Dilatih Berlari dengan Beban

19 Jun

Suatu sore saya mendapatkan hikmah besar dari sebuah percakapan sederhana antara saya dengan seorang kawan yang merupakan mantan atlet basket. Dalam percakapan kami itu, dia bercerita tentang rangakaian proses latihan fisik yang pernah ia jalani sewaktu masih bermain basket. Salah satu bentuk latihannya itu adalah lari mengelilingi lapangan.

Di awal-awal latihan, para atlet diperintahkan untuk berlari mengelilingi lapangan beberapa kali putaran dengan masing-masing kaki diikatkan pada beban berupa lempengan besi yang berat. Dengan begitu, proses lari yang semula biasa jadi bertambah berat sebab adanya beban berupa lempengan besi tersebut.

Meski langkah menjadi semakin berat dan berdampak pada lebih cepat lelah dan menguras energi ekstra, para atlet tetap dipaksa untuk bertahan lari sampai jumlah putaran lapangan yang telah ditentukan berhasil ditempuh. Namun ternyata di awal latihan fisik tersebut, hanya beberapa atlet saja yang mampu menyelesaikan jumlah putaran lari dengan kaki terikat beban lempengan besi tadi. Selebihnya.. tak kuat kemudian menyerah.

Pada latihan fisik berikutnya, semua atlet diminta kembali berlari mengelilingi lapangan dengan jumlah putaran yang sama, tapi tanpa lempengan besi yang terikat di kaki seperti sebelumnya. Perbedaannya adalah kali ini setiap atlet akan diukur tingkat kecepatan larinya.

Mulailah semua atlet berlari secara serempak dengan komando terpusat. Ternyata, para atlet yang berhasil menyelesaikan putaran lari dengan beban pada latihan fisik sebelumnya, mampu berlari dengan jauh lebih cepat, melampaui atlet-atlet lain yang sempat menyerah sebelum target putaran tercapai sebab lelah, kesakitan, ataupun alasan-alasan lain sebagai pembenaran.

Mereka berkata, “Hari ini latihan larinya jadi terasa jauh lebih ringan sebab kemarin kami berhasil berlari dengan beban yang lebih berat.” Disinilah hikmahnya. Ya mungkin bagi kawan saya, ceritanya biasa saja. Sekedar cerita nostalgia saat-saat ia masih bermain basket. Tapi tidak bagi saya. Hikmahnya menarik sekali.

Episode kehidupan kita tak jarang menghantarkan kita pada masa-masa sulit. Tapi sesungguhnya setiap upaya kita, tidak ada yang sia-sia. Allah tidak pernah berkehendak untuk mendzalimi hamba-Nya. Kesulitan itu dihadirkan sebagai beban untuk mempersiapkan kita lebih kuat di kemudian hari dengan syarat.. kita harus kuat melewatinya saat ini. Ya, layaknya latihan lari dengan beban berupa lempengan besi tadi.

Maka bagi setiap diri yang sedang dilatih ‘berlari dengan beban’ di saat ini, bersyukurlah karena sebetulnya kita betul-betul sedang dipersiapkan untuk lebih mudah, lebih kuat, dan lebih tangguh menghadapi tantangan kehidupan di kemudian hari.

Kawan saya menutup kisahnya dengan berkata, “Feb, latihan fisik yang dialami para atlet itu juga kadar beratnya beda-beda, tergantung posisi dia di lapangan. Maksudnya, semakin penting dan berperan seorang pemain, semakin keras latihannya.” See.. hikmah berikutnya adalah besarnya ujian yang dihadirkan Allah dalam kehidupan kita itu setara dengan tingkat kapasitas diri kita. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri beban kehidupan besar, sebab itu berarti seukuran itulah kapasitas diri kita yang hendak Allah tingkatkan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 20.367 pengikut lainnya.