Uncategorized

Resume Book: “THE PRESENT” writen by Spencer Johson, M.D.

Pernahkah kita berada pada satu titik dimana kekecewaan menyelimuti diri kita? Kehidupan tidak memuaskan, dan kita nyaris terjebak dalam rutinitas yang hampa. Kita berusaha mencari tahu apa yang salah tapi tidak kunjung menemukan jawabannya. Semua baik-baik saja tapi kehidupan terasa tidak nyaman, tidak ada gairah. Pernahkah?

Buku “The Present” karya Spencer Johnson, M.D. ini mungkin dapat mencerahkan hidup Anda.

 

“Present berarti hadiah atau sekarang.”

Alkisah hidup seorang bocah laki-laki. Dia berteman dengan seorang lelaki tua bijaksana. Suatu hari lelaki tua itu berkata, “Dari semua hadiah yang mungkin kau terima, kau akan menemukan satu hadiah yang paling berharga, sebut saja hadiah itu The Present.

“Mengapa hadiah itu begitu berharga?” tanya si bocah.

Lelaki tua tersebut menjelaskan, “Hadiah itu berharga karena saat kau menerimanya, kau akan merasa lebih baik dalam melakukan apa pun yang ingin kau lakukan.”

“Wow!!” bocah tersebut berdecak kagum meskipun tidak paham. “Aku harap suatu hari nanti ada yang memberikan The Present untukku, mungkin saat aku berulang tahun.” kemudian si bocah pergi bermain.

Lelaki tua itu pun tersenyum sambil memikirkan, berapa banyak ulang tahun yang akan dilalui sebelum si bocah menyadari nilai The Present. Bocah tersebut senang bermain di sekitar rumah si lelaki tua. Tampak senyuman di wajah bocah itu saat ia bermain, bahkan seringkali tawa yang terdengar. Sungguh anak yang menyenangkan. Pernah suatu hari lelaki tua itu memperhatikan si bocah yang sedang memotong rumput di halaman. Si bocah bersiul sambil bekerja. Bocah itu benar-benar menikmati apapun yang dilakukannya.

Waktu terus berlalu, bocah tersebut beranjak remaja. Ia menjadi semakin sering tidak puas. Ia mulai menginginkan lebih: lebih banyak teman, lebih banyak barang, lebih banyak kesenangan, dan lebih banyak hal lain yang membahagiakannya. Dalam ketidaksabarannya, ia kembali menemui lelaki tua untuk mempertanyakan The Present.

Ia bertanya, “Apakah The Present akan membuat saya lebih kaya?”

The Present bisa membawamu ke berbagai macam bentuk kekayaan. Namun nilainya tidak hanya diukur oleh emas dan uang saja. The Present lebih dari itu.”

Remaja itu  bingung.

Dalam hati, lelaki tua tersebut bergumam, “Siapapun sudah mengetahui apa sebenarnya hadiah itu. Siapapun sudah mengetahui dimana harus mencarinya. Bahkan siapapun sudah mengetahui bagaimana hadiah tersebut bisa membuatnya lebih bahagia dan lebih sukses. Dan siapapun mengetahuinya saat masih muda. Siapapun hanya melupakannya.”

Karena kehidupan mulai terasa tidak memuaskan, bocah yang sudah tumbuh menjadi remaja tersebut kerap kali memaksa lelaki tua itu untuk menjelaskan. Lelaki tua itu hanya bisa menjawab, “Saya sangat ingin membantumu, tapi saya tidak punya kekuatan seperti itu. Tidak ada yang bisa menemukan The Present untuk orang lain.”

Remaja tersebut tertegun, semakin bingung.

Dengan tenang, lelaki tua tersebut berkata, “Ketahuilah.. The Present adalah hadiah yang kau berikan pada dirimu sendiri.”

Waktu kembali berlalu. Kini remaja tersebut telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Ia bekerja di sebuah perusahaan lokal dan bagi sekelilingnya, ia bekerja cukup baik. Namun ia merasakan ada kehampaan. Pikirannya sering kemana-mana saat sedang rapat dan bahkan saar sedang berbicara dengan temannya. Ia mengetahui, ia telah berusaha, namun ia tidak merasakan apapun yang ia lakukan benar-benar berarti. Pemuda itu pun mendapati dirinya tidak bahagia. Berbagai persoalan hadir dalam kehidupannya dan ia mendapatkan kesulitan dalam mengatasinya. Kehidupan menjadi sulit dan semakin sulit.

Dalam pekerjaan, ia berharap dipromosikan. Ternyata justru orang lain yang mendapatkannya. Hubungan percintaannya pun tidak mulus. Ini membuatnya dilanda banyak kekhawatiran akan masa depan. Ia merasa dirinya terjebak dalam kegelapan. Kehidupan seakan dihuni oleh serangkaian kekalahan, proyek yang tidak terselesaikan, dan mimpi-mimpi yang tidak tercapai. Setiap hari ia diliputi kekecewaan dan ketidakpuasan atas apapun yang dilakukannya.

Ia teringat masa mudanya dan kembali menagih The Present kepada lelaki tua yang mengutarakannya. Melihat kondisi pemuda tersebut, lelaki tua itu segera mengetahui adanya ketidakbahagiaan. Setelah si pemuda menjelaskan segala permasalahan kehidupannya yang bahkan ia pun tidak memahami apa penyebabnya, pemuda tersebut terkejut. Ia terkejut karena tampaknya apa yang ia ceritakan tersebut tidak terlalu buruk bagi lelaki tua itu. Memang lelaki tua itu sangat menyenangkan dan selalu nampak bahagia. Setiap orang yang bersamanya akan tertular energi positif darinya. Pemuda tersebut pun heran melihat lelaki tua itu nampak sangat hidup dibandingkan dengan siapapun yang ia kenal dalam kehidupannya. Apa yang membuatnya begitu spesial?

