersyukur. Ini adalah hadiah, anugerah dari Allah. Allah izinkan saya untuk melakukan titik balik dengan mempercayai-Nya, memantaskan diri pada-Nya demi kelengkapan hidup menuju ridho-Nya. Saya yakin siapapun tak akan paham mengenai apa yang sebetulnya sedang Allah rancang dan persiapkan untuk kita. Tugas kita hanyalah percaya bahwa apapun itu, itu pasti hal-hal yang membaikkan. Dan semuanya pastilah telah terencana dengan sangat matang bahkan untuk hal-hal terkecil sekalipun. Maka saya berprasangka baik pada Allah selalu untuk apapun hal yang terjadi dalam hidup saya termasuk kedatangan seseorang yang serius pada saya ini. Meski saya belum mengenal beliau, bahkan belum pernah berkawan sebelumnya, saya meyakini Allah telah mendesain pertemuan kami seperti ini. Saya serius akan mencintai yang serius kepada saya. Allah lah penggenggam hati manusia. Tak sulit bagi-Nya menumbuhkan rasa. Maka cinta pun dapat tumbuh. Apalagi cinta yang tumbuh dalam landasan Allah, atas izin Sang Pemilik Jagat Raya. InsyaAllah saya akan memegang komitmen menjalankan proses syar’i ini. Utamanya adalah karena Allah, kemudian karena memang pernyataan ter-gentle dari seorang lelaki telah terdengar di telinga saya. Bukan “I love you” melainkan “Izinkan aku memuliakanmu.” dan semua itu tidak disampaikan langsung pada saya, melainkan pada yang berhak atas saya, papa dan mama. Semoga kami diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mempersiapkan segalanya, aamiin.

“Seriuslah Mencintai yang Serius Kepadamu”

32 thoughts on “Seriuslah Mencintai yang Serius Kepadamu

  1. Selamat ya pew…
    ini pertama kalinya aku baca blog kamu, dan (karena keadaan, baru aja memutuskan buat sendiri-sendiri sama ‘pasangan temporary’) post ini yang langsung menarik perhatian😀

    Aku nangis pew, baca post ini :”’) (masih nangis waktu nulis post ini).
    Ya, daripada terus sedih dan menyesali yang udah-udah, lebih baik terus memantaskan diri.

    Thanks for give me such a big inspiration, pew🙂

    1. Dear Ai Widyasari.. menyesal itu baik lho sayang. Menyesal merupakan tanda bahwa kita ini masih manusia biasa. Justru sebab menyesal lah kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Berterimakasihlah pada setiap pengalaman pahit, sebab tanpanya.. mungkin kita tidak pernah sebersyukur ini menerima anugerah-anugerah dari Allah🙂

  2. Allahuakbar, selamat yaa, saya merinding bacanya, semoga lancar ya & mohon doanya semoga jalan menuju pernikahan saya 4november nanti di lancarkan Allah

  3. Sangat terharu, sy sendiri baru memutuskan hubungan yg udah 4th sy jalanin. Itu karena keseringan mantengin TLnya @tweetnikah . *akun paling ngomporin*.
    Semoga bisa kayak teteh,, Menemukan cinta dg cara yg indah..🙂

  4. saya pernah merasakan Allah swt mengatur smuanya untuk saya…. tapi untuk hal diluar masalah jodoh….. Itu saja sudah buat saya tak sanggup berkata apa2… Dan hanya ucapan syukur yang terus mengalir dr mulut saya…… Tak bisa dibayangkan ketika Allah mengatur jodoh saya….. Betapa besarnya Allah swt…. Betapa kecilnya kita….

    Selamat yah…. Semoga selalu didalam lindungan Allah SWT….. Aammiiin…..

  5. Assalamualaikum.

    Teh pepew, aku merinding bacanya.. Aku pgn sdikit share sm dirimu boleh ndak? Trnyata usia biologis g menentukan usia mental yah, u are so wise dear ukhti..🙂

    Aku kebetulan jg lg proses prsiapan walimah, tp ada yg mengganjal di hati.. Pgn share.. Huhuuww.. :3

  6. SUBHANALLAH,,,,, kisah yang sangat memotivasi,,,, aq mau gabung di forum ukhty gima yaa caranya???????? aq di jakarta barat kalideres,,,,
    ini no hp saya ukhty,,, 085777435667
    tolong bantu saya ukhty,,,,
    terimakasih ^_^

  7. Subhanallah.
    Merinding saya bacanya mbak.
    Memang benar firman Allah QS An Nur itu “Lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik, pun sebaliknya”
    Selamat ya mbak. Barakillahu

  8. Subhanallah bikin nangis…
    Mba pew, akhir2 ini sy sedang bimbang krn orgtua mantan sy dl menjodohkan sy dgn mantan sy dl. Sementara mantan sy itu sudah pny pcr. Saya waktu itu menolak krn sy tau dl masalalu pcr mantan sy yg prnh gagal menikah pdhl sudah lamaran/ditinggal cln suamix. Sy sbg perempuan ikut merasakan bgmn perasaan perempuan itu.
    Tetapi kedua ortu mantan sy ini tdk setuju dgn pcr mantan sy ini. Menurut mba pew, kptsn sy menolak lamaran ini slh atau tidak?

  9. alhamdulilah terimakah mba febrianti sangan bermanfaat,insyaallah belajar nyimak semua artikelnya.dari yg jadul sampe terupdate.hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s