Uncategorized

a Letter for My Future Husband

“PERNIKAHAN”

Ketika mendengar kata tersebut, pikiran masing-masing orang melambung ke tempat yang berbeda. Begitu pun dengan saya. Kata tersebut membawa saya pada sebuah harapan yang indah, pengutuhan keimanan manusia, dan salah satu sarana ibadah kepada Allah yang dinanti-nanti kehadirannya.

Berhubung calonnya belum ada (hehehe..) saya akan membuat sebuah surat. Dimana surat ini kelak akan menjadi saksi, saat Arsy Allah terguncang dalam ijab qabul yang sah.

A Letter for My Future Husband

Wahai pangeran Surgaku di masa depan.. Ketahuilah, aku ingin menemuimu di waktu yang tepat menurut-Nya. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak berlama-lama.

Ketika Allah menghantarkanmu dengan cara ajaib-Nya, akan kuanggukkan hatiku dalam diam. Itulah tanda setujuku atas keberanianmu. Bukan, bukan keberanianmu menyatakan cinta padaku. Melainkan keberanianmu nyatakan diri pada papaku, bahwa kau ingin memuliakanku..

Tapi maaf.. papaku cukup tegas. Aku harap kau punya mental untuk menghadapi beliau. Aku yakin detik-detik yang mengiringi langkahmu menuju rumahku pertama kali akan membuat jantungmu terpompa tak teratur. Tapi nikmatilah.. sebab itulah detik-detik yang aku ingin kau ceritakan pertama kali padaku seusai kata sah membahana dalam singgasana-Nya atas penyatuan kita.

Oh iya, mamaku baik sekali. Beliau pasti senang menemuimu yang berniat mulia. Tapi ingat.. jadilah dirimu sendiri, sebab mamaku memiliki feeling yang sangat kuat, pasti ketahuan. Jadilah apa adanya dirimu, dan izinkan beliau menilaimu dari hatinya yang paling tulus.

Aku akan dengan sabar menunggumu bercakap-cakap  dengan kedua orangtuaku. Dan mungkin aku akan sesekali mencuri pandang ke arahmu. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengabadikan moment penting itu dalam ingatanku. Meski hanya beberapa detik saja.

Bila izin papa sudah kau dapatkan, aku hanya bisa menggumamkan alhamdulillah dan bismillah. Sebab seketika itu khitbah telah jatuh. Dan aku tak dapat lagi didekati oleh siapapun. Setelah itu kita akan menjalani bulan-bulan mendebarkan yang jaraknya adalah dekat. Ketahuilah kegembiraan besar tengah meliputi diriku meski mungkin aku tidak mengekspresikannya.

Wahai pangeran surgaku di masa depan.. sungguh aku tak tau siapa dirimu, darimana asalmu, dan bagaimana kita bisa bertemu. Mungkin kita sudah kenal sebelumnya, atau bahkan tidak saling mengenal sama sekali. Aku hanya percaya keindahan skenario Allah. Semoga kita dipertemukan dalam jalan yang diridhoi-Nya.

Bila saat itu tiba. Saat dimana semua malaikat berkumpul menjadi saksi dari penyatuan kedua insan yang ingin mengutuhkan iman, aku harap kau hapal kalimat penting itu. Ya, ijab qabul. Penyerahan tanggung jawab atas diriku dari papaku kepada dirimu. Tegas dan lantanglah dalam pernyataannya, agar bisa menutupi degupan jantungku yang menyeruak.

Tepat saat kau berjabat dan ucapkan pernyataan, kau tengah mengguncang Arsy Allah. Betapa gagahnya dirimu, dan betapa aku diliputi haru. Setelah itu, izinkan salamku pada punggung tanganmu menjadi sentuhan pertama yang mengawali bahtera kita. Meneteskan air mata gembira dipadu peluk erat yang dirindu bersama kedua orangtua kita. Lalu mengamini setiap doa tulus yang terucap dari kerabat serta sahabat.

Aku akan menuntunmu menggiring waktu bernostalgia dalam kisah perjuanganmu melawan ketakutanmu, gugupmu, dalam setiap prosesnya. Dan izinkan aku memujimu. Tak terbayangkan betapa bahagianya saat kata cinta meluncur dalam kehalalan yang kita perjuangkan. Allah pun akan tersenyum bersama kita.

Merajut asa bersamamu. Menyusun langkah nyata dan berdiskusi denganmu. Kelak kapal rumah tangga ini akan kau nahkodai, dan aku akan selalu berusaha menjadi awak setiamu. Dikaruniai anak-anak yang shalih dan shalihah. Mengumpulkan setiap detik menjadi amal dan berkah, untuk hidup yang lebih kekal.

Sampai bertemu nanti, pangeran surgaku di masa depan..

Salamku..

Surat ini akan saya lisankan pertama kali di hadapan suami kelak. Kapan? Siapa orangnya? Suka-suka Allah.. saya percaya pada pilihan-Nya🙂

14 thoughts on “a Letter for My Future Husband

  1. siapakah pria paling beruntung tersebut?

    Wanita yang Amazing hanya pantas mendapatkan Pria Amazing…. smoga Ukhti Pepew diberikan Suami yang dapat membawa rumah tangganya menuju Rumah Tangga Ukhrawi yang penuh Cinta pada-Nya. Amien….

  2. almeera, keep posting ya. blog-nya masih sering di-update? saya pengen terus baca. inspiratif berat. salut sama semua semangatmu. saya meleleh sendiri baca isi blognya. you’re younger than me but more mature than me. sangat peka melihat semua kebaikan dan keberkahan di semua masalah hidup. sukaa. bener ni, usia ga menentukan kedewasaan, hihi. smoga Allah selalu menyertai langkah2mu, semoga persiapan pernikahannya dilancarkan😉 Aaamiin

  3. Cinta itu ajaib…. ya ajaib…. cinta itu adalah bagian rahim milik – Nya. Dia menghadirkan setiap pasangan jiwa dengan begitu ajaibnya pula, bahkan tak pernah kita menyangka bahwa pasangan jiwa kita sangat dekat sekali.

    Dia hantarkan cinta untuk membuka mata hamba-Nya bahwa sejatinya cinta yang indah adalah milik-Nya.

    Cinta tidak boleh menjadi hijab mahkluk untuk kembali pada-Nya, saat cinta menjadi hijab maka Dia akan mencerabut kebahagiaan rasa yang tengah dialami mahkluk untuk segera kembali dalam rengkuhan cinta-Nya.

    Salam Sukses Mulia (pinjam istilah kek Jamil)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s