Lelaki tua tersebut berkata, “Ini karena saya sudah menemukan The Present.”

“Saya berharap bisa segera menemukan The Present itu. Ya sesegera mungkin.” pemuda tersebut bertekad.

Lelaki tua itu tertawa dan berkata, “Cara menemukan The Present bagi dirimu sendiri adalah dengan memikirkan saat-saat kaku paling bahagia dan sukses.

Pemuda itu bertanya, “Sukses pun aku tak tahu bentuknya.”

Lelaki tua itu tersenyum, “Pengertian suksesmu hanya kamu yang bisa tentukan. Yang pasti, sukses adalah ketika seseorang mencapai apa yang ia targetkan. Target itulah yang kau harus buat, agar sukses menjadi jelas untukmu.”

Kali ini pikirannya mulai terbuka. “Lalu, beritahukan padaku dimana aku bisa menemukan The Present?”

Sebetulnya kau sudah tahu dimana menemukan The Present, hanya saja kau belum menyadarinya. Mengapa kau tidak menyempatkan keluar sebentar dari rutinitas hidupmu dan membiarkan jawabannya datang padamu.” jawab si lelaki tua.

Mengikuti saran lelaki tua, si pemuda menerima tawaran berlibur di pegunungan. Ketika si pemuda berjalan bermil-mil mengelilingi danau, ia merefleksikan apa yang diketahuinya tentang The Present.

“The Present adalah sebuah hadiah yang kau berikan untuk dirimu sendiri. Ia paling mengetahuinya saat muda. Ia hanya melupakannya.”

Namun ia kembali teringat akan kegagalan promosinya, hubunga percintaan yang tidak berhasil, dll. Dan itu menyita kembali kebahagiannya yang tidak kunjung pulih. Kemudian ia sadar, hari semakin gelap, dan ia pun kembali bergegas ke kabin. Dalam kabin, ia menyalakan api. Pertama kalinya saat itu ia memperhatikan tempat perapian besar. Ia baru menyadari, tempat perapian yang dibuat untuk sesuatu yang sepele (membakar kayu) itu dibuat dengan sangat apik. Terdapat batu besar dan batu kecil. Batu-batu itu berkilau, bukan asal batu. Mereka terpahat dengan sangat indah. “Siapapun yang membangun perapian ini lebih dari sekedar tukang batu. Ia adalah seorang seniman,” gumamnya.

Saat memperhatikan itu, ia menemukan dirinya menikmati proses mengagumi tersebut. Ia berpikir bagaimana perasaan tukang batu itu saat bekerja, pasti benar-benar fokus pada pekerjaannya. Jelas sekali karena hasilnya sangat bagus. Tidak mungkin ketika menghasilkan karya yang begitu baik, tukang batu tersebut melamun memikirkan kegagalan, ketidakbaikan dalam kehidupan, ataupun berbagai ketidakpuasan. Tukang batu tersebut pasti mengerjakannya dengan penuh gairah dan kesenangan. Pemuda tersebut dapat mengatakan bahwa jelas tukang batu tersebut telah sukses. Ia pasti telah berkonsentrasi hanya pada yang dikerjakannya, bukan hal lain.

Pemuda tersebut teringat pada perkataan si lelaki tua, “Untuk dapat menemukan The Present, pikirkanlah waktu pada saat kau merasa paling bahagia, paling sukses.” Pemuda tersebut pun teringat pada perbincangannya dengan lelaki tua tentang kegiatannya memotong rumput ketika ia masih bocah. Ia ingat bagaimana fokusnya ia memotong rumput dan tidak membiarkan apap pun mengganggunya.

“Pada saat kau benar-benar menyatu dengan apa yang kau lakukan, pikiranmu tidak akan melayang kemana-mana. Kau akan fokus dan kau akan menemukan dirimu lebih bahagia. Kau hanya akan memikirkan untuk melakukan yang terbaik di saat itu.”

Pemuda itupun menyadari. Ia tidak merasakan hal seperti itu dalam jangka waktu yang lama, misalnya saat bekerja dan saat melakukan hal lain. Ia menghabiskan waktunya terlalu lama untuk kecewa pada masa lalu dan khawatir akan masa depan. Ia memfokuskan dirinya pada kegagalan dan hal-hal negatif lainnya. Pemuda itu kembali memandang perapian batu. Ia menyadari pada saat ia mengamati perapian batu tersebut, ia tidak memikirkan masa lalu ataupun masa depan. Ia hanya menghargai waktunya saat itu dan apa yang dilakukannya. Kemudian ia tersenyum, ia sadar telah merasa nyaman. Ia menikmati apa yang dilakukannya dan ia menyukainya. Hatinya pun bergembira, ia menyadari dirinya telah menemukan The Present itu.

“Hadiah itu The Present, masa sekarang, saat ini. Bukan masa lalu ataupun masa depan, tapi saat ini.”

Spencer Johnson, M.D. merupakan salah satu penulis paling dihormati dan dicintai di dunia. Ia telah membantu jutaan orang menemukan bahwa mereka bisa lebih menikmati hidup melalui kebenaran yang sederhana namun mendalam, yang membawa menuju kesuksesan dimanapun tempat dan keadaannya. Buku terlaris karya Spencer Johnson lainnya adalah “Who Moved My Cheese?”. Karya-karyanya tersedia dalam 40 bahasa.

One thought on “Resume Book: “THE PRESENT” writen by Spencer Johson, M.D.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s