Uncategorized

Berkerudung Belum Tentu Berjilbab

Seringkali kita muslimah rancu menyebutkan kerudung sebagai jilbab, atau jilbab sebagai kerudung. Padahal dalam Al Qur’an dijelaskan makna yang berbeda atas keduanya. Kerudung dan jilbab juga memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda.

Kerudung, dalam Al Qur’an disebut juga khimar. Ianya memiliki fungsi menutup aurat muslimah sampai dengan batas dadanya.

“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya), kevuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) …. agar kamu beruntung” QS. An-Nuur:31

Adapun jilbab, begitu sebutan dalam Al Qur’an, merupakan baju kurung atau jubah. Ianya memiliki fungsi menutup aurat muslimah sampai batas mata kaki. Jilbab itu terulur, tidak berpotongan, tidak tembus pandang, dan tidak menampakkan lekuk tubuh.

Dari hadits lain juga kita dapatkan bahwa karena syarat jilbab adalah menutupi sampai mata kaki, maka tidak mengapa bila sampai menyapu jalan. (Silakan amati penggunaan jilbab pada foto-foto berikut)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. Al-Ahzaab:59

Dan agar tak terlihat lekuk tubuh saat angin bertiup, atau karena sinar terik, hendaknya wanita juga kenakan mihnah. Mihnah adalah pakaian yang dipakai wanita di rumah, biasanya merupakan pelapis bagian dalam. Maka bila ia keluar rumah, jilbab ditutupkan atas mihnah. Contoh zaman sekarang itu seperti legging dan baju dalaman panjang yang ketat, tapi ini jadi dalaman, bukan outfit.

Yang terbaik adalah mengenakannya bersamaan, menjadikannya pelindung diri. Kerudung dipadu jilbab dengan dalaman mihnah. Betapa kita muslimah akan tampak ‘mahal’ sebab tak umbar aurat ke sembarang mata. Apabila belum cukup koleksi pakaian demikian, menyicil lah mulai dari sekarang. Tak perlu utamakan fashionnya, tapi utamakan yang sesuai fungsi terlebih dahulu.

“Rasul pun menjamin, bahkan (pahala mereka berlipat) 50 kali dari orang diantara kalian (sahabat)” – HR Abu Dawud

 

Ditulis di Bandung, 21 Agustus 2012

oleh Febrianti Almeera,

terinspirasi para kawan entertain yang sedang berupaya berhijab🙂

9 thoughts on “Berkerudung Belum Tentu Berjilbab

  1. Semangat terus pew, terus dakwahkan pentingnya berjilbab dan berkerudung dalam kehidupan muslimah sehari-hari.. saya yakin di era hiperkomoditi seperti ini, jilbab dan kerudung dapat menjadikan komoditi kembali kepada fungsinya. Fungsionalisasi Komoditi.

    1. Fungsionalisasi komoditi. Hehe ilmiah sekali bahasanya. InsyaAllah ini ladang amal luar biasa, menyentuh hati melalui bukti dan kisah nyata. Doakan saya sehat selalu agar bisa tunjukkan betapa inginnya saya bersama-sama dengan muslimah lainnya untuk semakin baik dan semakin baik lagi, aamiin.

  2. Semangat terus yah yg mau berhijab… Tak ada yg percuma jika selalu ada niat suci untuk selalu memperbaiki diri. Syukuri apa yg ada saat ini namun jangan ragu untuk mencoba atau memulai ke arah yg lebih baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s